Memimpin Bukan Bermain Catur — Membangun Peradaban atau Menjadi Cerita Keruntuhan

- Editor

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:32

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bekasi/Tribuneindonesia.com

Memimpin sebuah bangsa bukanlah sekadar menggerakkan bidak di atas papan catur — di mana satu langkah diubah, bidak dipindah sesuka hati, lalu selesai. Memimpin adalah membangun peradaban bagi jutaan rakyat yang hidup, bernapas, dan menaruh harapan. Bukan permainan. Ini nasib manusia. Rabu 12 Agustus 2026

Seperti disampaikan pengamat sosial Rocky Gerung: “Seharusnya seorang pemimpin itu bukan membangun jalan tol, tapi membangun akal sehat.” Karena gedung dan jalan bisa dibangun siapa saja, tetapi manusia yang cerdas dan beradab hanya lahir dari pendidikan yang diperhatikan dan gurunya yang disejahterakan. Beliau juga memperingatkan: “Kedaulatan itu ada di tangan rakyat, bukan di tangan wakil-wakilnya. Kalau rakyat tidak diangkat, semua program hanya gerakan di tempat.”

Bila tidak ada perubahan yang nyata — yang terasa di meja makan, di ruang kelas, di jalan yang mulus, di rumah yang layak — maka semua kebijakan, semua janji, semua program hanyalah gerakan tanpa arah. Peradaban yang tidak menyentuh kehidupan rakyat, pada akhirnya hanya akan menjadi catatan: tentang bangsa yang bermimpi, tetapi tidak pernah sampai ke mana-mana.

Sejarah sudah berulang kali memperingatkan kita:

Banyak kerajaan besar di masa lalu yang runtuh bukan karena musuh yang kuat dari luar — mereka runtuh karena pemimpinnya tidak memahami di mana letak kekuatan sesungguhnya.

– Kerajaan Babilonia — kaya raya, temboknya tinggi, kebunnya indah. Tetapi rajanya sombong, lupa pada rakyat, membiarkan keadilan hilang dan pendidikan diabaikan. Dalam satu malam, kerajaan yang tak terkalahkan itu jatuh — karena fondasinya sudah lama lapuk dari dalam.
– Kekaisaran Romawi — wilayahnya luas, senjatanya hebat, hukumnya dikenal di mana-mana. Tetapi pemimpinnya semakin sibuk dengan kemewahan sendiri, melupakan yang di perbatasan, melupakan yang miskin, melupakan yang mendidik. Perlahan tapi pasti, kekuatan itu terkikis — sampai akhirnya tidak ada yang mampu lagi berdiri membelanya. Runtuhnya bukan karena senjata musuh, tetapi karena pemimpinnya tidak lagi memahami rakyatnya sendiri.
– Banyak peradaban kuno lain — dibangun tinggi-tinggi di atas kekayaan alam, tetapi tidak dibangun di atas kecerdasan dan kesejahteraan rakyatnya. Maka datanglah masa di mana alamnya tetap ada, tetapi bangsanya sudah tidak mampu lagi mengelolanya — dan nama mereka perlahan hilang dari peta sejarah.

Baca Juga:  Perkelahian Berdarah Senjata Tajam, Dua Warga Luka Bacokan Tetangga Sendiri

Inilah pelajaran paling mahal yang bisa diambil dari semua kisah itu:

Pemimpin yang baik tidak sibuk mempercantik wajah negara di atas kertas — ia sibuk memperkuat fondasi di bawahnya. Ia memastikan anak-anak mendapat pendidik yang sejahtera, jalan sampai ke desa paling jauh, dan setiap orang merasa: “negara ini memang milik saya.”

Bila tidak ada perubahan nyata, arah yang jelas, dan keputusan yang berani — maka yang terjadi sudah tertulis berulang kali dalam sejarah:
✅ Bangsa yang kaya menjadi bangsa yang tertinggal
✅ Bangsa yang luas menjadi bangsa yang terpecah
✅ Bangsa yang bermimpi menjadi bangsa yang hanya diceritakan kepada anak cucu sebagai kisah tentang apa yang pernah ada, tetapi tidak pernah diwujudkan

Masih ada waktu. Belum terlambat.

Tetapi harus dimulai dari hal yang paling dasar: bukan mengubah program setiap tahun, tetapi menetapkan prioritas yang tidak berubah-ubah. Sejahterakan pendidik, bangun yang terabaikan, pastikan keadilan sampai ke ujung negeri. Karena membangun peradaban itu sederhana — jika rakyatnya diangkat, jika gurunya dihormati, jika yang kecil diperhatikan — maka bangsa itu akan berdiri tegak tanpa perlu diancam, tanpa perlu dipaksa.

Dan sebaliknya: jika hanya bermain catur, memindahkan program, mengubah rencana, tanpa pernah menyentuh yang paling mendasar — maka jangan heran. Sejarah tidak pernah salah. Ia hanya mencatat apa yang terjadi.

Berita Terkait

Peradaban Bangsa Akan Bersih dan Maju Jika Dimulai dari Indonesia Timur
Jack Ma: Seorang Guru yang Membuktikan — Bukan dengan Buku, Tapi dengan Karya
Sekolah Itu Fondasi: Di Situlah Identitas dan Masa Depan Bangsa Dibentuk
Perampasan Aset Koruptor: Antara Ketakutan Pemegang Kuasa dan Keadilan bagi Rakyat
Pemimpin Itu Melayani, Bukan Dilayani
Kekerasan Tidak Pernah Menjadi Jalan Penyelesaian Sesungguhnya
Menghargai Guru: Kunci Mutlak Lahirnya Generasi Emas
Kerusakan Moral Generasi dan Bahaya Demi Mengejar Ketenaran
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:21

P3-TGAI Rp195 Juta Kuning II Disorot, Disebut Aspirasi Dewan PKB

Rabu, 12 Agustus 2026 - 06:18

Satgas TMMD ke-129 Tebar Lele dan Isi Kandang Ayam Petelur di Lima Lokasi RTLH

Rabu, 12 Agustus 2026 - 06:09

Kapolres Bireuen Terima Penghargaan sebagai Inisiator Penggerak Literasi Digital Kamtibmas Tahun 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 - 04:56

LSM KPK RI Desak Audit P3-TGAI Kuning II: Rp195 Juta Uang Negara, Jangan Dikerjakan Asal Jadi

Rabu, 12 Agustus 2026 - 04:09

LSM KPK RI Desak P3-TGAI Kuning II Diaudit: “Jangan Main-Main dengan Uang Negara!”

Rabu, 12 Agustus 2026 - 02:41

Keamanan Digaji Layak, Pendidikan Disuruh Berjuang — Itu Bukan Kebijakan, Itu Ketidaksadaran yang Fatal

Rabu, 12 Agustus 2026 - 02:39

Dewan Diberi Segalanya, Guru Diabaikan — Di Mana Letak Kemajuan Bangsa?

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:50

Sambut HUT RI ke-81, TP-PKK Kecamatan Jangka Gelar Senam Bersama dan Lomba Voli Gembira

Berita Terbaru