DI BALIK KEKAYAAN SUMBER DAYA ALAM: PARADOKS KETERTINGGALAN DAN KETIMPANGAN KEADILAN EKOLOGIS DI DAERAH PERIFERI

- Editor

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:36

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

BEKASI/ Tribuneindonesia.com

Indonesia bagaikan sebuah negeri yang dikaruniai surga kekayaan alam yang tak terhitung nilainya. Dari rimba Kalimantan yang luas, perut bumi Papua yang kaya logam mulia, hingga potensi energi strategis di Blok Masela, Maluku—setiap jengkal tanahnya menyimpan harapan kemakmuran. Namun, di balik kemegahan potensi tersebut, terselip ironi sejarah yang terus berulang: daerah pemilik sumber daya alam justru kerap menjadi wilayah yang paling tertinggal, sementara keuntungan ekonomi mengalir deras menuju pusat-pusat kekuasaan dan modal.

Pola Ekstraksi yang Mengabaikan Keadilan
Fenomena ini menegaskan adanya ketimpangan struktural dalam tata kelola sumber daya alam nasional. Selama berdekade, pola pembangunan ekonomi nasional cenderung berorientasi pada ekstraksi bahan mentah untuk dialirkan ke pulau Jawa maupun diekspor ke luar negeri. Akibatnya, daerah penghasil—seperti yang terjadi di Kalimantan dan Papua—hanya menerima porsi bagi hasil yang sangat kecil, jauh dari sebanding dengan nilai ekonomi yang dikuras dari wilayah mereka.

Lebih ironis lagi, beban terberat dari aktivitas industri tersebut ditanggung sepenuhnya oleh ekosistem dan masyarakat lokal. Kerusakan hutan, pencemaran aliran sungai, degradasi tanah, hingga hilangnya kearifan lokal dan ruang hidup masyarakat adat menjadi harga yang mahal namun sering kali tidak diimbangi dengan pemulihan lingkungan yang memadai maupun peningkatan kesejahteraan yang nyata. Keuntungan ekonomi bersifat jangka pendek dan berpindah tempat, sementara luka ekologis dan kemiskinan struktural tertinggal menetap di sana.

Kekhawatiran Terulangnya Sejarah di Blok Masela
Pola yang sama kini mulai mengemuka sebagai kekhawatiran serius di hadapan pengembangan strategis Blok Masela di Maluku. Potensi energi yang dimiliki wilayah ini seharusnya menjadi tonggak transformasi ekonomi yang mengangkat derajat masyarakat Maluku dan kawasan Indonesia Timur. Namun, tanpa kerangka kebijakan yang melindungi kepentingan daerah secara fundamental, kekhawatiran publik sangat beralasan: apakah Blok Masela hanya akan menjadi babak baru pengurasan kekayaan alam yang hasilnya dinikmati di tempat lain, sementara wilayahnya kembali menanggung risiko kerusakan lingkungan tanpa kemajuan infrastruktur yang merata?

Baca Juga:  Polres Pidie Jaya Gelar Rakor Lintas Sektoral,Amankan Pilchiksung 2025 di 81 Gampong

Kritik ini menegaskan bahwa model pembangunan yang hanya berorientasi pada profitabilitas nasional atau global tanpa menanamkan nilai tambah di wilayah asal—melalui pengolahan lokal, pemberdayaan tenaga kerja daerah, dan alokasi dana pemulihan lingkungan yang adil—adalah sebuah ketidakadilan sejarah.

Menuju Tata Kelola yang Berkeadilan
Kekayaan alam adalah amanah lintas generasi, bukan sekadar komoditas untuk dieksploitasi habis-habisan. Sudah saatnya paradigma ini diubah secara fundamental: mengutamakan hilirisasi industri di daerah, memperkuat kedaulatan daerah dalam pengelolaan sumber daya, serta memastikan bahwa setiap rupiah yang dihasilkan dari tanah mereka kembali untuk membangun sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur yang layak.

Selama kebijakan pusat masih lebih memprioritaskan aliran kekayaan masuk ke pusat daripada kesejahteraan wilayah asal, maka paradoks kaya namun miskin akan terus menjadi noda dalam perjalanan pembangunan bangsa ini. Keadilan ekologis dan keadilan ekonomi bukan sekadar tuntutan moral, melainkan syarat mutlak bagi keutuhan dan keberlanjutan bangsa Indonesia yang utuh dan berdaulat.

⚠️ DISCLAIMER
Tulisan ini adalah pandangan dan analisis pribadi, tidak mewakili lembaga mana pun. Segala diskusi diharapkan berlangsung secara objektif dan bertanggung jawab.

Berita Terkait

Pemkab Aceh Selatan Percepat Pengusulan Sembilan Wilayah Pertambangan Rakyat Untuk Kepastian Hukum Masyarakat
Wakil Bupati Bireuen Buka Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Kabupaten Bireuen
Tak Sekadar Memantau, Polsek Darul Hasanah Dampingi Warga Melintasi Jalur Darurat
Babinsa Posramil Peulimbang Bantu Petani Cabut Bibit Padi, Dukung Percepatan Musim Tanam
Tak Sekadar Bangun Rumah, Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0102/Pidie Hadirkan Kolam Lele untuk Kemandirian Pangan Masyarakat
Minta Transparansi Dana BOS di SDN 2 Biak Muli, LKGSAI Cium Ketidaksesuaian Data dan Honor Non-ASN
Baru Selesai Dikerjakan Proyek Pokir DPRK Kembali Amblas
Operasi Siber Polda Jabar Berhasil Ungkap Jaringan Judi Online Berkedok Hiburan Digital
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:19

​Pelindo Bitung Tekan Potensi Gangguan Kamtibmas Lewat Koordinasi Strategis Bersama Polres

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:18

Jejak Kerikil di Balik Kaca Pecah

Senin, 20 Juli 2026 - 05:31

​Peringati Hari Koperasi ke-79, Wali Kota Hengky Honandar Dorong Modernisasi Ekonomi di Bitung

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:17

Kilau Benang Emas di Panggung PRSU

Minggu, 19 Juli 2026 - 09:47

Penghormatan Terakhir untuk Khairul Arzani

Minggu, 19 Juli 2026 - 04:21

​Wujud Kepedulian Nyata, Begini Momen Hangat Wali Kota Bitung Saat Membaur di Rumah Duka Warga

Minggu, 19 Juli 2026 - 00:47

Jumat, 17 Juli 2026 - 15:11

Panen Padi, Jawaban Cepat untuk Sawah Ramunia

Berita Terbaru