Bitung | Tribuneindonesia.com – Peringatan Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada Senin (29/06/26) menjadi momen refleksi mendalam bagi jajaran aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Bitung.
Bertindak sebagai pembina apel, Wali Kota Bitung Hengky Honandar, SE, memanfaatkan momentum tersebut untuk memberikan wejangan krusial mengenai esensi pembinaan keluarga harmonis.
Secara khusus, ia menyoroti urgensi repolitisasi peran ayah yang dinilai kian tergerus oleh dinamika zaman.
Suasana khidmat menyelimuti lapangan upacara saat orang nomor satu di Bitung itu membacakan sambutannya.
Tidak sedikit dari para peserta apel, khususnya kaum ayah, yang tampak tertunduk dan merenungi setiap poin penyataan yang disampaikan.
Wali Kota menegaskan bahwa fondasi sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas hubungan di dalam rumah tangga.
Dalam salah satu poin krusialnya, Hengky mengingatkan dampak buruk dari ketergantungan pada teknologi digital di lingkungan domestik.
Ia meminta para kepala keluarga untuk memulai perubahan dari langkah terkecil, seperti menjauhkan layar telepon pintar saat sedang berkumpul.
“Jangan biarkan meja makan sunyi karena semua sibuk menatap layar. Wahai para ayah, letakkan gawai Anda di rumah, peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog,”
ujarnya tegas.
Lebih lanjut, ia mengimbau para orang tua untuk lebih ketat membatasi waktu penggunaan gawai pada anak dan mengalihkan energi mereka ke aktivitas yang lebih produktif.
Hengky menekankan bahwa peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tidak akan pernah tercapai secara optimal jika tanggung jawab pengasuhan dibebankan sepihak.
Menurutnya, mustahil mewujudkan SDM unggul jika beban pengasuhan anak hanya diletakkan di pundak seorang ibu.
Fenomena maraknya fatherless country atau kondisi negara yang kehilangan figur ayah juga menjadi perhatian serius dalam amanat tersebut.
Wali Kota Bitung menggarisbawahi bahwa kehadiran seorang ayah tidak boleh hanya sebatas fisik atau pemenuh kebutuhan finansial belaka. Lebih dari itu, keterlibatan secara psikologis dan emosional dalam tumbuh kembang anak adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar.
Hengky memaparkan bahwa ketahanan keluarga merupakan benteng pertahanan terbaik dalam menghadapi berbagai ancaman sosial modern.
Rumah harus ditransformasikan menjadi tempat yang paling aman dan selalu dirindukan oleh anak-anak. Melalui magnet kehangatan keluarga yang tercipta di dalam rumah, anak-anak diyakini akan selalu ditarik untuk pulang dan tetap berjalan di jalur yang benar.
Menutup arahannya, Wali Kota Bitung menyampaikan sebuah filosofi mendalam mengenai kedudukan keluarga dalam struktur kenegaraan.
Ia menyatakan bahwa keluarga bukanlah sekadar unit terkecil dalam tatanan masyarakat.
Sebaliknya, keluarga adalah hulu dari segala kebijakan pembangunan serta menjadi faktor utama penentu arah dan tujuan nasional sebuah bangsa. (kiti)















