Jakarta|Tribuneindonesia.com
Dalam momentum peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh setiap 3 Mei, atau dikenal secara global sebagai World Press Freedom Day yang ditetapkan oleh United Nations, tokoh pemerhati sosial dan pendidikan, Arief Martha Rahadyan, menyampaikan pandangan mengenai posisi strategis pers dalam menjaga kualitas demokrasi di era disrupsi informasi.
Di tengah derasnya arus manipulasi informasi dan polarisasi publik.Pers hari ini tidak hanya berhadapan dengan kekuasaan, tetapi juga dengan algoritma, kepentingan ekonomi digital, serta fragmentasi kebenaran. Di sinilah integritas jurnalisme diuji,apakah tetap berdiri sebagai penjaga nalar publik, atau larut dalam arus sensasionalisme yang dangkal,” ujar Arief.
Kebebasan pers harus berjalan beriringan dengan kedewasaan publik dalam mengonsumsi informasi. Tanpa literasi yang memadai, kebebasan justru berpotensi melahirkan kekacauan epistemik,di mana batas antara fakta dan opini menjadi kabur.
Arief juga memperkenalkan gagasan “kedaulatan informasi” sebagai konsep baru dalam ekosistem media modern. Menurutnya, bangsa berdaulat adalah yang mampu mengelola arus informasi secara cerdas, kritis, dan berkeadaban.
Kita perlu melampaui sekadar kebebasan pers menuju kualitas pers. Pers yang tidak hanya bebas, tetapi juga berdaya, berintegritas, dan memiliki orientasi kebangsaan. Sebab kebebasan tanpa arah hanya akan melahirkan kebisingan, bukan pencerahan,” tambahnya.
Arief juga meminta pentingnya perlindungan terhadap jurnalis, terutama di daerah-daerah yang masih rentan terhadap tekanan dan intimidasi. Ia menilai bahwa negara, masyarakat sipil, dan pelaku industri media harus membangun ekosistem yang menjamin keamanan sekaligus independensi kerja jurnalistik.
Arief Martha Rahadyan mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan momentum ini sebagai evaluasi kolektif terhadap arah dan masa depan pers.Pers harus menjadi suara jernih yang memandu akal sehat publik. Karena masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa, tetapi oleh siapa yang menguasai kebenaran,” pungkasnya.

















