Aceh Tamiang | TribuneIndonesia.com — Sejumlah desa di wilayah Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, dijadwalkan melaksanakan pemilihan Datok Penghulu pada 14–15 Februari 2026. Tahapan pemilihan telah memasuki masa akhir sosialisasi kandidat, dengan panitia desa mulai mematangkan persiapan teknis pelaksanaan pemungutan suara.
Kecamatan berperan sebagai saksi dan fasilitator pelaksanaan, sementara dinamika utama justru terjadi di tingkat desa. Antusiasme masyarakat terlihat meningkat, ditandai dengan berbagai diskusi informal di ruang publik seperti warung kopi dan pertemuan warga.
Dalam perbincangan sehari-hari, isu yang beredar di tengah masyarakat tidak hanya menyangkut visi dan misi calon, tetapi juga praktik-praktik nonformal yang kerap muncul menjelang hari pemungutan suara. Sejumlah tokoh masyarakat mengingatkan agar warga tetap menjaga kualitas demokrasi desa dan tidak terjebak pada pertimbangan jangka pendek.
Pengamat tata kelola desa di wilayah tersebut menilai, jabatan Datok Penghulu saat ini menuntut kapasitas yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Dengan regulasi keuangan desa yang semakin ketat dan mekanisme pengawasan berlapis, kepala desa dituntut memiliki kemampuan administrasi, pemahaman regulasi, serta ketahanan dalam pengelolaan program.
“Tantangan Datok Penghulu ke depan bukan hanya pelayanan dasar, tetapi juga perencanaan pembangunan, pengelolaan anggaran, pelaporan, dan kesiapan menghadapi audit. Kapasitas manajerial dan pemahaman aturan menjadi kunci,” ujar salah satu pendamping desa setempat.
Disebutkan pula bahwa ruang fiskal dana desa pada 2026 tidak selonggar tahun-tahun awal program tersebut berjalan. Karena itu, strategi pembangunan dan ketepatan perencanaan dinilai lebih menentukan dibanding pendekatan populis berbasis pembagian bantuan sesaat.
Sejumlah tokoh masyarakat juga mengingatkan agar warga tidak hanya terpikat pada janji-janji pemberian bantuan pribadi atau program instan. Menurut mereka, desa lebih membutuhkan pemimpin yang mampu membangun sistem dan tata kelola yang berkelanjutan.
“Memberi bantuan bisa selesai dalam sehari, tetapi membangun sistem administrasi dan pembangunan desa butuh waktu bertahun-tahun. Pilihan warga akan menentukan arah enam tahun ke depan,” kata seorang tokoh pemuda Manyak Payed.
Panitia pemilihan di beberapa desa turut mengimbau masyarakat menggunakan hak pilih secara mandiri dan rahasia di bilik suara, serta mengedepankan penilaian terhadap rekam jejak, kemampuan, dan integritas calon.
Pemilihan Datok Penghulu periode ini diharapkan dapat menghasilkan pemimpin desa yang adaptif terhadap regulasi, transparan dalam pengelolaan anggaran, serta mampu mendorong kemajuan desa secara terukur di tengah keterbatasan sumber daya. (Zs)











