​KPK Bongkar Skandal Jalur Merah Bea Cukai, Direktur P2 dan Lima Orang Ditetapkan Tersangka

- Editor

Senin, 9 Februari 2026 - 12:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta | TribuneIndonesia.com

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi importasi barang di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Senin (9/02/26).

Operasi tangkap tangan (OTT) ini menyeret nama besar, yakni RZL yang menjabat sebagai Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) Ditjen Bea Cukai periode 2024–2026, sebagai salah satu aktor utama dalam skandal tersebut.

​Penyidik lembaga antirasuah bergerak cepat dengan menahan lima dari enam tersangka untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut.

Selain RZL, pihak yang ditahan mencakup pejabat internal seperti SIS (Kasubdit Intelijen P2) dan ORL (Kasi Intelijen), serta pihak swasta dari PT BR berinisial AND (Ketua Tim Dokumen) dan DK (Manager Operasional).

Sementara itu, pemilik PT BR berinisial JF telah lebih dulu dijebloskan ke tahanan pada 7 Februari 2026.

​Praktik rasuah ini diduga bermula dari sebuah pemufakatan jahat yang dirancang pada Oktober 2025.

Para tersangka disinyalir mengatur siasat agar barang-barang impor milik PT BR dapat masuk ke wilayah Indonesia tanpa melalui prosedur pengawasan yang ketat.

Manipulasi ini menyasar sistem klasifikasi pemeriksaan barang yang seharusnya menjadi filter utama di pintu masuk negara.

​Dalam menjalankan modusnya, tersangka ORL diduga memberikan instruksi khusus kepada stafnya untuk melakukan rekayasa parameter pada sistem “Jalur Merah”.

Mereka menyusun rule set pada angka 70 persen, yang kemudian dikirimkan ke Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai untuk dimasukkan ke dalam mesin pemeriksa barang agar pengondisian tersebut berjalan otomatis secara sistemik.

Dampak dari pengondisian parameter tersebut sangat fatal terhadap keamanan perdagangan.

Barang-barang milik PT BR yang diduga ilegal, palsu, maupun produk berkualitas rendah (KW) berhasil melenggang masuk ke pasar domestik tanpa melalui pemeriksaan fisik.

Hal ini secara langsung meniadakan fungsi pengawasan petugas Bea Cukai yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi kepentingan nasional.

Baca Juga:  Post-Flood Aceh: Recovery Challenges and Scrutiny of BPBA’s Performance

​Sebagai imbalan atas akses “jalur khusus” tersebut, pihak PT BR diduga menyetorkan sejumlah uang secara rutin setiap bulan kepada para pejabat di Ditjen Bea Cukai.

Uang tersebut dianggap sebagai “jatah” atas jasa meloloskan barang impor tanpa kendala prosedur, yang secara sistematis telah merusak ekosistem ekonomi dan merugikan pelaku usaha yang taat aturan.

​Dalam serangkaian penggeledahan dan operasi senyap, tim penyidik KPK berhasil menyita barang bukti dengan nilai fantastis mencapai Rp40,5 miliar.

Barang bukti tersebut ditemukan di berbagai lokasi, termasuk sebuah rumah aman (safe house) yang sengaja digunakan para tersangka sebagai gudang penyimpanan uang tunai dan logam mulia hasil kejahatan.

​Rincian aset yang disita meliputi mata uang asing dan domestik yang beragam, di antaranya uang tunai Rp1,89 miliar, USD 182.900, SGD 1,48 juta, serta JPY 550.000.

Selain itu, penyidik juga mengamankan logam mulia dengan total berat 5,3 kilogram yang ditaksir bernilai lebih dari Rp15 miliar, serta satu unit jam tangan mewah seharga ratusan juta rupiah.

​KPK menegaskan bahwa manipulasi prosedur impor ini merupakan pengkhianatan terhadap kepercayaan publik dan integritas institusi negara.

Penindakan tegas di sektor kepabeanan ini diharapkan menjadi momentum bagi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk melakukan pembenahan total terhadap tata kelola pengawasan barang lintas batas guna memastikan penerimaan negara tidak bocor.

​Langkah hukum tersebut diambil sebagai bentuk komitmen dalam mendukung peningkatan pendapatan negara secara berkelanjutan.

Melalui proses penyidikan yang transparan, KPK berupaya memulihkan ekosistem ekonomi yang sehat dan memberikan efek jera bagi oknum pejabat yang menyalahgunakan kewenangan demi kepentingan kelompok dan pribadi. (*-Talia)

Berita Terkait

Gubernur Akmil Mayjen TNI Rano Tilaar Sambut Peserta Retreat KPPD 2026
​Alfred Salindeho Nakhodai DPC Senior GMKI Bitung Periode 2026–2029
‎Bidik Potensi Investasi, Politisi Bitung Bung RL Boyong Investor Tiongkok dan Singapura ke Batu Putih ‎
DPKP dan Lintas Sektor menggelar gotong-royong bersihkan sampah ditepi pantai objek wisata Kuala
​Tragedi Berdarah di Kasawari: Pemuda 23 Tahun di Aertembaga Diduga Aniaya Ibu Hingga Tewas
​Bitung Siap Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 dan Program Kelurahan SiCantik
Bupati Bireuen Temui Menteri ATR/BPN Tuntaskan Peraturan RTRW Bireuen
HRD Dijamu Safaruddin di Pendopo Bupati Abdya
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 07:14

Polresta Denpasar Amankan Aksi Damai Forkom SSB, Ratusan Truk Sampah Bergerak Tertib

Kamis, 16 April 2026 - 04:23

Polda Bali Kerahkan 1.595 Personel Gabungan Amankan Event Internasional Kemala Run 2026

Rabu, 15 April 2026 - 05:10

Perkokoh Sinergi dengan Rakyat, Satrol Kodaeral VIII Bedah Rumah Nelayan Melalui Gotong Royong

Selasa, 14 April 2026 - 09:46

Babinsa Gianyar Turun Tangan di Posyandu, Jaga Generasi Sehat dari Balita hingga Lansia

Selasa, 14 April 2026 - 08:55

Polda Bali Ungkap Dua Kasus Peredaran Narkotika Libatkan WNA Senilai 19,8 M

Selasa, 14 April 2026 - 01:14

Kapolresta Denpasar Tinjau Kesiapan Event Internasional Day Zero Bali di GWK

Senin, 13 April 2026 - 11:30

Pangdam IX/Udayana Pimpin Sertijab Pejabat Utama dan Beri Penghargaan Prajurit Juara MHQ Internasional

Senin, 13 April 2026 - 11:25

Kapendam IX/Udayana Sampaikan Keterangan Pers Terkait Kecelakaan Lalu Lintas Libatkan TNI dan Warga Sipil

Berita Terbaru