Balita DBD Diabaikan di Puskesmas Batang Kuis

- Editor

Rabu, 7 Januari 2026 - 03:20

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BATANGKUIS I TribuneIndonesia. Com-Kepercayaan publik terhadap pelayanan kesehatan kembali dipertanyakan. Seorang balita berusia tiga tahun di Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deli Serdang, dinyatakan positif Demam Berdarah Dengue (DBD), namun laporan warga justru tidak mendapat respons cepat dari Puskesmas setempat.

Kekecewaan itu disampaikan Ika, warga Dusun II, Desa Batangkuis Pekan. Ia menuturkan, sebelum dinyatakan positif DBD, anaknya, Syafana Ayra Syaquila, mengalami demam tinggi selama beberapa hari. Tak lama kemudian, bintik-bintik merah mulai muncul di sekujur tubuh sang anak—gejala yang lazim dikenal masyarakat sebagai tanda awal DBD.

Merasa khawatir, Ika segera membawa anaknya ke RSIA Pramaliesa, Desa Baru, untuk mendapatkan penanganan medis. Pada 29 Desember 2025, Syafana resmi dirawat inap.

“Setelah empat hari dirawat dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, tim medis menyatakan anak saya positif DBD. Alhamdulillah, kemarin sudah diperbolehkan pulang,” ujar Ika, Selasa (6/1).

Namun persoalan tak berhenti di ruang perawatan rumah sakit. Usai mengetahui anaknya terjangkit DBD, Ika berinisiatif melapor ke Kepala Desa Batangkuis Pekan. Tujuannya satu: meminta bantuan agar kasus tersebut segera diteruskan ke Puskesmas Batangkuis demi dilakukan fogging dan langkah pencegahan di lingkungan tempat tinggalnya.

Laporan itu pun diteruskan pemerintah desa kepada pihak Puskesmas melalui Bidan Desa. Sayangnya, harapan warga untuk melihat respons cepat justru berujung kekecewaan mendalam.

“Laporan sudah disampaikan, tapi tidak ada tindakan. Tidak ada fogging sampai anak saya pulang dari rumah sakit. Saya tidak tahu apa alasannya,” kata Ika dengan nada kecewa.

Bagi Ika, ini bukan sekadar soal prosedur administrasi atau tahapan teknis. Ini menyangkut keselamatan warga, terutama anak-anak, yang sangat rentan terhadap wabah DBD. Ia menilai sikap diam Puskesmas sebagai bentuk pembiaran yang berbahaya.

Baca Juga:  Kepengurusan PEMA UTU 2025/2026 Dinilai Cederai Marwah Organisasi, Demisioner Angkat Bicara

“Saya sangat kecewa. Kalau sudah ada anak positif DBD, bukankah seharusnya segera dilakukan pencegahan? Jangan tunggu korban berikutnya,” tegasnya.

Kasus ini pun menimbulkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: sejauh mana kesiapsiagaan fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam merespons laporan penyakit menular yang berpotensi memicu wabah?

Saat dikonfirmasi, Kepala UPT Puskesmas Batangkuis dr. Leni yang hendak dimintai klarifikasi disebut tidak berada di ruang kerjanya.

Sementara itu, staf Puskesmas Batangkuis, Farida, membantah tudingan bahwa pihaknya mengabaikan laporan warga. Ia menyatakan fogging tidak bisa dilakukan secara serta-merta tanpa melalui prosedur dan kajian tertentu.

“Bukan kami tidak menanggapi laporan warga. Namun fogging itu ada proses dan hal-hal yang harus diperhatikan. Seperti meninjau kondisi rumah terlebih dahulu, lingkungan sekitar, dan faktor lainnya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut justru memantik respons sinis dari warga. Di tengah ancaman DBD yang nyata, prosedur dianggap menjadi tameng pembenaran atas lambannya tindakan. Padahal, setiap keterlambatan bisa berujung pada risiko penularan yang lebih luas.

Warga menilai, ketika laporan resmi sudah masuk dan kasus positif telah dikonfirmasi secara medis, seharusnya tidak ada lagi ruang untuk menunda langkah pencegahan. Fogging bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk kehadiran negara dalam melindungi warganya dari ancaman penyakit mematikan.

Kasus balita penderita DBD ini menjadi alarm keras bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang. Pengawasan terhadap kinerja Puskesmas dinilai perlu diperketat agar keluhan masyarakat tidak berakhir sebagai arsip laporan tanpa tindakan.

DBD bukan penyakit sepele. Di balik angka dan prosedur, ada nyawa anak-anak yang dipertaruhkan. Ketika laporan warga diabaikan, yang dipertaruhkan bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga keselamatan generasi paling rentan.

Ilham Gondrong

 

Berita Terkait

GRPK dan BBHAR Satukan Langkah Perkuat Advokasi Hukum, Bongkar Dugaan Persoalan Alsintan Kelompok Tani Rukun Sena
Banyak Desa di Aceh Tenggara Diduga Abaikan Kewajiban Publikasi APBDes, Bupati Diminta Bertindak Tegas
Baru Jadi Dirut PLN Lagi, Darmawan Prasodjo Langsung Bohongi Rakyat Soal Kebutuhan Batubara PLTU
Titiek Soeharto Apresiasi Transformasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan
Ir. Iskandar DPRA Semangati 7 Atlit Tarung Derajat Simeulue Lolos Pora
Dari Akademisi hingga Praktisi, Arief Martha Rahadyan Mendapat Apresiasi atas Kiprah dan Gagasannya
Babak Baru BPKP ACEH Resmi Mulai Audit Persoalan PT. Raja Marga
Kunjungan Takziah dan Penyaluran Santunan: Bukti Perhatian Pemerintah Gampong bagi Warga Berduka
Berita ini 59 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 14:37

GRPK dan BBHAR Satukan Langkah Perkuat Advokasi Hukum, Bongkar Dugaan Persoalan Alsintan Kelompok Tani Rukun Sena

Senin, 22 Juni 2026 - 11:42

Banyak Desa di Aceh Tenggara Diduga Abaikan Kewajiban Publikasi APBDes, Bupati Diminta Bertindak Tegas

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:35

Titiek Soeharto Apresiasi Transformasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:32

Ir. Iskandar DPRA Semangati 7 Atlit Tarung Derajat Simeulue Lolos Pora

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:37

Dari Akademisi hingga Praktisi, Arief Martha Rahadyan Mendapat Apresiasi atas Kiprah dan Gagasannya

Sabtu, 20 Juni 2026 - 15:11

Babak Baru BPKP ACEH Resmi Mulai Audit Persoalan PT. Raja Marga

Sabtu, 20 Juni 2026 - 07:18

Kunjungan Takziah dan Penyaluran Santunan: Bukti Perhatian Pemerintah Gampong bagi Warga Berduka

Sabtu, 20 Juni 2026 - 06:07

Wakil Ketua DPW FRN Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh Syahbudin Padang Ucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Kapolda Aceh Irjen Pol. Marzuki Alibasyah

Berita Terbaru