Bitung, Sulut | TribuneIndonesia.com
Aparat kepolisian memperketat pengawasan di kawasan pesisir Kota Bitung menyusul laporan kemunculan seekor buaya berukuran besar di perairan belakang Dermaga PT Bimoli, Selasa (10/02/26).
Fenomena yang menghebohkan warga ini pertama kali terdeteksi pada Senin pagi, (9/02), dan langsung memicu respons cepat dari otoritas keamanan setempat.
Guna mengantisipasi potensi bahaya, tim gabungan yang terdiri dari Polres Bitung, Dit Polair Polda Sulawesi Utara, TNI Angkatan Laut, serta pemerintah daerah telah dikerahkan ke lokasi.
Hingga saat ini, petugas masih melakukan penyisiran secara intensif di titik-titik rawan untuk memantau pergerakan predator tersebut sekaligus memastikan area pesisir tetap steril dari aktivitas warga yang berisiko.
Kapolres Bitung, AKBP Albert Zai, melalui Kasi Humas AKP Abdul Natip Anggai, menegaskan bahwa keselamatan masyarakat adalah prioritas utama.
Pihak kepolisian secara proaktif terus memberikan edukasi dan peringatan langsung kepada para nelayan serta penduduk yang tinggal di sepanjang garis pantai agar meningkatkan kewaspadaan ekstra saat berada di wilayah perairan.
”Kami sangat menyarankan kepada nelayan dan masyarakat pesisir untuk menghindari area di sekitar Dermaga PT Bimoli untuk sementara waktu. Langkah preventif ini diambil demi mencegah terjadinya insiden serangan hewan liar yang dapat mengancam nyawa,”
Ungkap AKP Abdul Natip Anggai dalam keterangan resminya.
Berdasarkan laporan pandangan mata di lapangan, buaya tersebut diperkirakan memiliki panjang mencapai enam meter.
Ukuran yang cukup masif ini membuat aparat gabungan terus menjalin koordinasi lintas instansi guna menyusun strategi penanganan yang tepat agar situasi di wilayah perairan Bitung tetap kondusif bagi masyarakat.
Selain melakukan patroli fisik, Polres Bitung juga menginstruksikan warga agar segera melapor melalui saluran darurat jika kembali melihat keberadaan predator tersebut.
Partisipasi aktif masyarakat dianggap krusial dalam membantu petugas memetakan pergerakan buaya serta meminimalisir risiko konflik antara manusia dan satwa di wilayah tersebut. (Kiti)














