Bekasi/Tribuneindonesia.com
Sungguh sangat menyedihkan dan ironis melihat kenyataan yang terjadi saat ini. Anggaran pendidikan yang seharusnya disiapkan sebesar-besarnya demi kesejahteraan para guru—mereka yang memegang kunci masa depan bangsa—justru sebaliknya: anggaran itu malah yang pertama kali dipotong dan dikurangi. Jumat,7 Agustus 2026.
Hal ini menunjukkan betapa kelirunya arah pikiran para pengambil kebijakan di negeri ini. Mereka begitu mudahnya mengorbankan nasib para pendidik, namun sama sekali tidak berani menyentuh atau mengurangi fasilitas, tunjangan, maupun anggaran yang dinikmati oleh para pejabat tinggi dan kalangan kekuasaan. Selalu saja alasan kekurangan dana dikemukakan jika menyangkut nasib guru, namun seketika dana itu tersedia berlimpah jika berkaitan dengan kepentingan golongan tertentu.
Cobalah kita menengok bangsa-bangsa lain yang patut kita teladani: Singapura, Malaysia, Jepang, dan Vietnam. Walaupun menghadapi berbagai tantangan, negara-negara ini memiliki satu kesamaan: mereka tidak pernah sekalipun berani memotong anggaran pendidikan untuk kepentingan lain. Jepang yang bangkit dari reruntuhan perang selalu menempatkan pendidikan sebagai hal yang paling utama, dan Vietnam yang dulunya hancur lebur kini menetapkan minimal 20 persen anggaran negara khusus untuk pendidikan beserta kenaikan tunjangan guru yang sangat besar. Sebagai buahnya, maka dari itu bangsa-bangsa inilah yang kini semakin maju, menempati posisi terdepan, dan sangat diperhitungkan oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia. Di mata mereka, memangkas anggaran pendidikan sama artinya mematikan masa depan sendiri, sehingga justru di sanalah alokasinya terus ditambah demi memuliakan dan menyejahterakan guru.
Maka dari itu, mari pemerintah dan segenap bangsa ini segera berketetapan hati: lebih utamakan dan putuskan kenaikan gaji yang jauh lebih besar bagi para guru terlebih dahulu, dibandingkan menaikkan anggaran atau tunjangan untuk hal-hal yang lain. Jangan heran jika segala cita-cita bangsa ini hanya akan menjadi ilusi semata dan tinggal mimpi belaka. Bangsa ini tidak akan pernah bisa maju selamanya jika tidak sungguh-sungguh menyejahterakan guru dengan memberikan penghasilan yang besar dan pantas sesuai pengabdiannya. Selama hal ini belum dilakukan, kemajuan yang diharapkan hanyalah angan-angan yang takkan pernah terwujud.
Berbeda jauh dengan apa yang kita saksikan di sini. Pemerintah berani sekali mempersulit kehidupan guru, namun pongah membiarkan pemborosan anggaran di tempat lain. Jangan heran jika mimpi ingin melahirkan generasi emas hanya akan menjadi dongeng belaka. Selama pola pikir keliru ini tidak diubah, bangsa ini akan terus tertinggal jauh.


















