ACEH TAMIANG | TribuneIndonesia.com – Situasi pasca-banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang kini memunculkan persoalan baru. Di tengah duka masyarakat akibat kerugian harta benda dan korban jiwa, aksi pencurian dilaporkan semakin marak terjadi dan membuat warga merasa tidak aman.
Tameng Perjuangan Rakyat Anti Korupsi (TAMPERAK) Aceh Tamiang menyebutkan, sejumlah kasus kehilangan mulai dilaporkan warga sejak bencana banjir mereda. Para pelaku diduga memanfaatkan kondisi lingkungan yang masih belum stabil untuk melancarkan aksi mereka, terutama pada malam hari saat rumah atau fasilitas umum dalam keadaan kosong.
Ketua TAMPERAK Aceh Tamiang, Purnawirawan TNI Zulsyafri, mengatakan masyarakat kini diliputi keresahan karena keamanan lingkungan dinilai semakin rentan setelah bencana.
“Sejak banjir terjadi dan mulai surut, warga merasa situasi perkampungan tidak lagi aman. Banyak laporan kehilangan yang terjadi di beberapa lokasi,” ujar Zulsyafri, Selasa.
Menurutnya, para pelaku diduga memanfaatkan kelengahan warga yang masih fokus memulihkan kondisi pasca-bencana. Sejumlah fasilitas umum bahkan tidak luput dari sasaran pencurian.
Beberapa barang yang dilaporkan hilang di antaranya mixer pengeras suara di meunasah Desa Tualang Baro, pintu kamar mandi sekolah, hingga peralatan milik sekolah lainnya.
Warga setempat mengaku sangat resah dengan kondisi tersebut. Mereka menilai tindakan pencurian di tengah situasi bencana merupakan perbuatan yang sangat tidak berperikemanusiaan.
“Kami sudah sangat resah. Dalam kondisi seperti ini, seharusnya saling membantu, bukan malah mengambil kesempatan melakukan pencurian,” ungkap salah seorang warga.
Zulsyafri menilai kondisi ekonomi yang sulit pasca-banjir juga dapat menjadi salah satu pemicu meningkatnya tindak kriminal. Selain itu, ia juga menyoroti masih maraknya peredaran narkoba yang diduga mendorong sebagian pelaku melakukan tindakan nekat.
“Situasi ekonomi yang sulit ditambah maraknya peredaran narkoba eceran bisa menjadi faktor pendorong. Para pecandu kerap menghalalkan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhannya,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, TAMPERAK bersama tokoh masyarakat Aceh Tamiang meminta pemerintah daerah serta aparat keamanan TNI dan Polri untuk segera mengambil langkah antisipatif.
Salah satu langkah yang diharapkan adalah mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling) di desa-desa terdampak banjir guna menjaga situasi tetap aman dan kondusif.
“Kami berharap pemerintah daerah bersama aparat keamanan dapat menginstruksikan kembali pengaktifan siskamling di lingkungan masyarakat agar keamanan kembali terjaga,” tutup Zulsyafri. (Z)















