
TRIBUNEINDONESIA.COM Ramadhan kembali mengetuk pintu kehidupan kita. Bulan yang selalu dinanti dengan ucapan “Marhaban ya Ramadhan” itu sebentar lagi hadir. Namun pertanyaannya, sudahkah hati kita benar-benar siap menyambutnya?
Setiap tahun kita menyaksikan pemandangan yang hampir sama. Pasar penuh sesak, pusat perbelanjaan ramai, media sosial dipenuhi promo dan diskon besar-besaran. Kita sibuk menyiapkan menu sahur dan berbuka, sibuk membeli pakaian baru, sibuk merencanakan buka puasa bersama. Tetapi sering kali kita lupa menyiapkan sesuatu yang jauh lebih penting: hati dan iman kita.
Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan. Ia adalah bulan perubahan diri.
Ramadhan datang membawa pesan besar: membersihkan jiwa, menata ulang hidup, dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia. Ia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menahan amarah, menahan lisan dari menyakiti, dan menahan hati dari iri serta dengki.
Banyak di antara kita mungkin masih menyimpan dendam, belum meminta maaf kepada orang tua, masih ringan mengucap kata yang melukai, atau masih lalai dalam shalat. Lalu bagaimana mungkin kita berharap Ramadhan membawa keberkahan jika hati kita masih penuh dengan kotoran?
Ramadhan adalah kesempatan emas yang tidak semua orang dapatkan. Betapa banyak saudara kita yang tahun lalu masih berpuasa bersama, kini telah tiada. Ramadhan kali ini bisa jadi adalah yang terakhir bagi kita. Kesadaran inilah yang seharusnya menggugah hati masyarakat untuk tidak menyia-nyiakan bulan suci ini.
Sudah saatnya kita mengubah cara menyambut Ramadhan.
Bukan dengan memperbanyak belanja, tetapi memperbanyak istighfar.
Bukan dengan sibuk mencari menu berbuka terenak, tetapi sibuk mencari ampunan Allah.
Bukan dengan menghitung berapa banyak undangan buka bersama, tetapi menghitung berapa banyak Al-Qur’an yang akan kita baca.
Masyarakat hari ini membutuhkan Ramadhan sebagai momentum perbaikan moral. Di tengah maraknya fitnah, ujaran kebencian, korupsi, dan krisis keteladanan, Ramadhan harus menjadi cahaya. Ia harus menghidupkan kembali nilai kejujuran, kepedulian, dan empati sosial.
Ramadhan juga mengajarkan keadilan sosial. Saat kita menahan lapar, kita diingatkan pada jutaan saudara kita yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Di sinilah sedekah, zakat, dan kepedulian sosial menemukan maknanya. Ramadhan bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang solidaritas kemanusiaan.
Mari kita sambut Ramadhan dengan langkah nyata: Membersihkan hati, memperbaiki shalat, mendekatkan diri pada Al-Qur’an, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak amal kebaikan.
Jangan biarkan Ramadhan berlalu seperti angin yang hanya meninggalkan rasa kenyang saat berbuka. Jadikan ia sebagai titik balik kehidupan. Jika sebelum Ramadhan kita lalai, maka setelahnya kita harus berubah. Jika sebelumnya kita jauh dari Allah, maka setelahnya kita harus lebih dekat.
Ramadhan bukan hanya tamu tahunan. Ia adalah peluang keselamatan.
Semoga saat bulan suci itu benar-benar tiba, kita bukan hanya menjadi orang yang berpuasa, tetapi menjadi orang yang benar-benar bertakwa.
Karena pada akhirnya, yang Allah nilai bukan seberapa mewah hidangan berbuka kita, tetapi seberapa bersih hati kita saat bersujud.***











