Takengon | TribuneIndonesia.com
Bebesen, Aceh Tengah – Aroma tak sedap menyeruak dari proyek sanitasi Desa Pinangan, Kecamatan Bebesen. Hasil pantauan tim di lapangan menunjukkan, pekerjaan yang menelan anggaran dana desa itu nyaris tanpa proses galian. Beton hanya dicor dan ditempel pada dinding parit yang sebelumnya sudah pernah dicor, bak “memoles cat lama” dengan cat baru.
Dari pengamatan langsung, permukaan cor menutup rapat dinding lama tanpa tanda bekas bongkaran atau penggalian. Sejumlah warga di sekitar lokasi mengaku heran. “Kalau lihat hasilnya, rasanya mustahil menelan biaya sebesar yang tercatat di anggaran,” ujar salah seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Reje Desa Pinangan tidak membantah pola pengerjaan tersebut. “Sistem pekerjaan hanya mengikuti ukuran parit, memang tanpa galian,” tulisnya singkat. Namun, perbandingan antara rincian anggaran dan kondisi lapangan memunculkan jurang perbedaan yang memicu dugaan adanya penggelembungan dana.
Masalah lain juga muncul pada program ketahanan pangan tahun 2024. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pengadaan delapan ekor lembu semestinya dibagi untuk empat dusun. Namun, satu dusun menolak, sehingga hanya tiga dusun yang menerima.
Di tengah warga, beredar kabar bahwa lembu-lembu tersebut telah dijual. “Itu sudah nggak ada lagi, udah dijual,” kata seorang warga. Namun, ketika dikonfirmasi, Reje Desa memberikan jawaban berbeda. “Masih ada,” tulisnya melalui pesan singkat.
Hingga berita ini diturunkan, tim belum berhasil memverifikasi langsung keberadaan lembu-lembu tersebut. Pintu kandang yang seharusnya menjadi bukti fisik belum diperlihatkan. Misteri pun masih menggantung: apakah lembu itu benar-benar ada atau hanya tinggal nama di atas kertas pengadaan.
Warga berharap pihak berwenang turun tangan melakukan audit menyeluruh. Di desa kecil seperti Pinangan, kebenaran mungkin mudah disembunyikan, namun jejaknya tetap dapat ditemukan bagi yang mau melihat lebih dekat.
(Dian Aksara)