DEPOK– Semangat pantang menyerah, kerja keras, dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan kembali mendapat panggung di tingkat nasional. Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Program Magister (S2) Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU), berhasil mencatatkan prestasi membanggakan melalui peluncuran buku ilmiah bertaraf internasional berjudul “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia.”
Peluncuran dan bedah buku yang digelar di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Depok, menjadi perhatian luas kalangan akademisi, peneliti, praktisi, hingga pemerintah. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 500 peserta secara langsung dan lebih dari 1.500 peserta secara daring dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri.
Acara diselenggarakan Mega Press Nusantara dengan dukungan FKM UI, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), serta Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Momentum tersebut bukan sekadar peluncuran sebuah buku, melainkan menjadi simbol bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk melahirkan karya ilmiah yang diakui secara akademik.
Berawal dari Modal Rp70 Ribu
Perjalanan hidup Muhammad Ja’far Hasibuan menjadi kisah yang menginspirasi banyak kalangan. Lahir sebagai anak yatim di sebuah desa di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara, ia memulai perantauan dengan uang tunai hanya Rp70 ribu.
Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, Ja’far tetap bertekad melanjutkan pendidikan tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan kuliah dan biaya hidup, ia berjualan roti sambil menjalani aktivitas sebagai mahasiswa.
Perjalanan panjang tersebut penuh dengan tantangan. Keterbatasan biaya, akses informasi, hingga berbagai persoalan sosial tidak membuat semangatnya surut. Sebaliknya, pengalaman hidup itu menjadi motivasi untuk terus belajar dan melakukan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.
Lahirkan Inovasi Biofar SS
Dari berbagai penelitian lapangan, pengujian laboratorium, dan uji coba kepada masyarakat, Muhammad Ja’far Hasibuan berhasil mengembangkan Biofar SS, sebuah inovasi berbasis ekstrak tanaman bakau yang dikembangkan untuk penanganan gangguan kesehatan kulit.
Inovasi tersebut telah memperoleh perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan mendapat berbagai apresiasi di tingkat internasional.
Dalam keterangannya, Ja’far menegaskan bahwa seluruh proses penelitian dilakukan dengan pendekatan ilmiah dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Kepercayaan negara melalui program Beasiswa Kapolri merupakan amanah yang harus saya pertanggungjawabkan melalui karya nyata. Semua ilmu yang saya peroleh saya arahkan menjadi inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan,” ungkapnya.
Buku Ilmiah dengan Pendekatan Multidisiplin
Berbeda dari buku motivasi pada umumnya, karya setebal lebih dari 400 halaman tersebut disusun menggunakan pendekatan akademik yang komprehensif.
Muhammad Ja’far memadukan perjalanan hidupnya dengan lebih dari 200 referensi ilmiah dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari kesehatan masyarakat, psikologi, kepemimpinan, manajemen, hingga ilmu sosial.
Berbagai teori dunia seperti teori modal sosial, resiliensi, growth mindset, psikologi perkembangan, hingga implementasi inovasi dijadikan landasan dalam menjelaskan bagaimana pengalaman hidup dapat diubah menjadi penelitian ilmiah yang bermanfaat.
Pendekatan tersebut menjadikan buku ini tidak hanya bersifat inspiratif, tetapi juga dapat digunakan sebagai referensi akademik bagi mahasiswa, dosen, peneliti, hingga pembuat kebijakan.
Diresmikan Atas Nama Kapolri
Peluncuran buku secara resmi dibuka atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri Komjen Pol R.Z. Panca Putra Simanjuntak. Sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo.
Dalam sambutannya disampaikan bahwa Muhammad Ja’far Hasibuan menjadi contoh nyata bahwa kerja keras, integritas, disiplin, dan kepedulian sosial mampu mengantarkan seseorang meraih prestasi meski berasal dari keluarga sederhana.
Kapolri juga mengapresiasi pemanfaatan Beasiswa Polri yang diwujudkan dalam bentuk karya ilmiah yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Apresiasi Guru Besar Universitas Indonesia
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Adang Bachtiar, MPH., DSc., memberikan apresiasi tinggi terhadap buku tersebut.
Menurutnya, karya Muhammad Ja’far merupakan salah satu buku yang berhasil memadukan pengalaman hidup dengan teori-teori ilmiah modern sehingga memiliki nilai akademik yang kuat.
Ia bahkan membuka peluang bagi Muhammad Ja’far Hasibuan untuk melanjutkan pendidikan doktoral (S3) di Universitas Harvard.
Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP., menilai perjalanan hidup Ja’far menunjukkan bahwa berbagai kesulitan hidup justru dapat membentuk karakter tangguh, kemampuan beradaptasi, dan pola pikir berkembang.
Ditetapkan sebagai Ikon Pemuda Kemenpora
Penghargaan juga datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Melalui perwakilan resmi Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng., Muhammad Ja’far Hasibuan ditetapkan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI.
Penetapan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi Ja’far dalam mengembangkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta menginspirasi generasi muda Indonesia.
Di sisi lain, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga menetapkan buku tersebut sebagai salah satu koleksi referensi nasional.
Inspirasi Bagi Generasi Muda
Peluncuran buku ditutup dengan diskusi ilmiah, penandatanganan dokumen referensi, dan penyerahan buku kepada sejumlah institusi pendidikan.
Kehadiran buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” diharapkan menjadi referensi akademik sekaligus sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia.
Perjalanan Muhammad Ja’far Hasibuan membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh besarnya modal yang dimiliki, melainkan oleh ketekunan, integritas, pendidikan, dan kemauan untuk terus belajar.
Dari modal Rp70 ribu hingga menghasilkan karya yang mendapat apresiasi di tingkat nasional dan internasional, kisah ini menjadi pengingat bahwa mimpi besar dapat diwujudkan melalui kerja keras, riset yang berkelanjutan, dan semangat memberikan manfaat bagi masyarakat.



















