Jakarta | TribuneIndonesia.com
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dijadwalkan secara resmi melantik Brigadir Jenderal (Brigjen) Pol Marzuki Ali Basyah sebagai Kepala Kepolisian Daerah Aceh pada Selasa, 19 Agustus 2025, sekitar pukul 10.30 WIB di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta .
Profil Singkat Brigjen Pol Marzuki Ali Basyah
Identitas dan Asal:
Brigjen Pol Marzuki Ali Basyah lahir pada 20 Juni 1968 di Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh . Ia merupakan putra daerah yang memahami karakter sosial dan budaya Aceh secara mendalam .
Pendidikan Kepolisian:
Menyelesaikan pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1991, Marzuki kemudian melanjutkan ke PTIK (1996), SESPIM (2006), dan SESPIMTI (2017), serta mengikuti berbagai pelatihan operasional Brimob, Lalu Lintas, Bahasa Inggris, hingga analisis kecelakaan lalu lintas .
Karier:
Kariernya dimulai sebagai Perwira Muda (Pama) di Polda Jawa Barat tahun 1992. Ia kemudian menjabat di berbagai posisi penting, seperti Kapolres Dairi (2008), Kapolres Simalungun (2010), hingga posisi strategis sebagai Karo SDM di Polda Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Aceh . Selanjutnya, ia menjadi Inspektur Pengawas Daerah (Irwasda) Polda Aceh (2020), lalu Kepala BNNP Gorontalo (2023), dan Kepala BNNP Aceh (2024) .
Penghargaan & Kompetensi:
Marzuki dikenal unggul dalam bidang SDM, audit kepolisian, dan pemberantasan narkoba. Di bawah kepemimpinannya di BNN Aceh, lembaga tersebut pernah meraih predikat BNN terbaik se-Indonesia dan beliau dianugerahi penghargaan Kepala BNNP Berprestasi pada April 2025 .
Komitmen dan Harapan
Menjelang pelantikan, Marzuki Ali menegaskan tugas utamanya akan menjaga Aceh tetap dikenal sebagai “Serambi Mekkah”, dengan tetap menegakkan keamanan dan ketertiban serta memerangi berbagai bentuk kejahatan yang dapat mengganggu citra daerah. Ia juga menyatakan komitmennya untuk memperkuat sinergi antara kepolisian, ulama, dan seluruh lapisan masyarakat Aceh.
Dengan latar belakang yang kuat dan rekam jejak panjangnya, penunjukan Brigjen Pol Marzuki Ali Basyah sebagai Kapolda Aceh dinilai sebagai langkah strategis. Gelar bintang dua (Irjen) yang menyertainya mencerminkan kepercayaan besar terhadap kemampuannya memimpin satuan kepolisian di wilayah yang memiliki dinamika dan tantangan unik seperti Aceh. (#)