RAJA AMPAT – Tribuneindonesia.com – Persoalan penggunaan bom ikan di perairan Raja Ampat kembali mendapat sorotan. Tokoh masyarakat, Tozie Saleo, mendorong adanya pola pengawasan yang melibatkan langsung masyarakat kampung untuk mempersempit ruang gerak pelaku pengeboman ikan.
Tozie menilai luasnya wilayah perairan Raja Ampat membuat pengawasan hanya mengandalkan patroli aparat menjadi tantangan besar.
“Saya sudah bosan melihat terumbu karang kita yang menjadi surga dunia dihancurkan oleh nelayan tidak bertanggung jawab menggunakan bom,” tegas Tozie.
Menurutnya, tim Jaga Laut dan tim gabungan telah bekerja keras melakukan pengawasan. Namun, luas wilayah laut Raja Ampat yang mencapai sekitar 4,3 juta hektare, menurut Tozie, membutuhkan keterlibatan masyarakat secara lebih luas.
“Tim Jaga Laut dan tim gabungan sudah kerja keras, tapi jujur saja, laut Raja Ampat 4,3 juta hektare tidak mungkin dijaga 10–20 speed saja,” ujarnya.
Atas kondisi tersebut, Tozie mengusulkan sekaligus menantang Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Raja Ampat untuk membuat sayembara resmi yang melibatkan 117 kampung di Raja Ampat.
Konsep yang ditawarkan cukup sederhana.
Kampung atau masyarakat yang berhasil menemukan, mengintai, mendokumentasikan, serta melaporkan dugaan pelaku bom ikan kepada kepolisian atau BLUD hingga pelaku ditangkap dan barang bukti diamankan, diusulkan memperoleh penghargaan sebesar Rp50 juta untuk pembangunan kampung.
“Bagi kampung atau masyarakat yang berhasil menemukan, mengintai, mendokumentasikan dan melaporkan pelaku bom ikan sampai pelaku ditangkap dan barang bukti diamankan, maka kampung tersebut berhak mendapat hadiah Rp50 juta untuk pembangunan kampung,” katanya.
Tozie mengatakan gagasan tersebut dilatarbelakangi kebutuhan memperluas pengawasan hingga ke tingkat masyarakat.
Ia berpendapat, jika 117 kampung turut menjadi mata dan telinga dalam menjaga laut, informasi mengenai aktivitas penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dapat lebih cepat diteruskan kepada aparat berwenang.
“Kalau kita andalkan patroli saja, sampai kiamat tidak habis. Kalau 117 kampung jadi mata-mata, pelaku mau lari ke mana? Laut itu halaman rumah kita,” tegasnya.
Ia juga membandingkan nilai penghargaan yang diusulkannya dengan dampak kerusakan akibat penggunaan bom ikan terhadap ekosistem laut dan sektor pariwisata Raja Ampat.
“Rp50 juta itu kecil dibanding satu bom yang menghancurkan karang yang membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk pulih dan bisa merugikan wisata hingga miliaran rupiah,” ujarnya.
Namun, Tozie menekankan bahwa masyarakat tidak boleh melakukan penangkapan sendiri terhadap pelaku yang diduga menggunakan bom ikan.
Ia meminta masyarakat cukup melakukan dokumentasi apabila situasi memungkinkan dan aman, mencatat lokasi atau koordinat, kemudian segera melaporkannya kepada aparat penegak hukum atau pihak berwenang.
“Jangan tangkap sendiri. Bom itu berbahaya. Cukup video, foto, koordinat, lalu laporkan ke Polair. Biar polisi yang menangkap,” katanya.
Terkait sumber pendanaan, Tozie mengusulkan agar pemerintah mengkaji kemungkinan penggunaan sebagian penerimaan retribusi wisata Raja Ampat untuk mendukung skema penghargaan maupun program pengawasan berbasis masyarakat.
Menurut dia, penerimaan dari aktivitas wisata seharusnya juga dapat diarahkan untuk memperkuat perlindungan terhadap sumber daya laut yang menjadi salah satu fondasi pariwisata Raja Ampat.
Usulan tersebut kini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dan pengelola kawasan konservasi untuk dikaji lebih lanjut, terutama terkait dasar hukum, mekanisme verifikasi laporan, standar pembuktian, keamanan pelapor, kewenangan pemberian penghargaan, serta sumber dan mekanisme penggunaan anggarannya.
Bagi Tozie, keterlibatan masyarakat kampung bukan sekadar pilihan, tetapi bagian penting dalam menghadapi luasnya wilayah laut dan keterbatasan sumber daya patroli.
“Laut ini halaman rumah kita. Kalau bukan kita yang ikut menjaganya, siapa lagi?” pungkasnya.
Kalau ingin dibuat lebih “meledak” ala Tribuneindonesia.com, judulnya bisa diarahkan ke: “117 Kampung Ditantang Lawan Bom Ikan, Tozie Saleo Sodorkan Hadiah Rp50 Juta: Laut Raja Ampat Bukan Tempat Penjahat Bersembunyi!”






















