Pengawasan Kawasan Konservasi Raja Ampat Disorot, Tokoh Pemuda Dorong Masyarakat Adat Dilibatkan

- Editor

Kamis, 17 September 2026 - 08:20

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RAJA AMPAT – TribuneIndonesia.com– Pengawasan kawasan konservasi nasional di perairan Raja Ampat kembali menjadi sorotan. Sejumlah wilayah yang masuk dalam kawasan konservasi dinilai belum sepenuhnya dapat dijangkau secara optimal oleh petugas, sehingga membuka celah terjadinya berbagai aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem laut.

Seorang tokoh pemuda Raja Ampat mengatakan, persoalan tersebut bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, terdapat sejumlah titik di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau petugas yang berada di pos pengawasan KKP.

Kondisi geografis Raja Ampat yang terdiri dari banyak pulau dan wilayah perairan yang luas, kata dia, membutuhkan pola pengawasan yang tidak hanya mengandalkan aparat atau petugas pemerintah.

“Kalau ada titik-titik kawasan konservasi nasional yang tidak bisa dijangkau dengan baik, tentu pengawasannya menjadi terbatas. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Ia menilai salah satu langkah yang dapat diperkuat adalah melibatkan masyarakat adat secara langsung dalam pengawasan wilayah perairan yang selama ini menjadi ruang hidup mereka.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat adat dapat menjadi bentuk kerja sama antara pemerintah, BLUD, dan masyarakat setempat untuk menjaga kawasan konservasi.

“Wilayah-wilayah ini harus kembali diperkuat dengan melibatkan masyarakat yang memang tinggal dan beraktivitas di sana. Masyarakat adat bisa menjadi bagian penting dalam menjaga wilayah mereka sendiri,” katanya.

Ia juga menyoroti keterbatasan pengawasan yang dimiliki BLUD pada kawasan yang berstatus konservasi nasional. Menurutnya, diperlukan koordinasi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, BLUD, serta instansi yang memiliki kewenangan di kawasan konservasi nasional.

Bom Ikan Dinilai Lebih Mengkhawatirkan

Tokoh pemuda tersebut juga menyinggung kembali persoalan penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan. Menurutnya, praktik tersebut jauh lebih mengkhawatirkan karena bukan merupakan kejadian yang baru pertama kali terjadi.

Baca Juga:  Dihadiri Wali Kota Medan dan Wakil Ketua DPRD Sumut, KBR Sukses Gelar Jalan Santai

Ia membandingkan persoalan tersebut dengan kasus penangkapan penyu atau biota laut yang melibatkan warga negara asing yang sempat menjadi perhatian publik.

“Kalau penangkapan penyu atau biota laut oleh WNA itu kita lihat sebagai satu kejadian. Tetapi pemboman ikan di Raja Ampat bukan cerita baru. Ini sudah berulang kali terjadi,” tegasnya.

Menurut dia, kerusakan akibat bom ikan tidak hanya menyangkut aktivitas penangkapan ikan, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap terumbu karang dan ekosistem laut yang menjadi bagian penting dari kawasan konservasi Raja Ampat.

Karena itu, ia meminta pengawasan terhadap titik-titik rawan diperketat dan tidak hanya mengandalkan keberadaan pos-pos pengawasan.

“Yang harus diperkuat adalah pengawasan di titik-titik yang memang sulit dijangkau. Pimpinan BLUD dan pemerintah harus tegas melihat persoalan ini,” ujarnya.

Masyarakat Adat Didorong Jadi Mata dan Telinga Pengawasan

Ia menegaskan, pelibatan masyarakat adat bukan berarti mengambil alih kewenangan TNI, Polri maupun aparat penegak hukum lainnya.

Menurutnya, masyarakat dapat ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengawasan berbasis masyarakat, terutama dalam memberikan informasi awal apabila menemukan aktivitas mencurigakan di wilayah perairan mereka.

“Masyarakat adat dan BLUD memang tidak memiliki kewenangan seperti TNI atau Polri. Tetapi masyarakat bisa dilibatkan untuk menjaga wilayah mereka sendiri dan melaporkan jika menemukan pelanggaran,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan provinsi bersama BLUD dapat membangun pola pengawasan yang lebih kolaboratif, sehingga keberadaan masyarakat adat tidak hanya dipandang sebagai penerima manfaat kawasan konservasi, tetapi juga sebagai mitra dalam menjaga laut Raja Ampat.

“Kalau masyarakat dilibatkan, pengawasan di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau petugas akan lebih mudah. Masyarakat sendiri yang tahu kondisi wilayah mereka,” pungkasnya.

Berita Terkait

Dulu Hanya Duduk Menyaksikan Pendeta Berkhotbah, kini Ia Berdiri Di Mimbar Yang Sama.”
Kapolres Bireuen Hadiri Donor Darah Milan KE-60 KAHMI
Perkuat Fasilitas Kesehatan, Pangdam IX/Udayana Resmikan Ruang Rawat Inap Sandat Rumkit Tk. II Udayana
Sinergi Cegah TPPO: YKYU dan Pemkot Bitung Perketat Pengawasan Pelabuhan
Jerat Korporasi dan Pejabat BPN, KPK Usut Tuntas Klaster Suap Sengketa Lahan Summarecon
Usai Dilaporkan ke Propam, Penyidik Polrestabes Medan Inisial E Hubungi Ketua GRPK: “Kok Bisa Sampai Begini, Bang?”
Polemik Pengadaan Jilbab Deli Serdang, LITPK Sumut Minta Pemeriksaan Fokus pada Proses Pengadaan
Ekspor Lidi Sumut Melonjak, Hilirisasi Didorong
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 08:20

Pengawasan Kawasan Konservasi Raja Ampat Disorot, Tokoh Pemuda Dorong Masyarakat Adat Dilibatkan

Senin, 14 September 2026 - 12:42

Masyarakat Raja Ampat Kecam Dugaan Penangkapan Penyu oleh WNA Menggunakan Senapan

Minggu, 13 September 2026 - 12:56

Tiket Sorong–Waisai Diduga Dikenai Tambahan Rp12 Ribu, DPRK Raja Ampat Didesak Memanggil Pengelola

Sabtu, 12 September 2026 - 00:47

Jejak Rahasia Pemimpin Korea Utara: Dari Pelajar Misterius di Swiss Hingga Mengguncang Geopolitik Dunia

Rabu, 9 September 2026 - 13:04

Raja Ampat Belum Punya Payung Adat Bersama, Carles Imbir: Pengakuan OAP Harus Kembali ke Marga dan Suku

Rabu, 9 September 2026 - 12:41

Raja Ampat Belum Punya Payung Adat Bersama, Carles Imbir: Pengakuan OAP Harus Kembali ke Marga dan Suku

Rabu, 9 September 2026 - 05:56

DPR Setujui RUU Reforma Agraria, Tani Merdeka Indonesia Dorong Kepastian Hak Atas Tanah Petani

Rabu, 9 September 2026 - 04:59

Siapa Berhak Menentukan OAP di Raja Ampat? Carles Imbir: Kembalikan kepada Marga dan Suku

Berita Terbaru

TNI dan Polri

Kapolres Bireuen Hadiri Donor Darah Milan KE-60 KAHMI

Kamis, 17 Sep 2026 - 07:41