Di Norwegia Melayani dengan Sederhana — Di Indonesia Justru Dilayani Berlebihan

- Editor

Kamis, 13 Agustus 2026 - 01:19

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bekasi/Tribuneindonesia.com

Mari kita lihat negeri Norwegia — bangsa yang sangat maju, sangat sejahtera, dan dihormati di seluruh dunia. Di sana para pemimpin dan anggota dewan hampir tidak difasilitasi apa-apa secara berlebihan oleh negara. Mereka datang bekerja, pulang ke rumah sendiri, berbelanja seperti orang biasa. Tidak ada kendaraan mewah yang berganti-ganti, tidak ada tunjangan yang bertumpuk-tumpuk, tidak ada kemewahan yang ditanggung rakyat. Kamis
13 Agustus 2026

Tetapi di bangsa Indonesia — persis sebaliknya.

Seluruh anggota dewan dan pemimpin negeri justru difasilitasi segalanya secara berlapis oleh negara. Diberikan gaji yang besar, ditambah tunjangan berlapis-lapis, kendaraan mewah, rumah dinas, pengawalan, dan segala kebutuhan ditanggung sepenuhnya — bahkan hal-hal yang sebenarnya bisa mereka penuhi sendiri. Semua ini dibayar dari uang rakyat, dari pajak yang dikumpulkan dari keringat jutaan orang yang masih banyak berjuang memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri.

Sungguh sangat ironis dan seharusnya membuat mereka semua merasa malu. Karena setiap rupiah yang mereka terima itu bukan datang dari langit — itu adalah pajak dari rakyat. Itu adalah keringat dan kerja keras orang-orang yang kadang bahkan tidak mampu menyekolahkan anaknya dengan baik.

Di Norwegia mereka punya budaya malu:
✅ Mereka sadar: jabatan adalah pelayanan, bukan keuntungan
✅ Mereka tahu: uang negara adalah titipan rakyat, harus dijaga dan tidak boleh dihamburkan
✅ Mereka memimpin bukan untuk mengisi kantong sendiri — tetapi untuk memajukan bangsanya, terutama untuk kesejahteraan pendidikan dan para guru
✅ Mereka tidak merasa berhak berlebih — mereka merasa berhutang budi pada rakyat yang mempercayai mereka

Baca Juga:  Camat Angsana Apresiasi dan Berikan Arahan dalam Musdes Perencanaan RKP Desa Angsana

Lalu di sini?
❌ Yang seharusnya melayani — malah dilayani secara berlebihan
❌ Yang seharusnya berhemat — malah boros atas nama negara
❌ Yang seharusnya memikirkan guru yang gajinya kecil — malah sibuk menaikkan tunjangannya sendiri
❌ Yang seharusnya punya budaya malu — malah merasa segala kemewahan itu hak yang pantas diterima

Inilah perbedaannya:
Norwegia maju bukan karena kaya saja — mereka maju karena pemimpinnya malu mengambil yang bukan haknya. Mereka maju karena pemimpinnya sadar: kekuatan bangsa ada di rakyat yang cerdas, di guru yang dihormati, di anak-anak yang terdidik — bukan di kemewahan pemimpinnya.

Mari kita tanyakan kepada para pemimpin negeri ini:
Kalau di negara yang lebih kaya pemimpinnya hidup sederhana — mengapa di negara yang rakyatnya masih susah, pemimpinnya justru hidup mewah? Di mana budaya malunya? Di mana rasa bersalahnya melihat gurunya berjuang dengan penghasilan yang tidak layak?

Sudah saatnya berubah:
Turunkanlah kemewahan yang tidak perlu. Hapuskanlah tunjangan yang berlebih. Arahkanlah sebagian besar anggaran itu untuk sejahterakan para guru — gaji yang besar, layak, dan bermartabat. Karena di sanalah fondasi peradaban sesungguhnya dibangun. Bukan di gedung mewah, bukan di mobil baru — tetapi di ruang kelas, di depan papan tulis, di tangan para pendidik yang membangun masa depan setiap hari.

Pemimpin yang benar tidak diukur dari seberapa mewah hidupnya. Tetapi dari seberapa baik rakyatnya hidup karena ia memimpin.

Berita Terkait

Demi Keselamatan Raja Ampat, Kepala BPBD Ingatkan Warga Hentikan Pembakaran Lahan
BREAKING NEWS: Lonobi Membara, Tim Gabungan Berjibaku di Tebing Terjal
Rp1,27 Triliun di APBD Perubahan 2026, Wabup Raja Ampat Ajak Semua Pihak Kawal Pembangunan
Ketika Sensasi Menggeser Etika: Geuchik Aron Geulumpang VII Disudutkan Berita Pungli Diduga Tanpa Konfirmasi
Saweu Keude Kopi, Kapolsek Idi Tunong Ajak Warga Waspadai Hoaks dan Narkoba
Minimalisir Dampak Banjir, BWS Diminta Bangun Tanggul Pengaman Lawe Bula
APBD Perubahan Raja Ampat Tembus Rp1,27 Triliun, Belanja Naik Rp134 Miliar
Polres Langsa Ungkap 46,6 Kg Sabu Jaringan Malaysia, Nilainya Capai Rp13,2 Miliar
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:33

Demi Keselamatan Raja Ampat, Kepala BPBD Ingatkan Warga Hentikan Pembakaran Lahan

Senin, 28 September 2026 - 15:29

BREAKING NEWS: Lonobi Membara, Tim Gabungan Berjibaku di Tebing Terjal

Senin, 28 September 2026 - 14:25

Imigrasi Ngurah Rai Deportasi 18 WNA dalam Sepekan, Diantaranya Terlibat Prostitusi

Senin, 28 September 2026 - 12:21

Tiga Aplikasi, Ujian Baru Perizinan

Senin, 28 September 2026 - 10:49

TTI Desak LKPP Instruksikan Pengguna Anggaran Lengkapi Data Paket di SiRUP

Senin, 28 September 2026 - 09:24

Ketika Sensasi Menggeser Etika: Geuchik Aron Geulumpang VII Disudutkan Berita Pungli Diduga Tanpa Konfirmasi

Senin, 28 September 2026 - 09:02

Bentuk Tim Asesmen Terpadu, BNN Denpasar Tekankan Penindakan Tegas dan Rehabilitasi Humanis

Senin, 28 September 2026 - 08:57

Saweu Keude Kopi, Kapolsek Idi Tunong Ajak Warga Waspadai Hoaks dan Narkoba

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Tiga Aplikasi, Ujian Baru Perizinan

Senin, 28 Sep 2026 - 12:21