Anggaran Militer vs Gaji Guru: Di Mana Sebenarnya Letak Kekuatan Sebuah Bangsa

- Editor

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:24

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bekasi/Tribuneindonesia.com

Tidak ada yang menyangkal bahwa negara membutuhkan pertahanan. Kekuatan militer memang diperlukan untuk menjaga kedaulatan, melindungi wilayah, dan memberi rasa aman kepada rakyat. Namun di sinilah persoalan yang semakin hari semakin terlihat jelas: ketika anggaran militer terus melonjak tanpa batas sementara anggaran untuk pendidikan dan kesejahteraan pendidik selalu dipotong dan dibatasi, maka bangsa ini sedang membangun kekuatan yang kelak akan menindas masa depannya sendiri. Sabtu 9 Agustus 2026

Ada perbedaan yang sangat mendasar yang harus dipahami oleh setiap pemimpin: Anggaran militer menjaga hari ini. Anggaran pendidikan menjaga hari esok. Jika negara mengeluarkan jauh lebih banyak dana untuk senjata daripada untuk guru, maka yang diutamakan adalah kemampuan mengancam, bukan kemampuan mencerdaskan. Yang dibangun adalah kekuatan untuk mengadu dan menakuti, bukan peradaban yang diisi oleh manusia-manusia yang cerdas, sejahtera, dan berkarakter.

Lihatlah Jepang: setelah Perang Dunia II, konstitusinya membatasi mereka tidak boleh memiliki militer untuk menyerang negara lain. Mereka tidak berlomba menumpuk senjata besar. Justru sebaliknya — mereka menempatkan pendidik di posisi paling terhormat, menaikkan gaji guru, dan menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama. Hasilnya? Jepang maju pesat, ekonominya kuat, dan dihormati dunia — bukan karena senjatanya, tetapi karena rakyatnya cerdas dan terdidik.

Lihatlah Kosta Rika: negara ini secara tegas menghapuskan tentaranya pada tahun 1949. Anggaran yang tadinya untuk militer sepenuhnya dialihkan ke pendidikan dan kesehatan. Mereka membangun sekolah di bekas barak militer. Hasilnya? Tingkat melek huruf mencapai 98%, angka harapan hidup setara negara maju, dan mereka hidup damai tanpa tentara selama lebih dari 75 tahun. Mereka membuktikan: kekuatan sejati bukan di peluru, tapi di kecerdasan rakyat.

Begitu juga Islandia: negara ini tidak memiliki tentara tetap sama sekali. Tidak ada angkatan darat, laut, maupun udara. Namun mereka menjadi salah satu negara paling makmur, paling damai, dan paling sejahtera di dunia. Mereka mengandalkan pendidikan, kerja sama internasional, dan kemampuan rakyatnya — bukan kekuatan senjata.

Baca Juga:  HRD Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Jaga Perdamaian Aceh

Berbeda dengan apa yang sering terjadi di banyak negara: setiap kali ada rencana menaikkan kesejahteraan guru, jawabannya selalu sama — “tidak ada anggaran”. Namun ketika datang ke urusan pertahanan, pembelian senjata, dan tunjangan militer, dana puluhan triliun seketika tersedia. Di sinilah letak ketidakadilan: negara seolah-olah lebih takut pada ancaman dari luar, daripada pada kebodohan yang tumbuh di dalam rumahnya sendiri.

Kita tidak menyarankan agar militer dibubarkan atau pertahanan diabaikan. Yang kami tanyakan sangat sederhana: mengapa prioritasnya terbalik? Seorang guru yang digaji rendah, yang harus mencari pekerjaan sampingan, yang tidak tenang menafkahi keluarganya — ia tidak akan mampu mencerdaskan anak bangsa secara maksimal. Dan jika generasi yang datang tidak cerdas, tidak sejahtera, dan tidak berkarakter, senjata secanggih apa pun tidak akan berguna.

Sejarah telah mencatat berulang kali: bangsa yang kuat senjatanya tetapi lemah pendidikannya, pada akhirnya akan runtuh dari dalam. Kekuatan militer bisa membuat orang takut untuk sementara waktu. Tetapi hanya peradaban yang dibangun di atas kecerdasan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat — hanya itulah yang akan diingat, dihormati, dan bertahan berabad-abad.

Maka inilah panggilannya: Tetap jaga keamanan, itu kewajiban. Tetapi jangan pernah menjadikan pertahanan sebagai alasan untuk membiarkan pendidikan tertinggal. Karena pada hari yang paling sulit nanti, yang akan menyelamatkan bangsa ini bukanlah peluru yang ditembakkan — melainkan pemikiran, kebijaksanaan, dan keteguhan hati dari generasi yang dididik oleh guru yang dihargai dan disejahterakan hari ini.

Berita Terkait

Polres Bireuen Gencarkan Patroli Cegah Karhutla di Samalanga dan Peusangan
Tiga Hari Syawaludin Hilang Ditelan Sungai Sena, Pencarian Tim SAR Berpacu dengan Arus Deras
Menebar Kepedulian, Menghadirkan Kebahagiaan: Rutan Cipinang Gelar IMIPAS Peduli 2026
Danrem Bhaskara Jaya Ajak Prajurit Teladani Semangat Pahlawan melalui Doa Syukur Hari Pahlawan 2026
Antisipasi Bencana, Polres Bireuen Gelar Latihan Penyelamatan Korban Tenggelam di Laut Jangka
Sinergi Cegah Narkoba, Razia Gabungan di Lapas Bireuen Pastikan Kamar Hunian Steril
FPI Bireuen Salurkan Santunan untuk Anak Yatim Korban Banjir Bandang di Samalanga
Jasa Raharja Raih Dua Penghargaan IDTI Awards 2026 atas Transformasi Digital Berorientasi Masyarakat
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 10:50

Jelang HUT Ke-19 PPWI di Bandar Lampung, Perwakilan Aceh Tamiang Siap Hadir

Minggu, 8 November 2026 - 09:09

Keluarga Inaku-Moputi Gelar Ritual Bale lo Paesa Kenang 40 Hari Wafatnya Indrawati Arsyad

Minggu, 8 November 2026 - 05:19

Puluhan Nakes RSUD Raja Ampat Refreshing di Pantai, Direktur Bangun Kekompakan dan Sinergitas

Minggu, 8 November 2026 - 03:45

Polres Jembrana Ajak Generasi Muda Bersatu Cegah Narkoba dan Balapan Liar

Minggu, 8 November 2026 - 03:29

PEPABRI dan LSM KPK RI Serukan Jaga Perdamaian Aceh: Jangan Terprovokasi, Bijak Bermedia Sosial!

Sabtu, 7 November 2026 - 13:20

Hengky Honandar Sabet Penghargaan Kepala Daerah Terbaik Penggerak Ekspor di PWI Sulut Awards 2026

Sabtu, 7 November 2026 - 12:43

Peringati 40 Hari Wafatnya Pendiri Komunitas Tasumaro, Keluarga Besar Manuel Gelar Doa Bersama di Wangurer Bitung

Sabtu, 7 November 2026 - 01:09

PENCURIAN PERANGKAT BTS XL SMART KEMBALI TERULANG! JARINGAN ACEH TAMIANG TERGANGGU, WARGA TERANCAM TERISOLASI KOMUNIKASI

Berita Terbaru

Peristiwa, kecelakaan dan bencana Alam

Tiga Hari Syawaludin Hilang Ditelan Sungai Sena, Pencarian Tim SAR Berpacu dengan Arus Deras

Minggu, 8 Nov 2026 - 06:29