TribuneIndonesia.com I Deli Serdang-Tangis pecah di hadapan para petugas saat proses penerimaan peserta didik Sekolah Rakyat dimulai. Bukan lantaran anak-anak menolak berangkat, melainkan karena para orang tua sulit melepaskan buah hati mereka. Perpisahan itu menjadi gambaran bahwa kemiskinan bukan satu-satunya hambatan menuju pendidikan. ada rasa cemas, keterikatan keluarga, serta keterbatasan pandangan yang ikut membayangi langkah menuju ruang belajar baru.
Pemandangan itulah yang kembali disinggung dr. H. Asri Ludin Tambunan ketika menerima Kepala Sentra Insyaf bersama pengurus Yayasan Laskar Pelangi Tanjung Rejo di Lubuk Pakam pada Selasa, 28 Juli 2026. Pertemuan itu mengulas dua agenda berbeda, namun bertemu pada satu tujuan. membuka jalan bagi anak-anak agar memperoleh masa depan lebih baik tanpa tercerabut dari akar budayanya.
Sekolah Rakyat di Kecamatan Hamparan Perak dijadwalkan memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah pada 30 Juli. Program tersebut merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, menyasar keluarga pada kelompok ekonomi terbawah.
Asri Ludin menuturkan proses perekrutan peserta didik berlangsung penuh tantangan. Persoalan ekonomi memang menjadi hambatan, tetapi bukan faktor tunggal. Banyak orang tua belum yakin melepas anak mengikuti pendidikan berasrama. Air mata pun mengiringi proses itu.
Perhatian tidak berhenti pada pendidikan anak. Asri Ludin meminta perangkat terkait memastikan keluarga peserta didik memperoleh bantuan sosial sesuai ketentuan. harapannya, beban keluarga ikut berkurang sehingga anak-anak dapat menempuh pendidikan tanpa dihantui persoalan kebutuhan sehari-hari.
Kepala Sentra Insyaf, Langgeng Setiawan, menjelaskan pembukaan Sekolah Rakyat bakal diikuti 270 peserta didik baru. Rinciannya, 60 murid tingkat sekolah dasar, 90 pelajar sekolah menengah pertama, dan 120 pelajar sekolah menengah atas. Mereka bergabung bersama 149 peserta didik yang telah lebih dahulu menempuh pendidikan.
Sejumlah bangunan penunjang masih berada pada tahap penyelesaian dan ditargetkan rampung pada 8 Agustus. Meski demikian, kegiatan pengenalan lingkungan sekolah tetap berjalan sesuai jadwal. Seluruh peserta didik baru juga dijadwalkan mengikuti program Cek Kesehatan Gratis pada 31 Juli.
Langgeng menilai dukungan berbagai pihak membuat persiapan berjalan lebih cepat. Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian ialah keberadaan lapangan sepak bola dan lintasan jogging, sarana yang belum dimiliki lokasi Sekolah Rakyat lain.
Percakapan siang itu kemudian bergeser menuju soal budaya. Yayasan Laskar Pelangi Tanjung Rejo membawa rencana menggelar Pekan Budaya Permainan Tradisional pada 8 hingga 9 Agustus di Alun-alun Percut Sei Tuan. Agenda tersebut menghidupkan kembali permainan yang perlahan menghilang dari keseharian anak-anak akibat gempuran hiburan digital.
Asri Ludin menyambut rencana itu dengan membuka akses pemanfaatan ruang terbuka yang telah tersedia. Ia juga meminta panitia berkoordinasi dengan pihak kecamatan agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar.
Siddik, mewakili yayasan, mengatakan kegiatan tersebut bukan hanya menghadirkan permainan tradisional. Anak-anak juga memperoleh panggung untuk menampilkan tari dan musik tradisional. Yayasan yang berdiri sejak 2019 itu membina peserta berusia delapan hingga tujuh belas tahun dan tahun ini memperoleh dukungan dari Kementerian Kebudayaan.
Dua agenda yang dibahas pada hari itu berangkat dari jalur berbeda. Satu membuka akses pendidikan bagi anak-anak keluarga kurang mampu. Yang lain menghidupkan kembali permainan warisan masa lalu. Keduanya bertemu pada tujuan yang sama.memberi ruang tumbuh bagi generasi muda, tanpa memutus hubungan dengan identitas budayanya.(Ilham Gondrong)


















