JJ ” Anggota DPRK Soroti Rekrutmen MAA Simeulue Prioritaskan Tokoh Adat Non-Pensiunan”

- Editor

Rabu, 15 Juli 2026 - 14:28

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

filter: 0; jpegRotation: 90; fileterIntensity: 0.000000; filterMask: 0; module:1facing:0; 
hw-remosaic: 0; 
touch: (-1.0, -1.0); 
modeInfo: ; 
sceneMode: Auto; 
cct_value: 0; 
AI_Scene: (-1, -1); 
aec_lux: 96.0; 
hist255: 0.0; 
hist252~255: 0.0; 
hist0~15: 0.0;

filter: 0; jpegRotation: 90; fileterIntensity: 0.000000; filterMask: 0; module:1facing:0; hw-remosaic: 0; touch: (-1.0, -1.0); modeInfo: ; sceneMode: Auto; cct_value: 0; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 96.0; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~15: 0.0;

SimeulueTribune Indonesia .com Proses rekrutmen kepengurusan Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Simeulue kini tengah menjadi sorotan dari salah satu politisi PKB yang di kenal dengan panggilan JJ menilai, lembaga adat yang sakral ini seharusnya diisi oleh figur-figur yang benar-benar memahami, menguasai, dan hidup di dalam tatanan adat istiadat setempat. Langkah ini dinilai krusial agar MAA tidak kehilangan Ruh dan fungsinya sebagai benteng pertahanan Kebudayaan di Wilayah Kepulauan Simeulue ini.
” Jelasnya JJ.

Menurut pandangan JJ kriteria utama calon pengurus MAA yang ideal adalah mereka yang rekam jejaknya sudah “bergelimang” langsung dengan hukum adat di tingkat akar rumput. Figur seperti mantan Kepala Mukim, mantan Kepala Desa (Keuchik), hingga dianggap sebagai kandidat yang paling tepat. Pengalaman langsung mereka dalam menyelesaikan sengketa adat dan memimpin masyarakat menjadi modal sosial yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.

Namun, realita di lapangan setiap kalinya rekruitmen MAA menunjukkan kecenderungan yang berbeda dan menuai kritik Saat ini, banyak pengurus yang direkrut justru berasal dari kalangan pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan masyarakat yang masih awam dibidang adat .

 

Kebijakan ini dinilai kurang tepat sasaran karena para pensiunan tersebut secara finansial sudah mapan dengan jaminan pensiun serta masa pengabdian formal mereka pun sebenarnya telah dipensiunkan oleh negara.”Pemerintah saja sudah memberhentikan masa kerja mereka karena faktor usia yang sudah mencapai 58 hingga 60 tahun, dan negara sudah menjamin biaya hidup mereka lewat uang pensiun. Mengapa tidak memberikan kesempatan ini kepada tokoh adat lain yang tidak memiliki penghasilan tetap?” ujar Johan Jalla anggota dewan perwakilan masyarakat simeulue ke media ini .

Baca Juga:  Sugiharjo Bebas Banjir Sodetan 1.500 Meter dan Normalisasi Sungai Akhiri Penantian 22 Tahun

” JJ ” Aspek keadilan sosial dan kesejahteraan para tokoh adat non-pensiunan juga menjadi poin penting yang disuarakan. Sangat disayangkan apabila para mantan pemangku adat yang telah berjasa besar di desa harus berjuang keras di masa tua , seperti terpaksa jadi nelayan atau berkebun hanya karena tidak memiliki penghasilan pasca pengabdian. Mengkaryakan mereka di MAA dipandang sebagai bentuk apresiasi “jasa” yang nyata dari daerah atas dedikasi mereka selama ini terhagai ” fungkas JJ.

Merujuk pada prinsip penempatan kerja, pengisian jabatan di MAA harus berlandaskan pada asas keahlian nyata. Mantan Kepala Mukim dan Kepala Desa adalah para praktisi yang memahami detail struktur adat Simeulue secara pasti mulai dari aturan adat istiadat ”  dan ketokohan nya di kalangan masyarakat.

Sebaliknya, kalangan mantan birokrat dinilai dan masyarakat yang cenderung sedikit awam menguasai  detil nya adat istiadat  simeulue jangan di paksakan , Oleh karena itu  Pemerintah Kabupaten Simeulue diharapkan lebih bijaksana dan jeli dalam mengambil keputusan rekrutmen di MAA ini.

Harapan besar ditumpukan agar pemerintah daerah benar-benar memprioritaskan para tokoh adat non-pensiunan yang telah berjasa di pulau ini. Langkah tersebut diyakini tidak hanya akan menyelamatkan eksistensi adat istiadat Simeulue agar tetap dipegang oleh ahlinya, tetapi juga menghadirkan keadilan ekonomi bagi para penjaga nilai leluhur ” Fungkas JJ.(*)

Berita Terkait

Jelang HUT Ke-19 PPWI di Bandar Lampung, Perwakilan Aceh Tamiang Siap Hadir
Keluarga Inaku-Moputi Gelar Ritual Bale lo Paesa Kenang 40 Hari Wafatnya Indrawati Arsyad
Puluhan Nakes RSUD Raja Ampat Refreshing di Pantai, Direktur Bangun Kekompakan dan Sinergitas
MN KAHMI Desak Pengusutan Tuntas Dugaan Penyadapan Ilegal terhadap Presiden Prabowo, Singgung Potensi Makar
Polres Jembrana Ajak Generasi Muda Bersatu Cegah Narkoba dan Balapan Liar
PEPABRI dan LSM KPK RI Serukan Jaga Perdamaian Aceh: Jangan Terprovokasi, Bijak Bermedia Sosial!
Kadis Kominfo Altin Tumengkol Bekali PMR SMPN 1 Bitung Ilmu Bermedsos Sehat
Hengky Honandar Sabet Penghargaan Kepala Daerah Terbaik Penggerak Ekspor di PWI Sulut Awards 2026
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 10:50

Jelang HUT Ke-19 PPWI di Bandar Lampung, Perwakilan Aceh Tamiang Siap Hadir

Minggu, 8 November 2026 - 09:09

Keluarga Inaku-Moputi Gelar Ritual Bale lo Paesa Kenang 40 Hari Wafatnya Indrawati Arsyad

Minggu, 8 November 2026 - 05:19

Puluhan Nakes RSUD Raja Ampat Refreshing di Pantai, Direktur Bangun Kekompakan dan Sinergitas

Minggu, 8 November 2026 - 03:45

Polres Jembrana Ajak Generasi Muda Bersatu Cegah Narkoba dan Balapan Liar

Minggu, 8 November 2026 - 03:29

PEPABRI dan LSM KPK RI Serukan Jaga Perdamaian Aceh: Jangan Terprovokasi, Bijak Bermedia Sosial!

Sabtu, 7 November 2026 - 13:20

Hengky Honandar Sabet Penghargaan Kepala Daerah Terbaik Penggerak Ekspor di PWI Sulut Awards 2026

Sabtu, 7 November 2026 - 12:43

Peringati 40 Hari Wafatnya Pendiri Komunitas Tasumaro, Keluarga Besar Manuel Gelar Doa Bersama di Wangurer Bitung

Sabtu, 7 November 2026 - 01:09

PENCURIAN PERANGKAT BTS XL SMART KEMBALI TERULANG! JARINGAN ACEH TAMIANG TERGANGGU, WARGA TERANCAM TERISOLASI KOMUNIKASI

Berita Terbaru

Peristiwa, kecelakaan dan bencana Alam

Tiga Hari Syawaludin Hilang Ditelan Sungai Sena, Pencarian Tim SAR Berpacu dengan Arus Deras

Minggu, 8 Nov 2026 - 06:29