Bitung | Tribuneindonesia.com – Menjaga stabilitas keamanan di wilayah heterogen seperti Kota Bitung bukanlah perkara mudah bagi seorang aparat penegak hukum. Kota pelabuhan yang dinamis ini kerap dihadapkan pada potensi gesekan sosial, konflik antarkelompok ormas, hingga dinamika politik lokal yang membutuhkan penanganan luar biasa sensitif.
Namun, sejak resmi menakhodai Kepolisian Resor (Polres) Bitung, AKBP Albert Zai, S.I.K., M.H., berhasil membuktikan kapabilitasnya.
Melalui serah terima jabatan (sertijab) yang digelar pada 30 Januari 2024, perwira menengah ini melangkah masuk ke Kota Bitung dengan memikul tanggung jawab besar untuk menjaga keamanan wilayah tersebut secara sah dan meyakinkan.
Sejak awal menapakkan kaki di markas Polres Bitung, sederet problem besar langsung menguji kepemimpinan Albert Zai. Ketegangan horizontal dan perseteruan antar Ormas di pusat kota menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) krusial yang menuntut perhatian penuh dari sang Kapolres demi mencegah konflik meluas.
Tantangan tersebut kian berlipat ganda seiring bergulirnya agenda politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang sarat dengan tensi tinggi. Ditambah lagi dengan fluktuasi angka kriminalitas jalanan yang sempat merangkak naik, situasi praktis menguji ketahanan dan strategi jajaran kepolisian di bawah arahannya.
Kendati dikepung berbagai potensi konflik, situasi Bitung hingga kini terbukti tetap aman, damai, dan terkendali.
Keberhasilan menjaga kondusifitas ini tidak lepas dari aksi “tangan dingin” serta kepiawaian manajerial yang diterapkan oleh sang perwira dalam meredam setiap letupan sosial di tengah masyarakat.
Komitmen Albert Zai dalam mewujudkan rasa aman bagi warga Bitung dinilai banyak pihak patut diacungi jempol.
Di kalangan anggotanya, ia dikenal sebagai sosok pimpinan yang seakan tak pernah tidur dan enggan beristirahat sebelum memastikan setiap sudut wilayah Bitung benar-benar terbebas dari gangguan kamtibmas.
“Aksi nyata kepeduliannya terlihat jelas saat angka kriminalitas sempat meninggi. Albert Zai memilih tidak hanya duduk di balik meja kerja, melainkan turun langsung ke lapangan bersama tim opsnal.”
Ia memimpin langsung operasi gabungan skala besar di jalanan, menyisir wilayah rawan untuk menekan ruang gerak para pelaku kejahatan. Kerja keras yang konsisten tersebut akhirnya membuahkan pengakuan di tingkat nasional dari Korps Bhayangkara.
Kapolri memberikan penghargaan bergengsi dalam kategori Pelayanan Prima kepada Polres Bitung. Penghargaan ini menjadi bukti sahih bahwa transformasi pelayanan dan keamanan yang digagasnya berjalan efektif di masyarakat.
Jika menengok ke belakang, ketangguhan mental sang perwira menempa jalan panjang yang berakar dari tanah kelahirannya di Pulau Nias, Sumatera Utara.
Dilahirkan pada bulan Januari tahun 1982, Albert menghabiskan masa kecil hingga remajanya dengan menuntaskan pendidikan dasar (SD), menengah (SMP), hingga tingkat atas (SMA) di pulau terluar tersebut.
Setamat dari bangku SMA di Nias pada tahun 2001, pemuda Albert memberanikan diri untuk mengadu nasib dengan mendaftar ke Akademi Kepolisian (Akpol). Proses pendaftaran tersebut bahkan sudah ia persiapkan sejak dirinya masih duduk di bangku kelas 3 SMA demi mengejar cita-cita masa kecilnya.
Berkat ketekunan dan penyertaan yang ia yakini sebagai kebaikan Tuhan, Albert berhasil melewati seluruh tahapan seleksi masuk Akpol yang dikenal sangat ketat dalam sekali percobaan.
Ia resmi dinyatakan lulus sebagai taruna pada tahun 2001 dan memulai pendidikan kedisplinan yang semi-militer di Semarang.
Tiga setengah tahun menempuh pendidikan yang menguras fisik dan pikiran, Albert akhirnya berhasil menyelesaikan masa tarunanya dengan baik pada tahun 2004. Ia resmi dilantik menjadi perwira remaja Polri bersama rekan-rekan seangkatannya yang bernaung di bawah nama Batalyon Tatag Trawang Tungga.
Sebagai perwira muda, penempatan pertama Albert Zai diarahkan ke wilayah Polda Nusa Tenggara Barat (NTB). Di pulau seribu masjid inilah ia mulai mengasah kemampuan teritorinya secara berjenjang, mulai dari menjabat sebagai Kanit Opsnal, Kanit Penyidik, hingga puncaknya dipercaya mengemban amanah sebagai Kapolsek.
Setelah kurang lebih lima tahun mendedikasikan dirinya di NTB, Albert mengambil langkah maju untuk mengembangkan keilmuan kepolisiannya.
Ia mengikuti seleksi masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan berhasil dinyatakan lulus untuk menempuh studi lanjutan pada tahun 2010.
Dua tahun berselang, tepatnya pada tahun 2012, Albert resmi menyelesaikan pendidikan di PTIK dan berhak menyandang gelar Sarjana Ilmu Kepolisian (S.I.K.). Berbekal kualifikasi baru tersebut, mutasi jabatan kemudian membawanya bergeser ke wilayah hukum Polda Sumatera Barat (Sumbar).
Roda karier Albert di ranah Minang berjalan sangat dinamis dan didominasi oleh dunia reserse kriminal yang penuh tantangan. Selama hampir satu dekade bertugas di Sumatera Barat, ia tercatat pernah memegang posisi strategis sebagai Kasat Reskrim sebanyak tiga kali di polres yang berbeda, serta dipercaya menjabat sebagai Kabag Ops.
Rekam jejaknya di ranah hukum kian solid setelah ia dipercaya menduduki jabatan Wakapolres sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya ditarik ke markas polda untuk menjabat sebagai Kasubdit di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus), baik yang membidangi kasus perbankan maupun tindak pidana tertentu (Pindas).
Bagi Albert, pengabdian selama kurang lebih 10 tahun di Sumatera Barat tidak hanya mengukir prestasi karier, tetapi juga memberikan berkat personal yang luar biasa.
Di provinsi inilah keempat buah hatinya tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki lahir ke dunia, menjadi pelengkap kebahagiaan hidup di tengah kesibukan dinas.
Hasrat untuk terus berkembang membuat Albert memutuskan mendaftar pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimen) Polri. Setelah mencoba beberapa kali dengan penuh kesabaran, pintu kelulusan Sespimen akhirnya terbuka lebar bagi dirinya pada tahun 2022.
Purnapendidikan Sespimen, garis tangan penempatan membawa Albert Zai bergeser ke arah utara Indonesia, tepatnya di Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara pada akhir tahun 2022.
Memasuki bulan Januari 2023, pangkatnya resmi dinaikkan satu tingkat lebih tinggi menjadi Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) setelah dinilai memenuhi seluruh kriteria performa.
Menariknya, usai menyandang pangkat AKBP, Albert justru ditempatkan pada Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) sebagai Kasubdit Ekonomi.
Posisi ini menjadi tantangan baru karena sepanjang kariernya ia murni berbasis di bidang reserse dan bahkan telah dua kali menempuh pendidikan kejuruan reskrim di Megamendung.
Satu tahun menjabat di dunia intelijen memberikan perspektif baru bagi Albert mengenai teknik dan taktik deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan.
Hingga akhirnya pada Januari 2024 tepat dua hari setelah hari ulang tahunnya Albert menerima amanah tertinggi untuk memimpin satuan wilayah sebagai Kapolres Bitung.
Perjalanan transisi kepemimpinan tersebut berlangsung cepat, dimulai dari prosesi serah terima jabatan pada 23 Januari, administrasi sertijab pada tanggal 30, hingga kedatangan resminya di Kota Bitung pada 1 Februari 2024. Tugas awal diakuinya terasa cukup berat mengingat ia harus menggantikan senior yang juga memiliki rekam jejak mumpuni.
Kendati demikian, melalui pendekatan yang humanis namun tegas, AKBP Albert Zai kini sukses mengonsolidasikan kekuatannya.
Deretan prestasi dan penghargaan, baik dari tingkat pusat maupun daerah, kini terus mengalir sebagai bentuk pengakuan atas stabilitas Kota Bitung yang tetap terjaga aman berkat kepemimpinan tangan dinginnya. (kiti)















