Talaud, Sulut | TribuneIndonesia.com
Jagat maya baru-baru ini digemparkan oleh kabar dugaan aksi kekerasan yang melibatkan oknum personel TNI Angkatan Laut (Lanal Melonguane) terhadap warga sipil, Jumat (23/01/26).
Insiden yang memicu kemarahan publik ini mencuat setelah akun media sosial atas nama Okbrin Maurits Apena mengunggah kronologi kejadian, disertai seruan agar masyarakat lebih waspada terhadap tindakan oknum aparat yang tidak bertanggung jawab.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa nahas tersebut terjadi di kawasan Pelabuhan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
Aksi penganiayaan dilaporkan berlangsung pada Kamis malam (22/1), sekitar pukul 23.45 WITA.
Suasana pelabuhan yang semula tenang mendadak mencekam saat keributan pecah di area yang sering digunakan warga untuk bersantai tersebut.
Kejadian bermula ketika korban bersama sejumlah rekannya tengah menghabiskan waktu dengan memancing di dermaga.
Ketenangan mereka terusik oleh kehadiran oknum anggota Lanal yang diduga dalam pengaruh alkohol.
Oknum tersebut berteriak dan mengeluarkan makian kasar, sehingga korban berinisiatif memberikan teguran agar tindakan tersebut dihentikan karena mengganggu kenyamanan publik.
Alih-alih meredam situasi, teguran tersebut justru memicu amarah pelaku. Tanpa dialog lebih lanjut, oknum TNI AL bersama rekan-rekannya diduga langsung melakukan pengeroyokan secara membabi buta terhadap korban.
Akibat serangan fisik tersebut, korban dilaporkan mengalami luka serius dan kondisi babak belur di lokasi kejadian.
Keadaan semakin memanas saat pihak keluarga dan sahabat korban tiba di lokasi untuk meminta pertanggungjawaban.
Namun, upaya diplomasi tersebut dibalas dengan tindakan represif serupa. Beberapa orang yang datang membantu justru turut menjadi sasaran pemukulan oleh para pelaku, bahkan salah satu rekan korban dilaporkan sampai jatuh terhempas ke laut akibat tindak kekerasan tersebut.
Hingga saat ini, unggahan tersebut terus mendapat atensi luas dari netizen yang menuntut adanya tindakan tegas dan transparansi hukum dari pihak pimpinan TNI AL.
Masyarakat berharap agar kasus ini diusut tuntas untuk memastikan tidak ada lagi warga sipil yang menjadi korban arogansi oknum aparat, serta menjaga integritas institusi militer di wilayah Sulawesi Utara. (kiti)










