BIREUEN, ACEH/Tribuneindonesia.com
Peletakan batu pertama Sekolah Rakyat di Desa Bunyot, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, bukan sekadar agenda simbolik pembangunan fisik, melainkan penegasan arah kebijakan negara dalam menempatkan desa sebagai titik tolak pemerataan pendidikan nasional. Senin 12 Januari 2026.

Langkah yang dihadiri langsung Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, ini merefleksikan komitmen pemerintah daerah dalam mengawal implementasi program strategis Pemerintah Pusat yang berorientasi pada keadilan sosial, khususnya bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang selama ini berada di pinggiran akses pendidikan bermutu.

Dalam pernyataannya, Bupati Mukhlis menekankan bahwa Sekolah Rakyat harus dipahami sebagai instrumen pembangunan manusia jangka panjang, bukan proyek jangka pendek. Pendidikan, menurutnya, merupakan fondasi pembentuk karakter, etika sosial, dan daya saing generasi muda Bireuen di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
“Sekolah Rakyat bukan hanya tentang ruang kelas dan bangunan, tetapi tentang keberpihakan negara kepada rakyat kecil,” tegasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kesinambungan dukungan Pemerintah Pusat, tidak terbatas pada pembangunan awal, tetapi meliputi sistem pembiayaan berkelanjutan, ketersediaan tenaga pendidik yang kompeten, sarana pendukung pembelajaran, serta kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masyarakat desa.
Masyarakat Desa Bunyot menyambut pembangunan ini dengan optimisme tinggi. Bagi warga, kehadiran Sekolah Rakyat di wilayah mereka bukan hanya membuka akses pendidikan yang lebih dekat dan terjangkau, tetapi juga menjadi simbol harapan baru bagi masa depan anak-anak desa yang selama ini harus berjuang melampaui keterbatasan struktural.
Pemerintah Kabupaten Bireuen menegaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat akan dikawal secara serius, transparan, dan terbuka terhadap kolaborasi lintas sektor—baik dengan pemerintah pusat, lembaga pendidikan, maupun elemen masyarakat sipil—demi memastikan tujuan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan benar-benar terwujud.
Peletakan batu pertama ini menjadi penanda bahwa pembangunan pendidikan tidak lagi berpusat di kota, melainkan mulai bertumbuh dari desa, dari rakyat, dan untuk masa depan bangsa.(Arizal Mahdi)














