Pidie | TRIBUNEIndonesia.com
Teuku Mustafa Ab, wartawan Tribun Indonesia, membantah keras tuduhan pemerasan terhadap para Geuchik di Kabupaten Pidie yang diarahkan kepada dirinya dan sejumlah rekannya. Ia menilai tudingan tersebut fitnah keji yang sengaja digoreng untuk menjatuhkan marwah profesi wartawan.
“Berita itu murni fitnah. Saya dan rekan-rekan tidak pernah melakukan tindakan pemerasan seperti yang dituduhkan. Tuduhan ini hanya upaya kotor untuk membunuh karakter dan merusak citra pers,” tegas Teuku Mustafa Ab.
Sebagai putra daerah Pidie yang kini berdomisili di luar wilayah tersebut, ia merasa wajib meluruskan informasi sesat yang beredar di publik.
“Saya memahami betul kondisi di kampung halaman. Isu pemerasan itu tidak ada dasar sama sekali. Ini adalah hoaks yang dipelintir demi kepentingan pihak tertentu,” tandasnya.
Sementara itu, Abdullah, perwakilan Forum Keuchik Muara Tiga, juga menepis tudingan yang menyebutkan adanya pemerasan saat kunjungan sejumlah wartawan ke wilayahnya beberapa waktu lalu.
“Pertemuan itu hanya diskusi biasa, dalam suasana akrab dan bersahabat. Tidak ada tekanan, tidak ada intimidasi, apalagi permintaan melampaui batas,” tegas Abdullah.
Ia juga menjelaskan, bantuan transportasi ke Langsa yang diberikan kepada wartawan murni bentuk apresiasi Forum Keuchik Muara Tiga terhadap silaturahmi dan dukungan tugas jurnalistik.
“Tidak ada maksud tersembunyi. Kami sangat menyayangkan ada pihak yang dengan sengaja memelintir fakta dan menghembuskan isu fitnah. Ini jelas upaya merusak nama baik Forum Keuchik Muara Tiga sekaligus mencoreng profesi wartawan,” ujarnya.
Baik Teuku Mustafa maupun Forum Keuchik Muara Tiga menegaskan, mereka tidak akan tinggal diam. Pihak-pihak yang menyebarkan isu pemerasan disebut harus bertanggung jawab dan siap menghadapi konsekuensi hukum.
“Kami minta aparat penegak hukum menindak tegas penyebar fitnah ini. Jangan biarkan profesi wartawan dan lembaga masyarakat dijadikan sasaran tuduhan palsu. Jika perlu, kami akan menempuh jalur hukum agar fitnah semacam ini tidak terulang kembali,” tutup Teuku Mustafa dengan nada geram. (Tim)