Selama Puasa Korban Pasca bencana di Bireuen Harus Bertahan di Tenda Darurat

- Editor

Kamis, 19 Februari 2026 - 09:15

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seandainya Ada Huntara Kami Tidak Perlu Tinggal di Tenda Darurat Berbulan-Bulan

BIREUEN/Tribuneindonesia.com

Masyarakat korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen, Aceh, hingga kini masih bertahan di tenda darurat. Betapa tidak, selain tidak adanya hunian yang layak atau hunian sementara (huntara), hunian tetap (huntap) yang dijanjikan Pemkab Bireuen pun tidak kunjung dibangun.

Kondisi ini sangat memprihatinkan dan sangat meresahkan para pengungsi korban bencana alam di kabupaten tersebut. Pasalnya, selama bulan suci Ramadhan ini, mereka mengaku harus bertahan dibawah tenda darurat. Saat musim hujan air masuk ke dalam tenda, saat kemarau cuaca panas dan gerah di dalam tenda.

Bahkan diperkirakan para korban banjir dan tanah longsor di Bireuen yang rumah dan tanahnya telah hilang ditelan sungai dan tertimbun longsor, serta yang belum memiliki tanah, akan tinggal dibawah tenda berbulan-bulan bahkan diperkirakan lebih setahun harus bersabar di lokasi pengungsian.

“Kami belum memiliki tanah, rumah dan tanah kami telah hilang ditelan arus sungai saat banjir dan tanah longsor menerjang desa kami pada 26 November 2025 lalu, seandainya ada huntara kami tidak perlu berbulan-bulan tinggal dibawah tenda darurat seperti ini,” kata pengungsi korban banjir dan tanah longsor di Kecamatan Juli, Bireuen, Kamis (19/2/2026).

Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun wartawan dari berbagai sumber menyebutkan, saat ini jumlah pengungsi tersebar di 28 desa di tujuh kecamatan dalam Kabupaten Bireuen yaitu, Kecamatan Kutablang, Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, Jangka, Juli dan Kecamatan Jeumpa.

Salah satunya lokasi pengungsian adalah di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli Bireuen. Sebanyak 43 Kepala Keluarga (KK) dan ratusan jiwa korban banjir dan tanah longsor masih bertahan di tenda darurat, tepatnya di lintas nasional Bireuen-Takengon Km 9.

Baca Juga:  ​Warga Madidir Ure Resah, Fenomena Getaran Misterius di Bitung Viral di Media Sosial

Para pengungsi yang masih bertahan dibawah tenda darurat di hampir semua kecamatan yang terdampak bencana mayoritas anak-anak, kaum perempuan dan lanjut usia.

Mereka bertahan di tenda karena rumah mereka hancur diterjang banjir bandang akhir November lalu dan hingga kini belum dibangun rumah hunian yang layak huni. Ditenda darurat terdapat tumpukan tas berisi baju, kardus berisi perlengkapan warga dan juga ada kompor, timba, maupun peralatan lainnya.

Padahal di Desa Bale Panah Kecamatan Juli, sudah dibangun tiga unit rumah percontohan hunian tetap (huntap). Namun rumah tersebut hingga kini juga belum bisa ditempati. Selain belum adanya aliran air bersih atau sumur, jaringan listrik pun belum tersambung.

Dikatakan warga setempat, tiga unit huntap yang dibangun di Desa Bale Panah, diduga hanyalah sebagai rumah contoh, meskipun ketiga rumah tersebut sudah ada pemiliknya. Buktinya, hingga sekarang belum ada tanda-tanda akan dibangun huntap lainnya. Padahal, Pemkab Bireuen sebelumnya berjanji akan membangun 1.000 unit huntap untuk tahap pertama di Kabupaten Bireuen.

Ini duga sebagai upaya untuk memberi angin segar kepada pengungsi korban bencana di Bireuen, tidak mungkin huntap selesai dibangun dalam waktu sekejap, seharusnya lebih dulu dibangun huntara atau hunian yang lebih layak, jangan dibiarkan masyarakat berbulan-bulan tinggal dibawah tenda darurat.

“Apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini, pengungsi harus makan sahur dan berbuka puasa dalam kondisi darurat di bawah tenda, jika ada huntara akan lebih nyaman, ini yang sangat kita sayangkan, seharusnya Pemkab Bireuen memikirkan kondisi seperti ini, jangan membiarkan pengungsi menderita dibawah tenda darurat,” ujar warga setempat. (*)

Berita Terkait

Muhammad Awaluddin: Ekosistem Terintegrasi Kunci Jasa Raharja Hadirkan Pelayanan Maksimal Kepada masyarakat
Memeriahkan HUT RI ke-81, Wakil Bupati Bireuen Bagikan Ratusan Bendera Merah Putih
Penyerahan Aset Renovasi Puskesmas Langsa Barat Berjalan Tertib, Pengelolaan Kekayaan Negara Ditegaskan
Pemimpin Bukan Mengubah-Ubah Kurikulum, Tapi Membangun Fondasi yang Kuat
Sambut HUT Kemerdekaan RI Ke 81 Wartawan Gayo Gelar Lomba Photo dan Karya Tulis Jurnalistik
Satgas TMMD ke-129 Kodim 0102/Pidie Tuntaskan Pembangunan Tempat Wudhu, Kini Siap Dimanfaatkan Santri dan Jamaah
Dr. Dedy Cahyadi, S.SiT., MT. Berhasil Raih Gelar Doktor dari ITL Trisakti
Guru adalah Pahlawan Sesungguhnya yang Membangun Peradaban Bangsa
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:45

Di Balik Cerita Zafira, Bakat Anak yang Mulai Diuji

Selasa, 11 Agustus 2026 - 00:43

Jejak India di Balik Promosi Wisata Sumatera

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:58

Lau Simeme Mulai Digenangi, Warga Hilir Diminta Waspada

Senin, 10 Agustus 2026 - 14:09

Coiling Perdana, Ujian Baru RSUD Amri Tambunan

Senin, 10 Agustus 2026 - 13:06

BUPATI SIMEULUE SAMPAIKAN PESAN KEPADA MAHASISWA BARU UTU KAMPUS PAHLAWAN NASIONAL

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:48

​Penuh Semangat, Kontingen SD Cendekia Girian Bawah Tempuh Rute Gerak Jalan Hingga Garis Finish

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:37

Langkah Cilik Semarakkan HUT RI, Bunda PAUD Lepas Lomba Gerak Jalan TK di Bitung

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:16

​Kawal Pembangunan Desa, Wali Kota Bitung Hengky Honandar Hadiri Pelantikan Srikandi Jaga Desa Sulut

Berita Terbaru

Internasional dan Nasional

Patroli Dharma Dewata, Imigrasi Bali Amankan Puluhan WNA Nakal

Selasa, 11 Agu 2026 - 12:33

Pemerintahan dan Berita Daerah

Di Balik Cerita Zafira, Bakat Anak yang Mulai Diuji

Selasa, 11 Agu 2026 - 10:45