TribuneIndonesia.com I Deli Serdang-Tepuk tangan pecah ketika barisan Paskibraka menyelesaikan tugasnya di Alun-Alun Lubuk Pakam pada Senin, 17 Agustus 2026. Beberapa menit sebelumnya, perhatian tertuju pada selembar Merah Putih yang perlahan turun dari tiangnya. di panggung kehormatan, dr. H. Asri Ludin Tambunan berdiri sebagai inspektur. namun, rangkaian perayaan itu menyisakan pertanyaan lain. apa yang sebenarnya hendak ditonjolkan setelah bendera kembali ke tempatnya.
Pemandangan sore itu tampak tertata. Personel Paskibraka menjalankan tugas tanpa gangguan. Komandan pasukan, Letnan Dua CPL. Faiz Zaid Al Adawi dari Yonif TP 852/Abimaya Bala Yuda, memberi aba-aba. Anggun Julia Br Barus dari SMA Negeri 1 Lubuk Pakam membawa baki. Rangga Kia Isdarta bertugas sebagai penggerek, Devit Agustinus Situmorang membawa bendera, sedangkan Khairul Fahmiy menjadi pembentang.
tidak ada kesalahan mencolok. tidak ada jeda yang membuat barisan terhenti. Setelah prosesi selesai, Asri Ludin Tambunan bersama Lom Lom Suwondo menyaksikan atraksi Paskibraka. Kepada para pelajar yang bertugas, Asri menyampaikan harapan agar pengalaman itu membentuk karakter dan berguna bagi masa depan.
Kalimat itu terdengar seperti penutup. tetapi agenda belum berakhir.
Sejumlah nama kemudian dipanggil untuk menerima penghargaan. ada penerima Satyalancana, penghargaan Ombudsman, penghargaan bagi BUMDes, guru penerima insentif, serta mereka yang memperoleh apresiasi dari Gebyar Olahraga.
Tujuh perusahaan juga menerima penghargaan atas dukungan terhadap pelaksanaan HUT APKASI ke-26. nama yang tercatat ialah PT Bank Sumut, PT Bank Rakyat Indonesia, PT Bank Tabungan Negara, PT Bank Syariah Indonesia, PT Bank Mandiri, PT Bank Mega Syariah, dan PT Angkasa Pura Aviasi.
di titik ini, rangkaian acara berubah wajah. Dari lapangan tempat para pelajar menunaikan tugas, perhatian bergeser kepada daftar penerima penghargaan dan pihak yang disebut ikut menopang kegiatan.
Dokumen acara mencatat penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi berbagai pihak. namun daftar itu juga layak dibaca lebih teliti. siapa yang memberi dukungan, bentuk dukungannya apa, dan berdasarkan mekanisme apa penghargaan diberikan.
Pertanyaan semacam itu penting karena sebuah penghargaan bukan hanya soal nama yang dipanggil ke panggung. ada proses administratif, dasar pemberian, serta pertanggungjawaban yang mengikuti setiap keputusan.
tidak ada keterangan bahwa pemberian penghargaan tersebut bermasalah. Tetapi keterbukaan mengenai dasar penilaian tetap menjadi bagian penting dari pengelolaan acara yang menggunakan nama dan fasilitas daerah.
Panggung kehormatan sore itu juga memperlihatkan susunan pejabat dan tamu undangan. Hadir Lom Lom Suwondo, Jelita Asri Ludin Tambunan, Asniar Lom Lom Suwondo, jajaran Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, serta undangan lainnya.
Perhatian kemudian kembali kepada Paskibraka.
bagi para pelajar, tugas mereka mungkin selesai ketika bendera dilipat dan barisan dibubarkan. Bagi penyelenggara, pekerjaan seharusnya tidak berhenti ketika tepuk tangan mereda. Ada catatan kegiatan, daftar penerima penghargaan, bentuk dukungan pihak ketiga, serta administrasi yang perlu dapat ditelusuri.
Sore itu, semuanya terlihat rapi. Justru karena itulah catatan administratif menjadi penting. Acara yang berjalan tanpa gangguan tidak otomatis membuat seluruh proses di balik panggung terbebas dari pertanyaan.
Merah Putih akhirnya tersimpan kembali. Lapangan perlahan kosong. Para peserta meninggalkan lokasi.
yang tersisa bukan hanya foto dan piagam penghargaan, melainkan jejak administrasi yang semestinya dapat dibaca siapa pun yang ingin mengetahui bagaimana sebuah perayaan kenegaraan disiapkan, siapa yang memperoleh penghargaan, dan atas dasar apa penghargaan itu diberikan.(Ilham Gondrong)
























