Penulis: Ilham Gondrong
TribuneIndonesia.com
Ada malam-malam yang tak pernah benar-benar selesai, meski waktu terus melangkah. Ada kenangan yang tetap hidup, meski dunia terus berubah. Dan bagi Dewi, malam ulang tahun Andra adalah salah satunya. Malam itu menjadi simpul dari sebuah kisah yang tak pernah benar-benar dimulai, tetapi juga tak pernah selesai.
Pesta ulang tahun Andra berlangsung sederhana namun hangat. Lampu-lampu kecil menggantung di halaman rumah, denting musik akustik mengalun lembut, dan tawa para tamu berpadu dengan aroma kopi dan kue manis. Di tengah semua itu, Dewi berdiri mematung sejenak ketika matanya bertemu dengan mata Andra.
Tatapan itu berbeda. Tak ada kata, hanya senyuman tipis yang menggurat di wajah Andra. Tapi senyuman itu… bukan senyuman biasa. Ada sesuatu yang dalam, yang terpendam, yang belum pernah terucap. Seolah lewat senyuman itu, Andra ingin berkata, “Aku menyayangimu, tapi tak bisa.”
Dewi membalas senyum itu, tapi dalam dadanya ada gemuruh yang tak bisa ia redam. Selama ini, Andra adalah teman terdekatnya, sosok yang selalu hadir dalam senang maupun susah. Tapi hari itu, di balik senyuman Andra, ia melihat sesuatu yang tak pernah ia duga sebuah rasa yang mungkin telah lama tumbuh dalam diam.
Namun di antara mereka ada dinding tak kasatmata. Dinding yang dekat, tapi tak bisa digapai. Mereka terlalu akrab untuk saling mencintai, terlalu takut kehilangan untuk mencoba lebih dari sekadar pertemanan. Kadang, dua hati bisa begitu dekat, namun tidak pernah bisa menyatu karena sesuatu yang disebut ketakutan: takut merusak, takut kehilangan, takut menghadapi jawaban.
Selepas pesta malam itu, Dewi pulang dengan hati yang penuh tanya. Ia berusaha menepis semua kemungkinan, mencoba berpikir logis. Mungkin ia hanya salah sangka. Mungkin Andra memang hanya tersenyum seperti biasa. Tapi hati kecilnya menolak. Ia tahu, ada sesuatu yang berbeda malam itu. Dan ia tahu, Andra ingin mengatakan sesuatu sesuatu yang akhirnya hanya disimpan dalam diam.
Andra, di sisi lain, duduk sendiri di kamarnya. Pesta telah usai, tamu telah pulang, tapi pikirannya tak tenang. Ia memutar ulang momen ketika matanya bertemu mata Dewi. Senyuman itu bukan tanpa makna. Ia ingin mengungkapkan semua, ingin mengatakan bahwa selama ini ia menyimpan rasa. Tapi lagi-lagi, ia kalah. Kalah oleh ketakutannya sendiri.
Sudah bertahun-tahun Andra memendam perasaan itu. Sejak pertama kali mereka berkenalan di bangku SMA, hingga kini ketika mereka sudah sama-sama sibuk dengan dunia kerja. Waktu mengubah banyak hal, tapi tidak perasaannya pada Dewi. Sayangnya, ia tak pernah menemukan momen yang tepat, atau mungkin keberanian yang cukup, untuk bicara.
Baginya, Dewi terlalu berharga untuk dijadikan taruhan dalam sebuah pengakuan. Ia tak ingin hubungan mereka berubah. Tak ingin merusak kedekatan yang selama ini telah mereka bangun dengan penuh kehangatan dan kepercayaan. Maka ia memilih diam. Diam yang terasa aman, meski menyakitkan.
Waktu terus berjalan. Minggu menjadi bulan, dan bulan menjadi tahun. Mereka masih sering bertemu, masih tertawa bersama, masih saling berbagi cerita dan keluh kesah. Tapi tak satu pun dari mereka membahas malam ulang tahun itu. Seolah sepakat dalam diam, bahwa apa pun yang mereka rasakan malam itu akan tetap tersimpan rapi dalam kotak rahasia bernama kenangan.
Namun kenangan bukan sesuatu yang bisa dilenyapkan begitu saja. Ia akan terus tinggal, menumpuk perlahan di sudut-sudut hati, menunggu waktu untuk dikenang kembali.
Pada suatu sore yang sepi, Dewi membuka album foto digital di ponselnya. Ia menemukan satu foto yang membuatnya diam lama: foto dirinya dan Andra di malam pesta itu. Mereka berdiri berdekatan, tersenyum ke arah kamera. Tapi ia tahu, senyuman mereka menyimpan banyak hal yang tak tertangkap lensa. Senyuman yang menggantungkan banyak tanya tanpa pernah terjawab.
Dewi menyentuh layar ponselnya pelan, seolah menyentuh waktu. Dalam diam, ia mengakui pada dirinya sendiri ia juga punya rasa yang sama. Tapi mungkin, seperti Andra, ia terlalu takut untuk mengakuinya.
Kadang cinta memang tak perlu selalu memiliki bentuk yang nyata. Ia bisa hidup dalam kenangan, dalam momen singkat yang terekam kuat dalam ingatan. Ia bisa bersembunyi di balik senyuman, dan tetap abadi di sana.
Kini, ketika mereka telah menjalani hidup masing-masing, ketika waktu telah membawa mereka ke arah yang berbeda, kenangan itu masih tetap tinggal. Senyuman itu… masih utuh dalam ingatan. Tak pernah pudar.
Mereka mungkin tak pernah menjadi sepasang kekasih, tak pernah saling mengucap cinta secara langsung. Tapi di balik senyuman itu, telah tercipta cinta yang paling tulus: cinta yang diam, yang tak menuntut balasan, yang hanya ingin melihat orang yang dicintai bahagia meski dari kejauhan.
Sebab cinta yang tak pernah tersampaikan bukan berarti tak pernah ada. Justru kadang, cinta seperti itu yang paling murni. Ia tak tercemar oleh harapan, tak rusak oleh kecewa. Ia hanya tinggal di hati… dan hidup sebagai kenangan.
Ilham TribuneIndonesia.com