Bitung | Tribuneindonesia.com – Fenomena iklim El Nino yang memicu kemarau panjang kini memberikan tekanan hebat terhadap pasokan air bersih bagi masyarakat Kota Bitung, Sulawesi Utara, Rabu (07/10/26).
Sumber mata air Danowudu, yang menjadi penopang utama layanan air minum daerah tersebut, mencatatkan penurunan debit air secara drastis.
Berdasarkan hasil pemantauan lapangan terbaru dari Perumda Air Minum Duasudara Kota Bitung, volume air yang terpancar dari sumber tersebut merosot hingga mencapai 60 persen dibandingkan kondisi normal.
Dampak penurunan ini langsung mengancam kelancaran distribusi air minum ke rumah-rumah warga. Mengingat peran vital mata air Danowudu dalam mendukung kebutuhan harian publik, pihak pengelola melabeli situasi ini sebagai kondisi yang sangat krusial.
Merespons krisis hidrologi yang kian mengkhawatirkan tersebut, jajaran Perumda Air Minum Duasudara bergerak cepat. Mereka tidak hanya mengandalkan strategi medis-teknis di lapangan, tetapi juga menempuh pendekatan spiritual.
Pada langkah terbarunya, manajemen dan jajaran staf Perumda mendatangi langsung lokasi mata air Danowudu untuk memanjatkan doa bersama di titik sumber air.
Aksi religi tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Perumda Air Minum Duasudara Kota Bitung, Alfred Salindeho, S.E., M.M., Prosesi ibadah berlangsung khidmat di tengah hamparan lokasi mata air yang mengering.
Suasana haru dan penuh kepasrahan menyelimuti jalannya ibadah saat seluruh jajaran memulainya dengan menyanyikan lagu pujian berjudul Bersyukur Kepada Tuhan.
Langkah memadukan penanganan teknis dan ibadah spiritual ini diambil karena manajemen menganggap situasi alam saat ini sudah berada di luar batas kendali fisik manusia.
Bagi seluruh jajaran Perumda, momentum doa bersama di lokasi terdampak ini menjadi ruang refleksi mendalam atas besarnya ketergantungan manusia terhadap kelestarian alam.
Alfred Salindeho menegaskan bahwa air pada hakikatnya merupakan anugerah murni sekaligus milik Pencipta yang harus dijaga dan dimohonkan pemulihannya.
Ia menyampaikan bahwa kerja keras dan berbagai manipulasi teknis yang dilakukan tim di lapangan tetap harus berjalan seiring dengan permohonan restu dari Tuhan Yang Maha Esa.
”Sebab kita tahu bahwa air adalah milik Tuhan. Jadi dalam kondisi kemarau saat ini, tentu sebagai umat yang percaya kita wajib memanjatkan doa,”
ujar Alfred di lokasi kegiatan, Rabu (06/10).
Alfred menambahkan bahwa penurunan volume air di Danowudu secara langsung menjadi perhatian dan prioritas penanganan paling serius bagi jajaran direksi saat ini.
Pihak Perumda kini terus bersiaga menjaga ketahanan pasokan air sembari terus memantau pergerakan debit air Danowudu yang sangat bergantung pada perubahan cuaca akibat ancaman El Nino.
Melalui kombinasi upaya teknis dan pemanjatan doa tersebut, Perumda Air Minum Duasudara berharap agar iklim segera membaik sehingga krisis air bersih di Kota Bitung dapat segera teratasi. (kiti)











