REDELONG | TribuneIndonesia.com – Kabar besar datang dari kawasan Enang-Enang, Kabupaten Bener Meriah. Setelah bertahun-tahun menjadi salah satu titik rawan kecelakaan sekaligus persoalan serius konektivitas lintas tengah Aceh, pembangunan Jembatan Layang Enang-Enang disebut segera memasuki tahap pelaksanaan.
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) II Aceh, H. Ruslan M. Daud (HRD), memastikan rencana pembangunan jembatan layang tersebut terus dikawal hingga terealisasi. Hal itu disampaikan HRD saat ditemui awak media di Bener Meriah, Minggu (27/9/2026).
Menurut Ruslan, pembangunan Jembatan Layang Enang-Enang masuk dalam proyek prioritas nasional yang direncanakan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2027.
Nilai anggaran yang disebut mencapai Rp800 miliar.
“Jembatan ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat di Dataran Tinggi Gayo,” ujar Ruslan.
Bukan Sekadar Jembatan, Tapi Jalan Keluar dari Krisis Akses
Pembangunan jembatan tersebut dinilai memiliki arti strategis bagi masyarakat Bener Meriah dan wilayah tengah Aceh.
Kawasan Enang-Enang selama ini menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan kawasan Dataran Tinggi Gayo dengan wilayah pesisir Aceh. Jalur tersebut juga menjadi akses distribusi berbagai hasil pertanian masyarakat, termasuk komoditas kopi Gayo dan palawija.
Persoalan Enang-Enang semakin mendapat perhatian setelah bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025 menyebabkan kerusakan serius terhadap sejumlah infrastruktur di wilayah tersebut.
Bahkan, pemerintah sebelumnya telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan, mulai dari penguatan struktur jembatan yang ada hingga pembangunan jalur alternatif Wer Lah–Simpang Lancang. Pemerintah juga merencanakan jembatan bentang panjang sekitar 300 meter sebagai solusi permanen jangka panjang.
Karena itu, pembangunan jembatan layang Enang-Enang bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Proyek tersebut diharapkan menjadi jawaban terhadap persoalan keselamatan, kelancaran transportasi sekaligus konektivitas ekonomi masyarakat.
Sempat Tertunda, Kini Kembali Dikawal
Ruslan mengatakan, usulan pembangunan Jembatan Layang Enang-Enang telah diperjuangkan sejak lama bersama Pemerintah Kabupaten Bener Meriah.
Namun, prosesnya sempat mengalami penundaan dan peninjauan ulang.
Sebelumnya, pemerintah memang melakukan evaluasi terhadap desain pembangunan karena kebutuhan anggaran yang besar. Pada 2025, HRD juga pernah menyampaikan bahwa desain pembangunan perlu ditinjau kembali agar lebih efisien.
Kini, kata Ruslan, perjuangan tersebut terus dikawal hingga mendapatkan dukungan anggaran pemerintah pusat.
“Meski sempat tertunda, kami bersama jajaran PKB terus mengawal pengusulan ini sampai akhirnya mendapat tindak lanjut,” katanya.
Jalan Nasional Bener Meriah Ikut Dipoles
Tidak hanya Jembatan Layang Enang-Enang. Sejumlah infrastruktur jalan nasional di Kabupaten Bener Meriah juga masuk dalam perhatian pemerintah pusat.
Di antaranya ruas Jalan Uwer Lah serta sejumlah jembatan yang saat ini disebut telah memasuki proses tender di tingkat pusat.
Ruslan meminta masyarakat memberikan dukungan terhadap berbagai program pemulihan infrastruktur tersebut.
Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Bener Meriah untuk lebih aktif melakukan komunikasi dan “jemput bola” ke pemerintah pusat.
Menurutnya, keterbatasan kemampuan APBD membuat pemerintah daerah membutuhkan dukungan anggaran pusat untuk menangani proyek-proyek infrastruktur berskala besar.
Rencana pembangunan Jembatan Layang Enang-Enang juga mendapat apresiasi dari Wakil Ketua DPRK Bener Meriah, Guntur.
Ia menyampaikan terima kasih atas perjuangan Ruslan M. Daud dalam mengawal aspirasi masyarakat melalui Badan Anggaran (Banggar) DPR RI.
“Kami berharap pembangunan Jembatan Layang Enang-Enang ini dapat menekan risiko kecelakaan sekaligus mempermudah mobilisasi hasil bumi Dataran Tinggi Gayo ke luar daerah,” kata Guntur politisi partai PKB.
Harapan tersebut menjadi penting mengingat kawasan Enang-Enang selama ini dikenal sebagai salah satu titik yang membutuhkan penanganan serius. Pemerintah sebelumnya juga telah menempatkan keselamatan pengguna jalan sebagai salah satu alasan utama pembangunan solusi permanen di kawasan tersebut.
Masyarakat Kini Menunggu Bukti
Dengan rencana pembangunan yang disebut masuk APBN 2027, perhatian masyarakat kini tertuju pada tahapan berikutnya: kapan tender dilakukan, kapan pekerjaan fisik dimulai dan kapan jembatan tersebut benar-benar dapat digunakan.
Sebab, bagi masyarakat Dataran Tinggi Gayo, Enang-Enang bukan hanya persoalan konstruksi.
Di balik tikungan dan jalur yang selama ini menjadi perhatian, terdapat aktivitas ekonomi ribuan masyarakat yang bergantung pada kelancaran akses transportasi.
Jika pembangunan benar-benar terealisasi, jembatan layang tersebut diharapkan tidak hanya mengurai persoalan keselamatan dan kemacetan, tetapi juga mempercepat arus barang, memperkuat konektivitas antardaerah dan membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Gayo.
Sementara itu, kunjungan HRD ke Bener Meriah dilakukan dalam rangka membuka kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang diinisiasi Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh.
Kini, masyarakat tinggal menunggu satu hal, bukan lagi sekadar janji pembangunan, tetapi kapan Jembatan Layang Enang-Enang benar-benar mulai berdiri. (##)












