Bitung, Sulut | TribuneIndonesia.com –
Upaya memperkuat sistem keselamatan kerja di sektor industri pesisir terus dipacu, Kamis (19/02/26).
Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Bitung berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggelar sosialisasi serta simulasi terpadu penanggulangan api di area PT Sinar Pure Foods International, Jalan Raya Madidir, Kota Bitung..
Kegiatan yang mendapatkan lampu hijau langsung dari Plt Kepala Dinas Damkar Kota Bitung, Forsman Dandel, ini dirancang untuk menguji kesiapan personel perusahaan.
Fokus utama kegiatan tidak hanya pada aspek teori, namun menyasar pada penguasaan teknis di lingkungan pabrik yang memiliki risiko kerja tinggi.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bitung, Vivie Kadeke, dalam paparannya memberikan peringatan keras mengenai posisi geografis perusahaan.
Ia menekankan bahwa kawasan industri Bitung berada dalam zona merah potensi bencana tsunami yang memerlukan kewaspadaan ekstra.
Vivie memperkenalkan konsep penyelamatan “20–20” sebagai pedoman krusial bagi para pekerja.
Ia menjelaskan bahwa jika terjadi gempa bumi kuat selama 20 detik, masyarakat dan karyawan hanya memiliki waktu sekitar 20 menit untuk segera mencapai titik ketinggian minimal 20 meter.
Guna mendukung evakuasi yang efektif, BPBD telah memasang berbagai rambu petunjuk jalur penyelamatan di titik-titik strategis.
Vivie mengingatkan agar fasilitas tersebut dijaga dengan baik karena merupakan penentu hidup dan mati saat krisis terjadi, bukan sekadar hiasan formalitas.
Di sisi lain, Sekretaris Damkar Kota Bitung, Nimrot Polontoh, S.E., didampingi Kabid Pemadaman, Rosita Giasi, S.E, menegaskan bahwa pelatihan ini bukanlah seremoni belaka.
Pihaknya ingin memastikan setiap individu di pabrik memiliki mentalitas yang tenang saat menghadapi percikan api.
Menurut Nimrot, mayoritas kebakaran besar di sektor industri seringkali dipicu oleh kelalaian kecil yang gagal ditangani sejak dini.
Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) hingga sistem hidran menjadi kewajiban mutlak bagi seluruh staf.
Dalam observasi lapangan saat simulasi, tim Damkar sempat menyoroti adanya sejumlah unit APAR yang sedang dalam proses pengisian ulang.
Meski pihak manajemen menyebut kendala tersebut dalam proses administrasi, hal ini menjadi catatan penting mengingat APAR adalah garis pertahanan pertama.
Setelah sesi pemaparan teori tuntas, agenda berlanjut pada praktik lapangan yang melibatkan karyawan, teknisi, hingga personel keamanan.
Di bawah bimbingan instruktur Damkar, para peserta dilatih menjinakkan api menggunakan metode tradisional seperti karung basah hingga penggunaan teknologi pemadam modern.
Manager HRD PT Sinar Pure Foods International, Ir. Lusje Mandolang, menyatakan bahwa aspek keselamatan merupakan prioritas perusahaan.
Pihaknya secara rutin menggelar pelatihan serupa dua kali dalam setahun, baik secara mandiri maupun menggandeng instansi terkait.
Lusje menambahkan bahwa perusahaan telah memiliki tim ahli K3 Kebakaran yang bertugas melakukan inspeksi berkala.
Ia berharap keterampilan yang didapat para karyawan tidak hanya berguna di lingkungan kerja, tetapi juga dapat diterapkan dalam melindungi keluarga di rumah masing-masing.
Meskipun perusahaan mengklaim belum pernah mengalami insiden kebakaran besar selama tiga dekade beroperasi, tantangan nyata tetap ada pada ancaman bencana alam.
Kesiapan struktural dan budaya keselamatan kini sedang diuji untuk benar-benar terinternalisasi dalam sanubari setiap pekerja.
Rangkaian kegiatan ini menjadi pengingat penting bahwa kawasan industri pesisir bukan sekadar ruang produksi, melainkan zona rawan yang memerlukan ketahanan sistem.
Ukuran keberhasilan simulasi ini bukan pada kelancaran acara, melainkan pada ketangguhan nyata saat menghadapi krisis tanpa aba-aba. (Kiti)



















