
TRIBUNEINDONESIA.COM — Setiap kali bulan suci tiba, jutaan umat Islam menjalankan puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Selama belasan jam, tubuh menahan lapar dan dahaga.
Namun di balik ketenangan lahiriah itu, sesungguhnya terjadi aktivitas biologis luar biasa di dalam tubuh—sebuah proses ilmiah yang kini dikenal dengan istilah autofagi.
Istilah ini menjadi perbincangan dunia medis setelah ilmuwan asal Jepang, Yoshinori Ohsumi, meraih Nobel Prize in Physiology or Medicine atas penelitiannya tentang mekanisme daur ulang sel.
Autofagi, yang secara harfiah berarti “memakan diri sendiri”, adalah proses alami tubuh membersihkan dan mendaur ulang komponen sel yang rusak.
Temuan ini membuka mata dunia bahwa saat tubuh berada dalam kondisi minim asupan energi—seperti ketika berpuasa—ia tidak melemah. Justru sebaliknya, tubuh mengaktifkan sistem “pembersihan besar-besaran” yang membantu menjaga kesehatan sel.
Puasa: Antara Ibadah dan Ilmu Pengetahuan
Dalam praktik puasa Ramadhan, umat Islam rata-rata menahan makan dan minum selama 13–14 jam. Dalam rentang waktu tersebut, tubuh mengalami peralihan sumber energi. Setelah cadangan glukosa menipis, tubuh mulai memanfaatkan lemak sebagai bahan bakar. Pada fase inilah autofagi mulai meningkat.
Secara ilmiah, proses ini membantu:
Membersihkan protein rusak dalam sel
Mengurangi penumpukan zat berbahaya
Mendukung regenerasi jaringan
Berpotensi menekan risiko penyakit degeneratif
Artinya, puasa bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga momen “servis alami” bagi tubuh.
Namun penting ditegaskan, manfaat ini tidak otomatis terjadi jika pola makan saat berbuka berlebihan. Autofagi bukanlah pembenaran untuk pola hidup tidak sehat. Ia bekerja optimal ketika diimbangi dengan konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan pengendalian diri.
Momentum Refleksi Kesehatan Umat
Fenomena ini semestinya menjadi refleksi bersama. Selama ini, sebagian orang memandang puasa semata sebagai kewajiban ritual. Padahal, ibadah ini menyimpan dimensi kesehatan yang luar biasa.
Di tengah meningkatnya penyakit metabolik seperti diabetes, obesitas, dan gangguan jantung, pola hidup disiplin yang diajarkan melalui puasa sebenarnya menjadi solusi preventif yang murah dan mudah dijalankan.
Puasa melatih keteraturan waktu makan, membatasi asupan berlebihan, dan menumbuhkan kesadaran terhadap apa yang dikonsumsi. Dalam konteks kesehatan publik, ini adalah pesan yang sangat relevan.
Harmoni Wahyu dan Sains
Sains modern mungkin baru menjelaskan mekanismenya, tetapi nilai puasa telah diajarkan berabad-abad lalu. Di sinilah terlihat harmoni antara ajaran agama dan ilmu pengetahuan.
Ketika manusia berpuasa dengan niat ibadah, tubuhnya secara alami memasuki fase perbaikan. Seolah-olah, dalam sunyi perut yang kosong, ada orkestrasi biologis yang bekerja menata ulang kehidupan sel demi sel.
Puasa mengajarkan bahwa jeda bukanlah kelemahan. Dalam berhenti sejenak dari konsumsi, tubuh menemukan kesempatan untuk membersihkan dan memperbarui diri.
Puasa adalah bukti bahwa disiplin spiritual dapat berdampak pada kesehatan fisik. Autofagi menjadi penjelasan ilmiah atas hikmah yang telah lama diyakini.
Kini pertanyaannya, apakah kita akan menjadikan puasa hanya sebagai rutinitas tahunan, atau sebagai momentum perubahan gaya hidup yang lebih sehat?
Karena sejatinya, ibadah yang dijalankan dengan kesadaran bukan hanya menguatkan jiwa—tetapi juga meregenerasi tubuh dari dalam.***









