Puasa dan Autofagi: Ibadah Spiritual yang Diam-Diam Meregenerasi Sel Tubuh

- Editor

Senin, 16 Februari 2026 - 13:41

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TRIBUNEINDONESIA.COM — Setiap kali bulan suci tiba, jutaan umat Islam menjalankan puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Selama belasan jam, tubuh menahan lapar dan dahaga.

Namun di balik ketenangan lahiriah itu, sesungguhnya terjadi aktivitas biologis luar biasa di dalam tubuh—sebuah proses ilmiah yang kini dikenal dengan istilah autofagi.

Istilah ini menjadi perbincangan dunia medis setelah ilmuwan asal Jepang, Yoshinori Ohsumi, meraih Nobel Prize in Physiology or Medicine atas penelitiannya tentang mekanisme daur ulang sel.

Autofagi, yang secara harfiah berarti “memakan diri sendiri”, adalah proses alami tubuh membersihkan dan mendaur ulang komponen sel yang rusak.

Temuan ini membuka mata dunia bahwa saat tubuh berada dalam kondisi minim asupan energi—seperti ketika berpuasa—ia tidak melemah. Justru sebaliknya, tubuh mengaktifkan sistem “pembersihan besar-besaran” yang membantu menjaga kesehatan sel.
Puasa: Antara Ibadah dan Ilmu Pengetahuan
Dalam praktik puasa Ramadhan, umat Islam rata-rata menahan makan dan minum selama 13–14 jam. Dalam rentang waktu tersebut, tubuh mengalami peralihan sumber energi. Setelah cadangan glukosa menipis, tubuh mulai memanfaatkan lemak sebagai bahan bakar. Pada fase inilah autofagi mulai meningkat.

Secara ilmiah, proses ini membantu:
Membersihkan protein rusak dalam sel
Mengurangi penumpukan zat berbahaya
Mendukung regenerasi jaringan
Berpotensi menekan risiko penyakit degeneratif
Artinya, puasa bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga momen “servis alami” bagi tubuh.

Namun penting ditegaskan, manfaat ini tidak otomatis terjadi jika pola makan saat berbuka berlebihan. Autofagi bukanlah pembenaran untuk pola hidup tidak sehat. Ia bekerja optimal ketika diimbangi dengan konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan pengendalian diri.

Baca Juga:  Sakit Gigi, Sakit “Murahan” yang Bisa Bikin Hidup Berantakan

Momentum Refleksi Kesehatan Umat
Fenomena ini semestinya menjadi refleksi bersama. Selama ini, sebagian orang memandang puasa semata sebagai kewajiban ritual. Padahal, ibadah ini menyimpan dimensi kesehatan yang luar biasa.

Di tengah meningkatnya penyakit metabolik seperti diabetes, obesitas, dan gangguan jantung, pola hidup disiplin yang diajarkan melalui puasa sebenarnya menjadi solusi preventif yang murah dan mudah dijalankan.
Puasa melatih keteraturan waktu makan, membatasi asupan berlebihan, dan menumbuhkan kesadaran terhadap apa yang dikonsumsi. Dalam konteks kesehatan publik, ini adalah pesan yang sangat relevan.

Harmoni Wahyu dan Sains
Sains modern mungkin baru menjelaskan mekanismenya, tetapi nilai puasa telah diajarkan berabad-abad lalu. Di sinilah terlihat harmoni antara ajaran agama dan ilmu pengetahuan.

Ketika manusia berpuasa dengan niat ibadah, tubuhnya secara alami memasuki fase perbaikan. Seolah-olah, dalam sunyi perut yang kosong, ada orkestrasi biologis yang bekerja menata ulang kehidupan sel demi sel.

Puasa mengajarkan bahwa jeda bukanlah kelemahan. Dalam berhenti sejenak dari konsumsi, tubuh menemukan kesempatan untuk membersihkan dan memperbarui diri.

Puasa adalah bukti bahwa disiplin spiritual dapat berdampak pada kesehatan fisik. Autofagi menjadi penjelasan ilmiah atas hikmah yang telah lama diyakini.

Kini pertanyaannya, apakah kita akan menjadikan puasa hanya sebagai rutinitas tahunan, atau sebagai momentum perubahan gaya hidup yang lebih sehat?

Karena sejatinya, ibadah yang dijalankan dengan kesadaran bukan hanya menguatkan jiwa—tetapi juga meregenerasi tubuh dari dalam.***

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Mengemuka, Tersangka Tak Kunjung Ada: Ketua LKGSAI Saidul Angkat Bicara
Angkat Bicara, Anggota LSM KPK RI Saidul Amran: “Kalau Dugaan Penyimpangan Terus Bermunculan Tapi Tak Ada Respons, Publik Berhak Curiga Ada yang Salah”
Jadup Bukan Sulap: Jangan Politisasi Perjuangan, Beri Kesempatan Jeffry Sentana Bekerja
Negara ikut Melegalkan Korupsi melalui Metode Tender Epurchasing, Ekatalog untuk Pengadaan Barang dan Mini Kompetisi untuk pekerjaan Konstruksi.
 HIDUP KITA DITENTUKAN OLEH PERKATAAN TUHAN, BUKAN OLEH PERKATAAN MANUSIA 
Lebih Baik Seperti Anjing Gila daripada Seperti Anjing Mati
Arief Martha Rahadyan: Demokrasi Sehat Bertumpu pada Pers yang Berintegritas
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:39

​AKBP Albert Zai Turun Lapangan, Semarak Kapolres Cup Bitung Makin Sengit

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:41

Kilas Balik Sejarah: Mengapa 1 Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Islam?

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:07

Tampil Produktif, Penyerang RR FC Daniel Hendatu Raih Top Scorer Youth Kampis Cup 2026

Selasa, 16 Juni 2026 - 03:39

​Lewat Ucapan Selamat 1 Muharram, Pemkot Bitung Gaungkan Jargon “Hijrah untuk Berbenah”

Selasa, 16 Juni 2026 - 01:23

​Hujan Lebat Picu Bencana di Sejumlah Kelurahan, Plt Kalakas BPBD Bitung Turun Lapangan

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:54

​Borong Penghargaan di HKG ke-54 Sulut, TP-PKK Kota Bitung Ukir Prestasi Gemilang

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:29

Khidmat dan Syahdu, Ratusan Jemaah Masjid Al Muttaqien Bitung Sambut Tahun Baru 1 Muharram 1448 H

Senin, 15 Juni 2026 - 13:17

Peringati 1 Muharram 1448 H,Wabup Bireuen Ajak Masyarakat Jadikan Hijrah Momentum Muhasabah Diri

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Deli Serdang Sukses Dukung Pembukaan MTQ Sumut 2026 di Astaka Pancing

Selasa, 16 Jun 2026 - 13:28