Sulut | TribuneIndonesia.com
Sejarah militer Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sosok Letnan Jenderal Ahmad Yunus Mokoginta. Perwira tinggi kelahiran Bolaang Mongondow, 28 April 1921 ini, bukan sekadar prajurit lapangan, melainkan pemikir ulung yang meletakkan fondasi pendidikan bagi perwira modern di tanah air, Senin (12/01/26).
Garis Keturunan dan Awal Perjuangan
Lahir dari keluarga aristokrat, semangat perlawanan Mokoginta nampaknya mengalir dari sang ayah, Abraham Patra Mokoginta.
Sebagai seorang Jogugu (Perdana Menteri), ayahnya diasingkan oleh Belanda ke Jawa karena mendukung gerakan Syarikat Islam.
Kondisi ini membawa Mokoginta muda mencecap pendidikan di AMS B Semarang sebelum akhirnya menempuh jalur militer di Akademi Militer Breda, Bandung, pada tahun 1941.
Peran Krusial di Masa Revolusi
Karier militernya menanjak tajam di tengah pergolakan revolusi. Mokoginta tercatat pernah menjadi ajudan Jenderal Oerip Soemohardjo dan memimpin Polisi Militer Daerah Jawa menggantikan Gatot Soebroto pada medio 1948-1950.
Salah satu momentum bersejarah terjadi pada tahun 1949. Saat transisi kedaulatan dari Belanda, ia dipercaya memegang kendali Teritorial Indonesia Timur.
Dedikasinya dalam menyatukan wilayah Sulawesi dan Maluku menjadi cikal bakal terbentuknya Kodam VII/Wirabuana (sekarang Kodam XIV/Hasanuddin), sebelum akhirnya ia menyerahkan tongkat komando kepada A.E. Kawilarang.
Intelektualitas di Balik Seragam
Mokoginta dikenal sebagai perwira yang sangat peduli pada kualitas SDM TNI. Bersama Kolonel Soewarto, ia mentransformasi Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD/Seskoad) menjadi kawah candradimuka bagi perwira-perwira modern.
Ia juga merupakan tokoh kunci di balik:
- Ketua Tim Panitia Doktrin Angkatan Darat: Merumuskan ideologi pertahanan dalam menghadapi infiltrasi asing.
- Perumus Kurikulum Akmil Magelang: Menyusun standar pendidikan bagi calon pemimpin TNI di masa depan.
Penghormatan dan Akhir Hayat

Atas jasa gerilyanya dalam mempertahankan kemerdekaan, pada 10 November 1958, Presiden Soekarno menyematkan Tanda Jasa Pahlawan kepada Kolonel CPM A.Y. Mokoginta.
Sepanjang hidupnya, ia dianugerahi berbagai bintang kehormatan, mulai dari Bintang Dharma, Bintang Gerilya, hingga Bintang Kartika Eka Paksi Pratama.
Meski di masa senjanya ia terlibat dalam penandatanganan Petisi 50 sebagai bentuk sikap kritisnya terhadap pemerintah, jasa-jasa Mokoginta terhadap negara tetap abadi.
Setelah berjuang melawan penyakit tulang belakang sejak 1982, sang jenderal mengembuskan napas terakhirnya pada 11 Januari 1984.
Kini, jenazahnya bersemayam di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta, meninggalkan warisan pemikiran yang tetap relevan bagi doktrin pertahanan Indonesia saat ini. (*)












