Wakil Ketua DPRK ;Pemkab Bireuen Jangan Zalimi Masyarakat Pascabencana Banjir dan Tanah Longsor

- Editor

Sabtu, 10 Januari 2026 - 01:29

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BIREUEN/Tribuneindonesia.com

Pemerintah Kabupaten Bireuen, Aceh jangan menzalimi masyarakat korban bencana banjir dan tanah longsor yang hingga kini masih tidur dibawah tenda, di meunasah dan lokasi pengungsian lainnya.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua DPRK Bireuen, Surya Dharma SH kepada wartawan, Jumat (9/1/2026), menyahuti para korban banjir dan tanah longsor yang meminta pemerintah segera membangun hunian sementara (huntara) sebelum hunian tetap (huntap) rampung dikerjakan.

Dikatakan Surya Dharma, semua kita mendukung Huntap, tapi seharusnya Pemkab Bireuen memprioritaskan pembangunan Huntara agar masyarakat korban banjir dan tanah longsor, bisa segera menempati tempat yang layak dan aman pasca bencana.

“Pemkab Bireuen jangan memprioritaskan Huntap yang lama proses pembangunannya atau lamban serta belum ada kepastian kapan bisa ditempati korban bencana, sedangkan bulan Ramadhan dan Idul Fitri sudah di depan mata,” sebut Surya.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga pimpinan DPRK Bireuen ini menerangkan, perlu diketahui oleh masyarakat, semua anggarannya bersumber dari APBN bukan APBK. Jadi jangan kita ambil kebijakan yang efeknya adalah terzalimi warga, kita mendorong administrasi saja, jangan kita persulit administrasi tersebut, kalau memang ada yang mudah untuk apa yang sulit.

Seharusnya Pemkab Bireuen terlebih dahulu bermusyawarah dengan masyarakat untuk menentukan pilihannya. Jangan langsung memvonis atau menetapkannya.

Seperti Keuchik dan warga Desa Kapa dan Desa Pante Lhoong Kecamatan Peusangan yang berharap dibangun Huntara sembari menunggu dibangun huntap. Begitu juga keuchik dan warga Desa Salah Sirong Jaya dan Desa Alue Limeng, Kecamatan Jeumpa serta warga Bale Panah Kecamatan Juli, bahkan ada yang sudah siap menyediakan lahan untuk dibangun Huntara.

“Saya sudah berkeliling ke semua lokasi bencana, semua warga minta Huntara, seperti korban bencana di Desa Ulee Jalan Peusangan Selatan, di Desa Ujong Blang dan Babah Suak Kecamatan Kutablang dan seluruh desa lainnya di Bireuen,” sebut Surya.

Baca Juga:  Gus Muhaimin Buka Konferensi Internasional Transformasi Pesantren

Pasti semua korban banjir berbeda-beda permintaannya, ada yang pilih huntara bisa jadi ada yang pilih huntap, bisa dipilah-pilah. Surya Dharna yakin huntap tidak akan berjalan sesuai harapan masyarakat.

“Kita juga merasa curiga ada apa dibalik dugaan pemaksaan pembangunan huntap oleh Pemkab Bireuen, apakah ada dugaan untuk kepentingan proyek pihak tertentu atau ada kepentingan politik, sehingga masyarakat jadi korban dan terzalimi,” cetus Surya.

Anehnya lagi, Pemkab Bireuen juga dituding memaksa masyarakat korban bencana untuk menerima Dana Tunggu Hunian (DTH), sehingga seolah-olah semua masyarakat korban bencana menolak Huntara dengan menerima DTH Rp 600 ribu perbulan yang hanya mencukupi untuk dua karung beras.

Negara sudah menjamin bagi warganya yang menjadi korban bencana dengan membangun Huntara dengan uang negara, jadi jangan lagi kita zalimi mereka dengan memaksakan membangun huntap yang butuh waktu lama.

“Ini pembongon publik, karena keputusan diambil bukan dengan hasil musyawarah dengan masyarakat korban bencana, tapi keputusan sepihak yang diambil Pemkab Bireuen, jangan bohongi dan jangan zalimi masyarakat,” tegas Surya lagi.

Ditambahkannya, sementara yang merasakan tinggal dipengungsian saat ini adalah para bayi, anak-anak, para lansia dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Apakah kita rela membiarkan mereka terus-terusan dibawah tenda.

“Saudara Bupati Bireuen kesampingkan dulu egonya, jangan memberi harapan kepada masyarakat dengan peletakan batu pertama pembangunan huntap, karena belum ada kepastian kapan rampung dikerjakannya,” pungkas Surya. (*)

Berita Terkait

Listrik Jakarta Berulang Kali Padam, IWO Desak Evaluasi Total PLN hingga Pencopotan Dirut
Bupati Bireuen membuka Rakor GTRA Kabupaten Bireuen Tahun 2026
​Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Sampaikan Penghormatan Terakhir kepada Laksma TNI Febri Yakob
Jasa Raharja Perkuat Transformasi Digital dalam Rakor Pembina Samsat 2026 di Semarang
Sosialisasi Penanganan Darurat Bencana Hidrometeorologi Dalam Rangka Bimbingan Teknis Tim Pendataan Rumah Rusak Tahap II Di Kabupaten Bireuen
DPC 212 Rakyat Makmur Sejahtera Kabupaten Tulungagung Prihatin Dengan Adanya Dugaan Pungli
Polsek Matuari Respons Cepat Keluhan Bau Limbah yang Viral di Media Sosial
SMKN 2 Bitung Perketat Keamanan Usai Insiden Penyerangan Siswa di Area Luar Sekolah
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 06:51

Listrik Jakarta Berulang Kali Padam, IWO Desak Evaluasi Total PLN hingga Pencopotan Dirut

Kamis, 23 April 2026 - 05:56

Bupati Bireuen membuka Rakor GTRA Kabupaten Bireuen Tahun 2026

Kamis, 23 April 2026 - 03:38

​Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Sampaikan Penghormatan Terakhir kepada Laksma TNI Febri Yakob

Kamis, 23 April 2026 - 02:21

Sosialisasi Penanganan Darurat Bencana Hidrometeorologi Dalam Rangka Bimbingan Teknis Tim Pendataan Rumah Rusak Tahap II Di Kabupaten Bireuen

Kamis, 23 April 2026 - 02:13

DPC 212 Rakyat Makmur Sejahtera Kabupaten Tulungagung Prihatin Dengan Adanya Dugaan Pungli

Kamis, 23 April 2026 - 01:03

Polsek Matuari Respons Cepat Keluhan Bau Limbah yang Viral di Media Sosial

Rabu, 22 April 2026 - 14:30

SMKN 2 Bitung Perketat Keamanan Usai Insiden Penyerangan Siswa di Area Luar Sekolah

Rabu, 22 April 2026 - 06:05

Percepat Kepastian Hukum, Pemkot Bitung Dorong Sertifikasi Tanah Melalui Program PTSL

Berita Terbaru