Jawa Timur|Tribuneindonesia.com
Babat Lamongan – Pulau Sumba, salah satu permata tersembunyi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia, menawarkan keindahan alam dan kekayaan budaya yang tak terlupakan. Berlokasi di sebelah barat daya Pulau Flores dan barat laut Pulau Timor, pulau ini merupakan salah satu destinasi wisata yang paling menarik di Indonesia.
Dengan luas wilayah yang bervariasi antara 10.914 km² hingga 11.243,78 km², Pulau Sumba dibagi menjadi empat kabupaten: Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Keindahan alam pulau ini meliputi lanskap sabana yang luas, pantai yang indah, dan situs megalitikum yang kaya akan sejarah.
Pulau Sumba juga terkenal dengan kearifan budayanya, termasuk tenun ikat yang khas dan tradisi Marapu yang masih dipelihara hingga saat ini. Sistem stratifikasi sosial yang unik juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Sumba, dengan dua kasta utama yaitu Maramba (kaum bangsawan atau tuan tanah) dan Ata (kaum hamba atau pelayan). Jum’at (09/01/2026).
Namun, perlu diingat bahwa sistem kasta ini memiliki sejarah yang kompleks dan telah mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Meskipun Indonesia telah melarang perbudakan, warisan sistem kasta ini masih memengaruhi dinamika sosial di beberapa wilayah Sumba hingga saat ini.
Dalam konteks kearifan budaya nusantara, Pulau Sumba menawarkan banyak pelajaran tentang pentingnya menjaga tradisi dan menghormati perbedaan. Tenun ikat Sumba, misalnya, bukan hanya sekadar kain, tetapi juga merupakan simbol identitas dan kebanggaan masyarakat lokal.
Dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, Pulau Sumba menjadi destinasi wisata yang sangat populer di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara. Pemerintah dan masyarakat Sumba terus berupaya meningkatkan kualitas dan fasilitas wisata untuk memberikan pengalaman terbaik bagi pengunjung.
Dalam upaya melestarikan kearifan budaya nusantara, Pulau Sumba menjadi contoh yang baik tentang bagaimana tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan. Dengan demikian, kita dapat menjaga kekayaan budaya dan alam Indonesia untuk generasi yang akan datang.
Oleh: Koningh Anwar















