
Takengon – Jalan licin, tanjakan terjal, dan lumpur tebal tak menyurutkan langkah personel Polres Aceh Tengah. Di tengah dampak banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Kecamatan Bintang, polisi memastikan bantuan kemanusiaan tetap sampai ke Desa Serule, salah satu daerah yang sempat terisolasi.
Dipimpin Kanit Tipikor Polres Aceh Tengah Bripka Hendri Faisal, tiga personel berangkat dari Mapolres Aceh Tengah sekitar pukul 12.00 WIB menggunakan sepeda motor trail. Mereka membawa bantuan logistik dari Kapolres Aceh Tengah untuk warga yang terdampak bencana.
Perjalanan yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu singkat berubah menjadi perjuangan panjang. Jarak sekitar 46 kilometer dari Kota Takengon harus dilalui selama kurang lebih 11 jam. Rombongan baru tiba di Desa Serule sekitar pukul 23.30 WIB.
“Medannya sangat berat. Banyak titik jalan tertutup lumpur dan material longsor, bahkan ada akses antar desa yang putus total. Kendaraan roda empat tidak bisa melintas,” ujar Bripka Hendri Faisal. Rabu (31/12/2025)
Curah hujan yang masih tinggi membuat kondisi jalan semakin berisiko. Di sejumlah titik, personel harus saling membantu dengan mendorong dan menuntun kendaraan melewati jalur berlumpur dan tanjakan terjal. Hujan dan lumpur membasahi tubuh mereka, namun semangat untuk membantu warga tak pernah surut.
Kedatangan personel Polres Aceh Tengah di Desa Serule disambut haru oleh masyarakat. Warga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepedulian Kapolres Aceh Tengah beserta jajarannya yang tetap hadir meski akses menuju desa sangat terbatas.
Tak hanya bantuan logistik, Kapolres Aceh Tengah AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H., juga menginstruksikan pengiriman layanan kesehatan bagi warga di Desa Konyel, Desa Serule, dan Desa Atu Payung. Layanan tersebut menjadi kebutuhan mendesak karena banyak warga mengalami gangguan kesehatan, sementara akses ke puskesmas dan rumah sakit masih terhambat.
Melalui langkah tersebut, Polres Aceh Tengah menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, terutama dalam situasi darurat dan bencana alam, sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab kemanusiaan.















