BIREUEN/Tribuneindonesia.com
Ratusan jiwa yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Krueng Peusangan kini berada dalam kondisi terancam. Hingga awal November 2026, laju erosi tebing semakin tidak terkendali dan terus menggerus fondasi pemukiman penduduk di dua wilayah utama, yaitu Gampong Pantee Lhong (Kecamatan Peusangan) serta Gampong Kubu dan Pante Baro (Kecamatan Peusangan Siblah Krueng). Pemerintah daerah dinilai lamban dalam merespons ancaman nyata yang dapat menimbulkan korban jiwa ini.
Kondisi di lapangan menunjukkan situasi yang kian mengkhawatirkan akibat fluktuasi debit air dari hulu yang membawa material kayu dan sampah. Karena tidak adanya struktur talud beton atau dinding penahan tanah (sheet pile), tebing sungai rontok dihantam arus deras. Jarak antara bibir sungai dan dinding rumah warga kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja, bahkan sebagian bangunan dapur warga sudah menggantung di atas jurang erosi.
Keuchik Pantee Lhong, Murizal, menegaskan bahwa titik paling kritis berada tepat di tikungan aliran air di bawah proyek jembatan Pantee Lhong yang saat ini sedang dibangun. Lokasi tersebut merupakan pintu masuk utama air yang sebelumnya memicu banjir hidrometeorologi parah pada tahun 2025 lalu. Warga merasa kecewa karena pemerintah dianggap terlalu fokus pada proyek fisik jangka panjang, namun mengabaikan penanganan darurat kebencanaan yang mengancam keselamatan warga setiap jamnya.
Hingga saat ini, warga di bantaran Krueng Peusangan terpaksa mengandalkan kesiapsiagaan mandiri secara swadaya. Tanpa adanya kepastian penanganan tanggul darurat ataupun kepastian evakuasi dari otoritas terkait, ambruknya rumah-rumah warga kini menjadi ancaman yang tinggal menunggu waktu.












