Dalam pernyataannya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa cadangan BBM nasional Indonesia saat ini berada di kisaran 20 hingga 23 hari. Namun, angka tersebut sebenarnya merujuk pada stok operasional BBM yang tersimpan di tangki penyimpanan dan siap disalurkan kepada masyarakat, bukan keseluruhan cadangan minyak bumi yang dimiliki Indonesia di dalam perut bumi.
Kondisi ini terjadi karena kapasitas penyimpanan (storage) BBM nasional masih terbatas, dengan daya tampung maksimal sekitar 25 hari. Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa stok BBM nasional masih berada di atas batas minimal aman, yakni 18 hari, sehingga dinilai masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk menjelang bulan Ramadan dan Idulfitri 2026.
Secara nasional, konsumsi minyak Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi atau lifting minyak domestik hanya berkisar 605 ribu barel per hari. Kondisi tersebut membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk menutup kebutuhan dalam negeri.
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah, pemerintah juga telah memerintahkan penambahan tangki penyimpanan BBM guna memperkuat ketahanan energi nasional. Targetnya, kapasitas cadangan BBM dapat ditingkatkan hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan dalam beberapa waktu ke depan.
Namun, informasi mengenai cadangan BBM yang hanya berada di kisaran 20–23 hari tersebut ternyata menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Sejumlah warga di beberapa daerah di Aceh mulai melakukan pembelian BBM secara berlebihan.
Berdasarkan laporan kontributor 1Kabar, kondisi tersebut mulai terlihat di beberapa wilayah seperti Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Singkil, dan Subulussalam, di mana BBM dilaporkan mulai sulit ditemukan di sejumlah SPBU. Sementara itu di Kota Langsa, Aceh Timur, dan Aceh Tenggara antrean kendaraan di SPBU mulai terlihat dan menjadi pemandangan yang mencolok.
Menanggapi situasi tersebut, Ketua Pro Jurnalis Media Siber (PJS) Provinsi Aceh, Chaidir, meminta pemerintah untuk segera memberikan penjelasan tambahan kepada masyarakat agar tidak terjadi kepanikan yang berlebihan.
Menurut Chaidir, pernyataan yang disampaikan oleh Menteri ESDM seharusnya juga disertai dengan penjelasan yang lebih komprehensif dan jaminan yang kuat kepada masyarakat bahwa pasokan BBM tetap aman dan terkendali.
“Pemerintah perlu segera memberikan klarifikasi yang menenangkan masyarakat. Penyampaian informasi terkait cadangan BBM seharusnya juga dibarengi dengan jaminan ketersediaan pasokan agar tidak menimbulkan kepanikan seperti yang terjadi hari ini,” ujar Chaidir.
Ia menilai, jika tidak segera dijelaskan secara menyeluruh, kekhawatiran masyarakat dapat memicu pembelian berlebihan (panic buying) yang justru berpotensi menimbulkan kelangkaan semu di lapangan.
Chaidir juga berharap pemerintah pusat maupun pihak terkait dapat mengintensifkan komunikasi publik serta memastikan distribusi BBM berjalan lancar di seluruh daerah, sehingga masyarakat tidak lagi dihantui kekhawatiran akan terjadinya krisis energi dalam waktu dekat. (##)


















