BIREUEN/Tribuneindonesia.com
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappeda Kabupaten Bireuen menggelar kajian strategis berskala multiregional. Langkah ini dilakukan untuk merumuskan inovasi model pemulihan pascabencana berbasis kependudukan guna membangun ketahanan sosial-ekonomi masyarakat yang lebih tangguh dan inklusif.
Penelitian lapangan yang berlangsung pada 21–24 Oktober 2026 ini berfokus pada penerapan pendekatan Adaptive Social Protection (ASP) atau perlindungan sosial adaptif. Konsep ini dirancang agar skema bantuan dan pemulihan dapat menyesuaikan secara fleksibel dengan karakteristik bencana, tingkat kerentanan, serta skala dampak yang dihadapi oleh masyarakat penyintas.
Pemulihan Menyeluruh di Luar Infrastruktur Fisik
Kajian ini berangkat dari paradigma bahwa dampak bencana tidak boleh hanya diukur dari kerusakan infrastruktur publik atau bangunan fisik semata. Kehilangan mata pencaharian, penurunan pendapatan, hingga terganggunya akses layanan dasar merupakan rantai dampak sosial-ekonomi yang kerap memperpanjang kerentanan rumah tangga pascabencana.
Melalui pendekatan perlindungan sosial adaptif, pemulihan dirancang secara holistik. Langkah rekonstruksi fisik berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas ekonomi warga dan penyusunan peta jalan (roadmap) perlindungan sosial yang lebih responsif di masa depan.
Kolaborasi Multisektor dan Perspektif Akademis
Dipimpin oleh Dr. Ary Widiyanto, S.Hut., M.Eng., M.P.P., tim peneliti dari Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) serta Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN melibatkan berbagai pemangku kepentingan strategis secara intensif, di antaranya:
• Pemerintah Daerah: Bappeda, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, dan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bireuen.
• Otoritas Lokal: Camat dan Sekretaris Camat Juli, Camat Jangka, serta para Keuchik (Kepala Desa) di wilayah terdampak.
• Akademisi: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Almuslim, yang menerjunkan empat penelitinya untuk memperkaya perspektif akademis dan mempertajam model pemulihan.
Fasilitasi dan pendampingan penuh dari Kabid Litbang Bappeda Bireuen, Muhar Oktiandar, bersama Dian Restu, menjadi kunci kelancaran koordinasi data dan komunikasi lintas sektor selama riset berlangsung.
Mendengar Langsung Suara Penyintas
Guna memastikan rekomendasi kebijakan tidak hanya bertumpu pada perspektif kelembagaan, tim BRIN turun langsung ke Kecamatan Juli dan Kecamatan Jangka. Melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion), observasi lapangan, dan wawancara mendalam, tim menyerap langsung pengalaman, hambatan, serta kebutuhan riil yang dihadapi oleh masyarakat dan para Keuchik di garda terdepan.
Data primer dari suara penyintas ini menjadi pilar penting agar model perlindungan sosial yang dirumuskan mampu menjangkau kelompok yang paling rentan secara tepat sasaran.
Menuju Perencanaan Pembangunan Berbasis Bukti
Sinergi kuat antara lembaga riset nasional, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas lokal ini diharapkan dapat melahirkan kebijakan pembangunan yang berbasis data (evidence-based policy). Hasil akhir dari kajian di Kabupaten Bireuen ini diproyeksikan menjadi rujukan krusial, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, untuk menciptakan sistem mitigasi dan perlindungan sosial yang adaptif, berkelanjutan, dan berorientasi penuh pada kemaslahatan masyarakat.














