Bitung | Tribuneindonesia.com –Suasana hangat menyelimuti Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Bitung Tengah, Kecamatan Maesa, saat keluarga besar Barisan Solidaritas Muslim (BSM) menggelar tradisi Ketupatan, Senin (06/04/26).
Acara yang dikemas dalam bingkai Halal bi Halal ini menjadi magnet bagi warga dan pejabat daerah untuk berkumpul dalam satu meja persaudaraan.
Hadir secara langsung di tengah-tengah masyarakat, Walikota Bitung Hengky Honandar, S.E., memberikan warna tersendiri pada perhelatan tersebut.
Kehadiran orang nomor satu di Bitung ini disambut antusias oleh pengurus BSM dan warga sekitar yang sudah memadati lokasi Markas Komando (Mako) organisasi tersebut.
Momen ini jauh dari kesan formalitas birokrasi yang kaku. Walikota terpantau melebur bersama warga, berjabat tangan tanpa jarak protokoler, serta menikmati perbincangan santai yang mengalir natural.
Pemandangan ini menciptakan atmosfer perjumpaan yang cair antara pemimpin dan rakyatnya.
Dalam sambutannya, Hengky Honandar menyatakan rasa bangga dan apresiasi yang mendalam atas inisiatif BSM.
Baginya, undangan tersebut adalah sebuah kehormatan karena ia dapat memosisikan diri bukan sekadar sebagai pemangku jabatan, melainkan sebagai bagian utuh dari keluarga besar masyarakat Bitung.
”Kegiatan seperti ini adalah ruang krusial untuk mempererat silaturahmi. Kita membangun kebersamaan lintas umat yang menjadi fondasi utama kekuatan Kota Bitung. Harmoni inilah yang harus kita rawat bersama demi masa depan kota,”
ujar Hengky dengan nada optimistis.
Fenomena menarik terlihat saat persiapan acara, di mana warga non-Muslim di sekitar lokasi turut bahu-membahu menyukseskan kegiatan.
Mulai dari urusan dapur hingga penyambutan tamu, kolaborasi lintas keyakinan ini menjadi potret nyata dari semboyan toleransi yang bukan sekadar slogan di Kota Bitung.
Sekretaris Jenderal BSM Kota Bitung, Ustad Rio Efendy, menegaskan bahwa esensi utama dari agenda ini melampaui rutinitas tahunan.
Menurutnya, BSM ingin menyediakan wadah di mana setiap perbedaan identitas dapat dirangkul untuk membangun kekuatan kolektif di tengah kemajemukan sosial.
”Ini adalah tentang bagaimana kita saling merangkul tanpa melihat sekat perbedaan. Kekuatan kita sebagai masyarakat yang heterogen justru terpancar saat kita mampu duduk bersama seperti ini,”
ungkap Ustad Rio saat memberikan keterangan kepada media.
Interaksi yang terjalin selama acara berlangsung sangat humanis, diwarnai dengan tawa ringan dan obrolan mengenai dinamika sehari-hari.
Kehadiran jajaran pejabat pemerintah di meja makan yang sama dengan warga menjadi bukti bahwa komunikasi publik yang efektif dapat dimulai dari meja makan.
Bagi BSM sendiri, ini merupakan penyelenggaraan tahun kedua untuk agenda serupa.
Organisasi ini berkomitmen untuk menjadikan momentum tersebut sebagai agenda tetap yang berfungsi sebagai jembatan penghubung bagi seluruh elemen masyarakat di masa-masa mendatang.
Acara ini ditutup dengan sesi foto bersama dan doa, dihadiri pula oleh sejumlah pejabat penting seperti
Acara ini ditutup dengan sesi foto bersama dan doa, dihadiri pula oleh sejumlah pejabat penting seperti Plt Kaban Kesbangpol Agus Momijo, Plt Dirut Perumda Pasar Ramlan Mangkialo, Camat Maesa Fatmawati, S.STP serta para Lurah dan tokoh masyarakat setempat yang larut dalam kedamaian tradisi Ketupatan. (Kiti)



















