Bitung | TribuneIndonesia.com –Dermaga Satuan Patroli (Satrol) Komando Daerah Maritim (Kodaeral) VIII mendadak riuh oleh kehadiran tamu-tamu mungil berseragam putih-merah, Jumat, (27/02/26).
Puluhan siswa dari SD Katolik Clara Tomohon menyambangi jajaran unsur KRI dan KAL guna melihat dari dekat jantung pertahanan laut Indonesia.
Kunjungan edukatif ini dirancang bukan sekadar tamasya, melainkan upaya mengenalkan wajah kedaulatan maritim kepada generasi millenial sejak dini.
Di atas geladak, mata para siswa tampak berbinar saat menyentuh langsung berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang selama ini hanya mereka lihat di layar kaca.
Tak hanya soal mesin dan senjata, para prajurit Jalesveva Jayamahe juga berbagi cerita mengenai keseharian menjaga batas air nusantara.
Edukasi ini bertujuan memberikan gambaran nyata mengenai peran krusial TNI Angkatan Laut dalam menjamin keamanan perairan Indonesia dari pelbagai ancaman.
Komandan Satrol Kodaeral VIII, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits, E.D., S.E., M.Tr.Hanla., CRMP., menegaskan bahwa keterbukaan pangkalan bagi institusi pendidikan adalah investasi jangka panjang.
Menurutnya, literasi kemaritiman harus dipupuk sebelum anak-anak tersebut tumbuh dewasa agar mereka memahami identitas Indonesia sebagai negara kepulauan.
“Kami ingin menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus memotivasi mereka untuk berani bercita-cita tinggi bagi bangsa,”
ujar Marvill. Suasana interaksi antara prajurit dan siswa berlangsung hangat namun tetap tertib.
Para siswa diajak menyelami filosofi pengabdian di laut, yang diharapkan mampu menyulut semangat kebangsaan dalam sanubari mereka.
Bagi TNI AL, momen ini merupakan medium efektif untuk meruntuhkan sekat antara militer dan warga sipil, sekaligus membangun kedekatan emosional dengan masyarakat di wilayah Sulawesi Utara.
Kegiatan yang berjalan lancar ini menjadi bukti bahwa narasi pertahanan negara bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan.
Dengan melihat langsung kegagahan kapal perang dan dedikasi para pengawaknya, anak-anak dari Tomohon ini diharapkan pulang membawa perspektif baru.
Bahwa di tangan merekalah, masa depan kejayaan bahari Indonesia nantinya akan dititipkan. (Kiti)


















