
Takengon — Sejumlah kepala ruangan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru Takengon mengaku khawatir pelayanan terhadap pasien tidak berjalan maksimal akibat aksi mogok kerja yang dilakukan sebagian tenaga medis di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah tersebut.
Kepada TribuneIndonesia.Com mereka (kepala ruangan rawat inap), mengatakan kondisi pelayanan saat ini sudah jauh dari optimal karena keterbatasan jumlah personel yang bertugas di ruang perawatan.
“Kalau mogok kerja ini terjadi berkepanjangan, jujur saya tidak mampu lagi,” ujarnya, minggu (25/1/2026).
Ia menjelaskan, di ruang rawat inap yang dipimpinnya saat ini hanya tersisa belasan tenaga medis yang harus melayani sejumlah pasien. Kondisi tersebut menyebabkan banyak aktivitas pelayanan tidak dapat dilakukan tepat waktu.
“Kami tetap berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayanan, tetapi kemampuan kami sangat terbatas. Dengan jumlah tenaga medis yang minim dan jumlah pasien yang dirawat, sudah pasti terjadi keterlambatan,” katanya.
Menurutnya, tenaga medis memiliki kewajiban menjalankan berbagai tugas pelayanan di ruang rawat inap, mulai dari pemberian obat, penggantian infus, pemeriksaan tekanan darah, hingga menjalankan instruksi dokter seperti pemeriksaan EKG, rontgen, dan tindakan medis lainnya.
Ia berharap aksi mogok kerja yang dilakukan tenaga medis dapat segera dihentikan demi tanggung jawab pelayanan terhadap pasien yang sedang menjalani perawatan di RSUD Datu Beru.
“Kami berharap rekan-rekan tenaga medis dapat kembali bertugas seperti biasa, karena yang paling terdampak dari kondisi ini adalah pasien,” pungkasnya.













