Jakarta, TribuneIndonesia.com —
Komitmen kemanusiaan Indonesia terhadap Palestina memasuki babak baru yang lebih konkret, Jumat (20/02/26).
Dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian untuk Gaza yang dipimpin langsung Presiden Amerika Serikat, Indonesia hadir di tengah jajaran pemimpin dunia guna merumuskan langkah strategis bagi masa depan wilayah konflik tersebut.
Pertemuan tingkat tinggi ini dipandang sebagai momentum krusial bagi tatanan diplomasi global.
Kehadiran berbagai kepala negara yang tergabung dalam badan internasional tersebut menandai penguatan komitmen kolektif untuk mengakhiri krisis kemanusiaan dan menghadirkan perdamaian yang nyata bagi rakyat Palestina.
Dalam forum resmi tersebut, delegasi Indonesia menegaskan posisi tawar negara yang tetap konsisten berada di garis depan.
Indonesia secara tegas menyuarakan urgensi penghentian kekerasan demi memulihkan stabilitas di kawasan Timur Tengah yang telah lama bergejolak.
Salah satu poin utama yang mencuri perhatian dunia adalah usulan tegas Indonesia mengenai gencatan senjata.
Langkah ini dinilai sebagai prasyarat mutlak sebelum upaya rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah dapat dilakukan secara menyeluruh dan aman bagi warga sipil.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, Indonesia menyatakan kesiapannya untuk mengirimkan 8.000 prajurit terbaiknya.
Personel tersebut nantinya akan bergabung dengan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) guna mengawal proses pembangunan kembali infrastruktur di Gaza yang telah hancur.
Langkah pengiriman pasukan ini bukan sekadar manuver diplomasi di atas kertas.
Bagi Indonesia, kebijakan tersebut merupakan manifestasi dari solidaritas kemanusiaan yang mendalam serta upaya aktif dalam mewujudkan keadilan yang komprehensif bagi bangsa Palestina.
Menutup keterangannya, Indonesia menekankan bahwa misi ini adalah bagian dari tanggung jawab moral untuk menghadirkan perdamaian yang berkelanjutan.
Harapannya, kolaborasi internasional melalui ISF ini mampu menjadi fondasi kuat bagi kedaulatan dan keamanan rakyat Palestina di masa depan. (Talia)


















