TribuneIndonesia.com — Ada pepatah lama yang kerap kita dengar, tetapi jarang benar-benar kita renungkan maknanya: garam dan gula terlihat sama. Keduanya putih, sama-sama halus, sama-sama bisa larut. Namun ketika menyentuh lidah, rasa yang muncul berlawanan. Dalam hidup sosial dan politik bahkan dalam lingkar pertemanan paling intim pepatah itu menemukan relevansinya yang paling getir. Tidak semua yang tersenyum pada kita adalah kawan. Tidak semua tepuk tangan lahir dari ketulusan.
Majalah Tempo kerap mengingatkan bahwa demokrasi, kekuasaan, dan relasi sosial tidak pernah steril dari kepentingan. Hal yang sama berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Di sekitar orang yang mulai bersinar, selalu ada dua jenis manusia: mereka yang ikut terang karena senang melihat cahaya, dan mereka yang berdiri terlalu dekat hanya untuk memastikan kapan bayangan bisa dijatuhkan. Yang terakhir ini sering kali datang dengan wajah ramah, kata-kata manis, dan sikap seolah peduli.
Mereka adalah penonton yang paling keras bertepuk tangan saat kita naik ke panggung. Ironisnya, justru tangan yang sama pula yang siap mendorong ketika kita terpeleset di tepi sorotan. Tepuk tangan itu bukan tanda dukungan, melainkan alat ukur. Seberapa tinggi kita berdiri, seberapa dekat kita pada keberhasilan, dan seberapa besar ancaman yang kita hadirkan bagi rasa aman mereka.
Dalam kehidupan sosial, orang-orang seperti ini pandai memainkan peran. Mereka berbicara tentang empati, solidaritas, dan persahabatan, tetapi di belakang layar mereka mengoleksi cerita tentang kelemahan kita. Bukan untuk membantu, melainkan untuk berjaga-jaga. Informasi, bagi mereka, adalah senjata. Senyum hanyalah kamuflase.
Kemunarikan semacam ini bekerja dengan rapi. Mereka tidak datang dengan wajah antagonis. Justru sebaliknya, mereka tampil sebagai orang yang paling memahami kita. Mereka tahu mimpi-mimpi kita, kegelisahan kita, bahkan luka yang belum sembuh. Semua itu mereka kumpulkan pelan-pelan, seperti penabung yang rajin. Kelak, ketika situasi menguntungkan, tabungan itu bisa ditarik untuk kepentingan mereka sendiri.
Lebih berbahaya lagi, orang-orang munafik ini gemar menguras energi.
Setiap pertemuan terasa melelahkan, setiap percakapan berujung pada penghakiman halus. Mimpi kita disebut terlalu tinggi, langkah kita dianggap terlalu berani, pilihan kita dicibir dengan dalih “demi kebaikanmu”. Mereka menanamkan keraguan bukan dengan teriakan, melainkan dengan bisikan. Efeknya sering kali lebih mematikan.
Pada saat kita membutuhkan mereka ketika sorotan meredup, ketika masalah datang bertubi-tubi mereka menghilang. Tidak ada lagi pesan singkat penuh empati. Tidak ada lagi waktu luang untuk mendengar. Yang tersisa hanyalah kesunyian, dan kesadaran pahit bahwa kepedulian mereka selama ini bersyarat. Selama kita berguna, mereka ada. Ketika kita rapuh, mereka pergi.
Fenomena ini bukan sekadar soal pertemanan personal. Dalam dunia kerja, aktivisme, bahkan birokrasi, pola yang sama berulang. Orang-orang yang mengaku mendukung perubahan sering kali hanya nyaman selama perubahan itu tidak melampaui mereka. Mereka senang melihat orang lain bersinar, tetapi hanya sampai titik tertentu. Begitu cahaya itu lebih terang dari milik mereka, rasa iri mulai bekerja, dan topeng perlahan dipasang.
Mulut mereka manis, penuh pujian dan dukungan verbal. Namun tindakan mereka berkata sebaliknya. Mereka absen ketika kerja keras dibutuhkan, tetapi hadir saat hasil hendak dibagi. Mereka menuntut loyalitas, tetapi enggan menunjukkan komitmen. Dalam relasi seperti ini, kejujuran menjadi korban pertama.
Hati-hati, karena kemunafikan jarang datang dengan tanda peringatan. Ia tidak berisik. Ia tidak frontal. Ia menyelinap melalui kebiasaan sehari-hari, melalui candaan kecil, melalui kritik yang dibungkus kepedulian. Dan sering kali, kita baru menyadarinya ketika luka sudah terlanjur dalam.
Namun, tulisan ini bukan ajakan untuk menjadi paranoid atau menutup diri dari semua orang. Ini adalah pengingat untuk waspada dan dewasa dalam membaca sikap. Ukurlah orang bukan dari kata-katanya, melainkan dari konsistensi tindakannya. Lihat siapa yang tetap tinggal ketika situasi tidak
menguntungkan. Perhatikan siapa yang mendukung tanpa harus selalu terlihat.
Dalam dunia yang gemar memoles citra, keaslian adalah barang langka. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga jarak yang sehat, memilih lingkaran dengan hati-hati, dan tidak menyerahkan seluruh kepercayaan pada mereka yang baru pandai berbicara. Cahaya yang kita miliki seharusnya menerangi jalan, bukan menjadi umpan bagi mereka yang ingin menjatuhkan.
Pada akhirnya, seperti garam dan gula, kita hanya bisa membedakan rasa setelah mencicipi. Tapi belajar dari pengalaman orang lain, dari cerita-cerita yang berulang, setidaknya bisa membuat kita lebih berhati-hati. Senyum tidak selalu berarti kawan. Tepuk tangan tidak selalu berarti dukungan. Dan tidak semua yang mengaku peduli benar-benar ingin melihat kita berdiri tegak sampai akhir.
Penulis : Wak Dir 19 Januari 2026














