Batang Kuis | TribuneIndonesia.com — Suasana hangat penuh cinta dan tawa mewarnai perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa (17/2/2026). Di berbagai sudut kota Batang Kuis , keluarga-keluarga Tionghoa berkumpul, saling berbagi doa, harapan, serta rezeki dalam suasana penuh kebahagiaan.
Lampion merah menggantung di rumah-rumah warga, menerangi malam dengan cahaya harapan. Meja-meja makan dihiasi hidangan khas Imlek, bukan sekadar sebagai simbol kemakmuran, tetapi juga sebagai lambang kebersamaan. Dalam kehangatan itu, orang tua, anak-anak, hingga cucu duduk berdampingan, tertawa, berbagi cerita, dan menguatkan ikatan keluarga.
Perayaan Imlek tahun ini dimaknai sebagai momentum untuk kembali mengingat nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat. Hormat kepada orang tua, rasa syukur atas rezeki yang diterima, serta kebersamaan menjadi pesan utama yang terasa begitu kuat. Bagi banyak keluarga, Imlek bukan soal kemewahan hidangan, melainkan tentang kehadiran, doa tulus, dan kasih sayang yang menyatukan.
Yang terpenting bukan seberapa mewah meja makan kami, tetapi bagaimana kami bisa duduk bersama, saling mendoakan, dan berbagi kebahagiaan,” ujar Acay salah seorang warga di Batang Kuis yang merayakan Imlek bersama keluarganya.
Tak hanya dirayakan secara internal keluarga, semangat Imlek juga terasa di tengah masyarakat lintas budaya. Ucapan selamat, senyum hangat, dan doa kebaikan mengalir dari tetangga dan sahabat. Hal ini mencerminkan kuatnya nilai toleransi dan harmoni di Batang Kuis , di mana perbedaan menjadi kekayaan yang mempererat persaudaraan.
Perayaan Tahun Baru Imlek juga menjadi pengingat bahwa di tengah dinamika kehidupan yang kian cepat, keluarga tetaplah tempat pulang paling hangat. Dari meja makan sederhana hingga jamuan yang meriah, makna Imlek tetap sama.menyalakan kembali cahaya kasih dalam setiap rumah dan setiap jiwa.
Dengan semangat tahun baru, masyarakat berharap cahaya baru menerangi langkah ke depan, membawa kedamaian, kesehatan, dan keberkahan bagi semua. Imlek bukan hanya perayaan pergantian tahun, melainkan perayaan tentang harapan, cinta, dan persaudaraan yang terus hidup di tengah masyarakat.
Ilham Gondrong









