BIREUEN/Tribuneindonesia.com
Sektor perikanan dan kelautan di pesisir Kabupaten Bireuen, Aceh, mendapat suntikan energi baru. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia resmi menyerahkan bantuan 50 unit dapur perebusan garam modern kepada kelompok petambak lokal di Desa Matang Bangka, Kecamatan Jeunieb, Rabu (4/11/2026).
Langkah strategis yang bertepatan dengan Bulan Bakti Kelautan dan Perikanan sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 KKP ini, diproyeksikan menjadi katalis utama dalam mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir.
Lompatan Produktivitas: Dari Tradisional ke Modern
Bantuan teknologi ini terbukti langsung mengubah peta produksi garam di Bireuen. Berdasarkan hasil uji coba di lapangan, fasilitas dapur perebusan baru ini mampu menghasilkan 70 hingga 120 kilogram garam dalam sekali rebus.
Angka ini merupakan lonjakan masif hingga 300 persen jika dibandingkan dengan metode tradisional terdahulu yang hanya mampu meraup 20 sampai 30 kilogram sekali proses.
Kepala Dinas Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DPKP) Bireuen, Ir. M. Jafar, M.M., tidak menyembunyikan rasa syukurnya atas intervensi teknologi dari pemerintah pusat ini.
“Ini adalah inovasi nyata dan berkah besar bagi perekonomian masyarakat pesisir kami. Saat ini sudah ada sekitar 55 unit usaha perebusan garam di kawasan ini, dan kami berharap fasilitas serupa bisa diperluas ke wilayah potensial lainnya,” ungkap Jafar optimistis.
Membidik Takhta Sentra Garam Terbesar di Aceh
Meski produktivitas meningkat tajam, tantangan belum sepenuhnya usai. Para petani garam lokal dilaporkan masih kerap terkendala minimnya pasokan air tua saat musim hujan. Selain itu, beberapa fasilitas meuligoe atau tunnel garam mengalami kerusakan akibat bencana gempa dan banjir beberapa waktu lalu.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan ambisi daerah. DPKP Bireuen menargetkan pemulihan infrastruktur tunnel garam dapat segera dilanjutkan agar target besar daerah bisa tercapai.
“Target kita ke depan sudah jelas. Bireuen tidak hanya ingin bertahan sebagai sentra produksi nomor dua, tetapi siap bertransformasi menjadi sentra produksi garam terbesar di seluruh Provinsi Aceh,” tegas Jafar dengan nada optimistis.
Bupati Mukhlis: Jaga dan Manfaatkan, Jangan Sampai Terbengkalai
Di sisi lain, Bupati Bireuen, Ir. H. Mukhlis, S.T., yang hadir langsung dalam acara penyerahan tersebut memberikan apresiasi tinggi kepada KKP RI atas komitmen berkelanjutannya terhadap masyarakat Bireuen. Kendati demikian, ia juga memberikan catatan penting sekaligus alarm keras bagi para kelompok penerima manfaat.
Mukhlis mengingatkan agar aset negara yang bernilai tinggi ini dirawat dengan manajemen yang baik. Ia menyoroti fenomena klasik di berbagai daerah di mana fasilitas bantuan pemerintah sering kali menjadi terbengkalai setelah seremonial selesai.
“Saya minta seluruh fasilitas ini dijaga keberlangsungannya dan dimanfaatkan secara optimal. Jangan sampai setelah dibangun megah, lalu ditinggalkan begitu saja. Ini adalah modal besar kita untuk bangkit dan mandiri secara ekonomi,” pungkas Bupati Mukhlis tegas.











