Program Banyak, Guru Tertunda — Keadilan Harus Sampai ke Ujung Negeri

- Editor

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 07:02

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BEKASI/Tribuneindonesia.com

Bangsa ini penuh gagasan, penuh program, penuh rencana dari para pemimpin. Namun ketika gagasan itu sampai kepada para pengajar, yang ada justru kesusahan. Kesejahteraan guru tidak pernah benar-benar dipikirkan secara adil — padahal merekalah yang paling terdepan. Sabtu,15 Agustus 2026.

Ambisi itu boleh. Cita-cita membangun peradaban yang maju itu baik dan harus didukung. Tetapi janganlah ambisi itu membuat kita melupakan hal yang paling mendasar: bangunlah kesejahteraan dan gaji guru yang besar. Dan nyatakanlah — ini tidak boleh ditunda, tidak boleh ditawar lagi.

Boleh saja kurikulum dikembangkan, boleh saja masuk bahasa asing — bahasa Perancis, Mandarin, Korea, Vietnam, Rusia, atau apa pun — itu semua boleh. Kita boleh belajar dari bangsa mana pun di dunia. Tetapi jika pengajarnya masih harus mencari tambahan penghasilan hanya untuk makan sehari-hari, lalu apa gunanya semua program itu?

Pengamat sosial Rocky Gerung berkata dengan tegas: “Jangan bangun gedung megah kalau pondasinya retak. Jangan bangun peradaban kalau gurunya masih berjuang makan. Semua program indah di atas kertas itu hanyalah kebohongan negara — kalau yang mendidik generasi ini tidak diberi kehidupan yang layak.”

Dan kita tidak berbicara hanya di kota besar, tidak hanya di Jawa, tidak hanya di pusat kekuasaan. Kita berbicara dari Sabang sampai Merauke. Kita berbicara tentang Indonesia Timur yang wilayahnya begitu luas. Bagaimana keadaan guru di sana? Apakah mereka juga sejahtera? Atau mereka hanya tercatat ada, tetapi kehidupannya belum terangkat?

Baca Juga:  Kakanwil Kemenag Aceh Dr H Zulkifli, M.Pd Minta ASN Harus Sukseskan Ingub Shalat Berjamaah

Janganlah membuat drama. Janganlah membuat panggung kehebatan seolah negeri ini sudah luar biasa dan sudah maju pesat — padahal di baliknya tersembunyi ketidakmampuan untuk membuktikan hal yang paling sederhana: membayar gaji guru yang layak, besar, dan terjamin.

Belajarlah dari Singapura. Walaupun kurikulumnya maju, walaupun mereka menggunakan berbagai bahasa, gurunya disejahterakan dengan penuh. Hati mereka tenang, gaji mereka besar, dan mereka bisa mendidik tanpa harus memikirkan besok makan dari mana. Itulah sebabnya Singapura maju.

Lihatlah Amerika Serikat — negeri yang jauh lebih luas dari Indonesia. Di sana mereka paham: sebelum kurikulum diubah-rubah, sebelum program baru diluncurkan, pastikan dulu pendidiknya berdiri tegak. Kesejahteraan guru adalah syarat mutlak — bukan tambahan, bukan hadiah, bukan janji menjelang hari besar.

Rocky Gerung menambahkan lagi: “Kalau pemimpin lebih sibuk mengubah kurikulum daripada menaikkan gaji guru, berarti dia lebih mencintai tulisan daripada manusia. Dan bangsa yang demikian tidak akan pernah maju — karena ia membangun bayangan, bukan fondasi.”

Maka buktikanlah hari ini. Bukan dengan pidato, bukan dengan rencana di atas kertas, bukan dengan panggung perayaan. Naikkanlah gaji guru, sejahterakanlah mereka dari Sabang sampai Merauke — sampai ke pulau-pulau terluar, sampai ke Indonesia Timur. Buktikanlah bahwa pemimpin negeri ini bijaksana — dan peradaban yang dibangun itu berdiri di atas keadilan, bukan di atas janji yang tertunda.

Berita Terkait

Komisi V DPRA Serahkan Bantuan, Dorong Solusi Hunian bagi Korban Kebakaran
Polres Aceh Tenggara Diminta Panggil dan Periksa Kades Kampung Baru, Terkait Dugaan Korupsi DD Tahun 2025
Eks Kombatan GAM Pidie Tegaskan Perdamaian Harus Dijaga, Masyarakat Diminta Waspadai Provokasi
HRD Dukung Terobosan Presiden Prabowo Hadirkan Infrastruktur Dasar bagi Masyarakat
HUT ke-81 RI, TKN Kompas Nusantara dan KAMADA LMP Sumut Gelar Hiburan Rakyat
21 Tahun MoU Helsinki, Ketua PC IPNU Bireuen Kritik Pemerintah Pusat: Jangan Abaikan Kesepakatan Damai Aceh
Peringati 21 Tahun MoU Helsinki, Kecamatan Jangka Gelar Zikir dan Doa Bersama
Arief Martha Rahadyan dan Harapan Generasi Muda: Dukungan Ujang Supriatin untuk Indonesia yang Lebih Produktif
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 07:02

Program Banyak, Guru Tertunda — Keadilan Harus Sampai ke Ujung Negeri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:57

Komisi V DPRA Serahkan Bantuan, Dorong Solusi Hunian bagi Korban Kebakaran

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:41

Polres Aceh Tenggara Diminta Panggil dan Periksa Kades Kampung Baru, Terkait Dugaan Korupsi DD Tahun 2025

Jumat, 14 Agustus 2026 - 16:55

HRD Dukung Terobosan Presiden Prabowo Hadirkan Infrastruktur Dasar bagi Masyarakat

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:02

HUT ke-81 RI, TKN Kompas Nusantara dan KAMADA LMP Sumut Gelar Hiburan Rakyat

Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:56

21 Tahun MoU Helsinki, Ketua PC IPNU Bireuen Kritik Pemerintah Pusat: Jangan Abaikan Kesepakatan Damai Aceh

Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:16

Peringati 21 Tahun MoU Helsinki, Kecamatan Jangka Gelar Zikir dan Doa Bersama

Jumat, 14 Agustus 2026 - 04:13

Arief Martha Rahadyan dan Harapan Generasi Muda: Dukungan Ujang Supriatin untuk Indonesia yang Lebih Produktif

Berita Terbaru