Bekasi/Tribuneindonesia.com
Sungguh ironis dan menyedihkan melihat kenyataan ini: bangsa dan negeri ini seakan-akan hanya menjadikan pengajar dan guru sebagai komoditas politik. Dipuji di saat-saat tertentu, dijanjikan di saat menjelang pemilihan, lalu dilupakan begitu saja setelah tujuannya tercapai. Padahal yang sesungguhnya dibutuhkan bukan kata-kata manis menjelang pemilu — melainkan kenyataan gaji yang besar, kehidupan yang sejahtera, dan penghormatan yang nyata setiap hari. Kamis 13 Agustus 2026
Terlalu sering kita melihat hal yang sama terulang: Menjelang pergantian kekuasaan, menjelang pemilihan presiden beberapa tahun lagi — tiba-tiba nasib guru menjadi perhatian utama. Janji diucapkan, harapan dikumandangkan, seakan-akan semuanya akan berubah menjadi lebih baik. Namun setelah masa itu berlalu, kembali seperti sedia kala: janji tinggal janji, dan kesejahteraan pendidik tetap tertahan di tempat.
Inilah yang tidak bisa lagi dibohongi atau dibodohi oleh siapa pun:
Masyarakat kita sudah sangat cerdas. Wawasannya sudah luas. Pikirannya sudah terbuka. Mereka tidak hanya mendengar kata-kata — mereka melihat kenyataan. Mereka tahu ke mana arah roda pemerintahan berputar, dan ke mana arah para pemimpin membawa bangsa ini.
Masyarakat sudah paham: kalau perhatian muncul hanya saat menjelang pemilu, itu bukan kasih sayang kepada pendidik — itu hanya kepentingan sesaat untuk memperoleh dukungan. Dan masyarakat tidak lagi mau ditipu dengan permainan yang sama tahun demi tahun.
Marilah kita tidak terlihat seperti pedagang yang hanya sibuk menawarkan barang saat pembeli datang, lalu menghilang setelah transaksi selesai. Memimpin bukan berdagang. Memimpin adalah melayani, adalah konsisten, adalah menepati janji tanpa menunggu saat yang menguntungkan saja.
Lihatlah contoh Malaysia yang begitu hebat:
🇲🇾 Di Malaysia — tidak ada permainan politik terhadap nasib guru. Tidak ada janji manis yang tiba-tiba muncul menjelang pemilihan, lalu hilang kembali setelah pemilu berlalu. Di sana, kesejahteraan pendidik adalah kebijakan yang tetap, konsisten, dan dijalankan setiap tahun — tanpa menunggu musim untuk mencari dukungan suara. Mereka memahami: guru bukan alat politik, melainkan fondasi peradaban. Maka dihormati setiap hari, disejahterakan dengan sistem yang jelas, dan tidak pernah dijadikan barang dagangan menjelang pemilihan.
Marilah kita malu kepada bangsa tetangga itu. Mereka lebih konsisten, lebih jujur, dan lebih tegas dalam menghargai pendidiknya. Bukan karena mereka lebih kaya — tetapi karena mereka lebih memahami: yang membangun peradaban bukan janji di atas kertas, melainkan penghormatan yang nyata dan konsisten kepada para pendidiknya — setiap hari, bukan hanya menjelang pemilu.
Sebagaimana dikatakan pengamat sosial Rocky Gerung dengan tegas:
“Jangan jadikan nasib guru sebagai barang dagangan politik. Dipuji saat butuh suara, dilupakan setelah menang. Itu bukan kepemimpinan — itu penipuan berulang kali. Negara tidak boleh hanya teringat guru saat menjelang pemilu. Negara harus ingat guru setiap hari, karena generasi lahir setiap hari, dan masa depan dibangun setiap hari oleh tangan mereka. Kalau hanya muncul saat butuh dukungan — maka rakyat tahu: yang dicari bukan kemajuan bangsa, melainkan kemenangan sesaat.”
Maka dengarkanlah pesan ini dengan tegas:
Bila peradaban bangsa ini benar-benar ingin maju — JANGAN TUNGGU MENJELANG PEMILU! Jangan hanya mengumumkan anggaran APBN sebagai pemanis kata-kata untuk menyenangkan para pendidik! Lakukanlah tanpa ada kepentingan politik di dalamnya! Buktikanlah dengan kenyataan yang nyata! Tetapkanlah angkanya! Umumkanlah kepada seluruh rakyat dari SABANG sampai MERAUKE!
Naikkanlah gaji guru — seratus kali lipat lebih layak dari yang sekarang!
🇨🇳 Lihatlah Tiongkok — negara yang begitu luas dan berpenduduk terbanyak di dunia, sama seperti Indonesia. Mereka tidak menjadikan guru alat politik. Mereka menetapkan gaji pendidik dengan tegas: gaji pokok guru tidak boleh lebih rendah dari pendapatan rata-rata pegawai negeri, dan dinaikkan secara berkala tanpa menunggu musim pemilu. Tertulis jelas, ditetapkan dengan tegas, dilaksanakan dengan nyata — tanpa janji manis sesaat, tanpa penundaan tahun demi tahun.
Kalau Tiongkok yang begitu luas mampu melakukannya dengan tegas dan jelas — mengapa Indonesia yang kaya raya masih berputar pada janji yang sama tahun demi tahun? Tetapkanlah angkanya, umumkanlah kepada seluruh negeri, dan laksanakanlah SEKARANG.















