Bitung | Tribuneindonesia.com – Suasana duka mendalam menyelimuti masyarakat Kota Bitung, khususnya warga Nusa Utara di Sulawesi Utara, Minggu (02/08/26).
Salah satu tokoh adat tercinta yang amat dihormati, Penatua (Pnt.) Amos Ghama Kakomba, S.Sos., telah menghembuskan napas terakhirnya dan meninggalkan rasa kehilangan yang luar biasa bagi seluruh lapisan masyarakat.
Berita berpulangnya almarhum memicu gelombang simpati yang meluas dari berbagai kalangan.
Banyak pihak mengenang dedikasi tak terhingga serta sumbangsih besar yang telah disumbangkan almarhum semasa hidupnya bagi kemajuan daerah dan kelestarian budaya setempat.
Pemerintah Kota Bitung memberikan penghormatan terakhir secara langsung melalui kehadiran Wali Kota Bitung, Hengky Honandar, S.E.
Wali Kota melayat ke rumah duka almarhum di Kelurahan Kakenturan II, Kecamatan Maesa, pada Sabtu (01/08) malam untuk menyampaikan empati yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan.
Di tengah suasana penuh haru tersebut, Walikota Hengky Honandar menegaskan integritas almarhum sebagai sosok teladan yang konsisten membimbing warga.
Wali Kota menyoroti peran aktif almarhum yang selalu berdiri di barisan terdepan dalam menjaga keharmonisan serta keteladanan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Selain menonjol sebagai tokoh adat Nusa Utara yang karismatik, almarhum juga menanamkan citra pribadi yang sangat bersahaja dan peduli lingkungan sosial.
Hengky berharap nilai-nilai kebaikan dan warisan semangat almarhum dapat terus menginspirasi generasi muda Kota Bitung untuk meneruskan perjuangan tersebut.
Wali Kota Bitung turut memimpin doa bersama di hadapan para pelayat untuk menguatkan keluarga yang ditinggalkan.
Atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Kota Bitung, Hengky menyampaikan ucapan perpisahan yang menyentuh hati serta mendoakan kedamaian abadi bagi almarhum.
Kepergian Pnt. Amos Ghama Kakomba, S.Sos. memang menggoreskan luka duka yang mendalam bagi masyarakat Kota Bitung.
Kendati demikian, jejak rekam pengabdian, jasa, serta keteladanan yang telah almarhum ukir akan terus terpatri abadi dalam memori kolektif warga. (kiti)



















