Pertalite dan Solar Langka di Aceh, TAMPERAK-PEPABRI Soroti Antrean Panjang dan Dugaan Berakhirnya Subsidi BBM

- Editor

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:24

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH TAMIANG | TribuneIndonesia.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar kembali terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Aceh, termasuk Kabupaten Aceh Tamiang. Kondisi tersebut memicu keresahan masyarakat yang harus mengantre panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) demi mendapatkan BBM bersubsidi.

Ketua Tameng Perjuangan Rakyat Anti Korupsi Indonesia (TAMPERAK) yang juga pengurus Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (PEPABRI), Purn TNI Zulsyafri, menyoroti kondisi tersebut dan meminta pemerintah segera mencari solusi agar kebutuhan energi masyarakat tidak terganggu.

Menurut Zulsyafri, kelangkaan Pertalite dan Solar telah menimbulkan berbagai keluhan dari masyarakat, terutama para pelaku usaha kecil, pedagang, buruh harian, dan sopir angkutan yang sangat bergantung pada BBM bersubsidi untuk menjalankan aktivitas ekonomi.

“Kelangkaan BBM ini kembali terjadi dan masyarakat harus mengantre hingga berjam-jam. Ada yang sejak pagi sampai malam masih menunggu, bahkan terkadang pulang tanpa mendapatkan BBM karena stok di SPBU sudah habis,” ungkap Zulsyafri.

Berdasarkan pantauan TAMPERAK dan PEPABRI di lapangan pada Sabtu (11/7/2026), antrean kendaraan terlihat memanjang di sejumlah SPBU di Aceh Tamiang. Kendaraan roda dua maupun roda empat tampak mengular hingga mencapai sekitar 1,5 kilometer.

Meski berada di bawah terik matahari, masyarakat tetap bertahan menunggu giliran. Mereka berharap dapat memperoleh Pertalite dan Solar untuk menunjang kebutuhan sehari-hari serta mencari nafkah.

Salah seorang warga mengaku sudah mengantre sejak pagi hari. Namun hingga siang, dirinya bersama ratusan warga lainnya belum juga mendapatkan BBM.
“Kami sudah dari pukul 06.20 WIB di sini. Sampai sekarang belum juga dapat minyak. Kami ini pedagang, buruh harian, dan sopir yang bergantung pada BBM untuk bekerja. Kalau BBM sulit, pekerjaan kami juga ikut terhambat,” ujar warga.

Baca Juga:  Tekan Angka Kecelakaan, Jasa Raharja Pasang Spanduk Edukasi di Jakarta Utara

Warga mengatakan, membeli BBM eceran bukan menjadi solusi karena selain sulit ditemukan, harganya juga sangat mahal. “Kalau beli eceran, satu botol Aqua bisa mencapai Rp25 ribu. Itu pun belum tentu ada,” keluhnya.

Kelangkaan BBM bersubsidi ini disebut warga bukan pertama kali terjadi. Mereka berharap pemerintah melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi agar BBM subsidi benar-benar tepat sasaran dan tidak menyulitkan masyarakat kecil.
Sejumlah warga juga mempertanyakan apakah kondisi kelangkaan tersebut berkaitan dengan wacana pengurangan atau berakhirnya subsidi BBM jenis Pertalite dan Solar.

“Jangan sampai masyarakat dibuat sulit sehingga perlahan-lahan terpaksa beralih ke Pertamax dan Dexlite. Kalau semua sudah beralih, subsidi bisa hilang dengan sendirinya. Wajar masyarakat menduga seperti itu karena persoalan kelangkaan ini sudah berulang kali terjadi,” ujar warga dengan nada kecewa.

TAMPERAK dan PEPABRI meminta pemerintah pusat maupun daerah memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat terkait penyebab kelangkaan BBM bersubsidi tersebut.

“Pemerintah harus hadir memberikan kepastian. Jangan sampai masyarakat kecil yang menjadi korban akibat persoalan distribusi maupun kebijakan energi,” tegas Zulsyafri.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih berharap adanya langkah cepat dari pemerintah dan pihak terkait agar pasokan Pertalite dan Solar kembali normal serta aktivitas ekonomi warga tidak terus terganggu.

Saya bisa bantu buatkan juga versi lebih tajam/provokatif dengan gaya headline media online atau versi Kompas-style yang lebih berimbang dengan konfirmasi Pertamina dan pemerintah.

Berita Terkait

Cak Imin Sentil Kader PKB: Jangan Terlena Kekuasaan, Kuasai Media Sosial dan Hadir untuk Rakyat
Hampir Sepekan Berpolemik, Nasib Dokter Laura di RSUD Raja Ampat Temukan Titik Terang
Tragedi Senin Pagi di Gayo Lues: 22 Rumah, Mushala, dan Balai Adat Ludes Terbakar
Laporan Hotline Kapolda Sumut Berujung Penangkapan, Enam Paket Diduga Sabu Diamankan di Sidodadi
Ruko Toko Roti Rida di Batu Bara Ludes Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Korsleting
Bank Aceh Dorong Perluasan Ekosistem Pembayaran Digital, Merchant QRIS Tembus 25.748
KAL Patola VIII-27 Dikerahkan dalam Operasi SAR Kapal MT Mika Zain Terbakar di Perairan Bitung
Destinasi Wisata Kota Batu Kecamatan Simtim Kabupaten Simeulue Dipadati Wisatawan Lokal Saat Hari Reha
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:06

25 Bangunan Terbakar di Telege Jernih, 23 Kepala Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal

Senin, 2 November 2026 - 15:18

Melayani Sepenuh Hati, Hutama Karya Ajak Pengguna Jalan Jaga Kebersihan Rest Area demi Kenyamanan Bersama

Senin, 2 November 2026 - 10:44

Hampir Sepekan Berpolemik, Nasib Dokter Laura di RSUD Raja Ampat Temukan Titik Terang

Senin, 2 November 2026 - 10:13

Tragedi Senin Pagi di Gayo Lues: 22 Rumah, Mushala, dan Balai Adat Ludes Terbakar

Senin, 2 November 2026 - 06:54

Gotong Royong Rampung, Jalan Darurat Natam-Darul Hasanah Kembali Bisa Dilalui Kendaraan

Senin, 2 November 2026 - 03:20

Bukan Sekadar Tilang, Polres Bireuen Ajak Warga Jadi Pelopor Keselamatan Lewat Operasi Patuh Seulawah 2026

Senin, 2 November 2026 - 02:07

Kapolres Bireuen Ajak Siswa SMAN 1 Bireuen Jadi Pelopor Kamtibmas dan Keselamatan Berlalu Lintas

Senin, 2 November 2026 - 00:50

Kawal Hak Sipil Warga Keturunan Filipina, Korlap Sartika Manuel Apresiasi Langkah Kemenkumham dan Pemkot Bitung

Berita Terbaru