Bitung | Tribuneindonesia.com – Kehadiran TNI Angkatan Laut di wilayah perbatasan tidak melulu soal unjuk kekuatan militer dan penjagaan kedaulatan, Jumat (05/06/26).
Melalui kedatangan KRI SELAR-879, korps baju putih ini membuktikan bahwa mereka juga mampu tampil sebagai pengayom yang dekat dengan masyarakat pesisir.
Komitmen kemanusiaan tersebut ditunjukkan di sela-sela mengemban misi Operasi Siaga Purla (Waspada Jaladhi-26) di bawah kendali Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada II.
Saat bersandar di Dermaga Pelabuhan Umum Tahuna, Sulawesi Utara, pada Kamis (4/6), kapal perang tersebut menjadi pusat aksi kepedulian.
Para prajurit KRI SELAR-879 langsung bergerak membagikan paket sembako yang menyasar para nelayan lokal serta warga yang tinggal di sekitar kawasan pelabuhan.
Agenda bakti sosial ini dipimpin langsung oleh Komandan Guspurla Koarmada II, Laksamana Pertama TNI Endra Hartono, S.H., M.Man.
Langkah nyata ini diambil sebagai bentuk kepedulian demi meringankan beban ekonomi sekaligus membantu mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat setempat.
Selain misi bantuan logistik, aksi humanis di tapal batas ini dirancang untuk mempererat ikatan emosional dan kemitraan strategis antara TNI AL dengan komunitas maritim.
Bagi institusi tersebut, menjaga laut Nusantara harus berjalan beriringan dengan menjaga kesejahteraan warganya.
Aksi simpatik di pelabuhan utara Sulawesi ini pun memantik respons positif dari jajaran komando atas.
Dukungan penuh mengalir dari Komandan Satrol Kodaeral VIII, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits E.D., S.E., M.Tr.Hanla., CRMP.
Menurutnya, inisiatif tersebut merupakan manifestasi konkret dari fungsi TNI AL yang tidak terbatas pada aspek sekuriti laut, melainkan juga harus membawa dampak sosial yang maslahat bagi warga pesisir.
Melalui sinergi operasi militer dan bakti sosial ini, TNI AL menegaskan kembali jati dirinya sebagai garda pertahanan yang humanis.
Di tengah ketatnya patroli pengamanan perairan Indonesia, kedatangan KRI SELAR-879 di Tahuna menjadi bukti otentik bahwa kedaulatan negara yang kokoh selalu berakar pada kemanunggalan yang kuat antara prajurit dan rakyat. (kiti)














